Kegalauan 11 September

Dari mana aku akan memulai? Dan ke mana? Sedangkan di sini aku melihat tubuh Islam yang terbungkus dan terikat... Manakah lukanya yang paling parah, manakah pendarahannya yang paling deras, manakah di antara semua itu yang paling mengerikan, agar aku bahas dulu, sebelum yang lain? Pada mulanya, para pembaca budiman, sejak sekitar lima puluh tahun ini, hatiku sungguh terkoyak menyaksikan derita yang dialami umat manusia. Aku menangis menyaksikan kematian demi kematian, kezaliman demi kezaliman, dan kelaparan demi kelaparan yang terjadi akibat tindakan semena-mena para tiran. Dan pecahlah kemarahanku, ketika mengetahui bahwa semua tindak semena-mena itu bukan saja diakibatkan oleh sifat lalim para tirani, tapi karena sikap masa bodoh orang-orang yang dizalimi juga.

Advertisements

Kidung Pengampun

Mulut malam belum menganga benar, saat kampung Cisegok dikejutkan oleh serak adzan dari surau pak Mahmud. Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan adzan itu. Orang yang mengumandangkannya tetap sama: pak Mahmud yang renta. Urutan kata-katanya pun tak ada yang beda. Namun, yang membuat geger para warga adalah nadanya. Adzannya menggunakan nada lagu Begadang, Rhoma Irama! Mungkin untuk kali pertama, kejadian ini dapat dimaklumi. Apalagi yang adzan sudah tua. Namun, hal ini telah terjadi tiga hari berturut-turut. Hampir setiap datangnya waktu shalat, pak Mahmud adzan dengan nada Begadang. Para warga keluar dari rumahnya masing-masing. Mereka geram dengan tingkah pak Mahmud. Kaum lelakinya turun ke jalan. Memenuhi gang-gang kampung Cisegok. Beriringan satu tujuan, surau pak Mahmud.

Buah Kejujuran

Kedua kelompok perampok tersebut lantas melapor pada ketua mereka. Sang ketua memerintahkan anak buahnya memeriksa apa yang diucapkan Abdul Qadir. Dan, mereka benar-benar menemukan uang empat puluh dinar tersimpan di dalam sarung pedang di bawah lengan. Ketua perampok terheran-heran melihat kejujuran dan ketidaktakutan Abdul Qadir.

Identifikasi Kebenaran

Ternyata, tidak mudah menilai kebenaran. Dalam kasus Charlie Chaplin, para juri, bahkan adik kandungnya sendiri, telah gagal mengidentifikasi keaslian. Bahkan lebih parah lagi, para juri telah memilih seseorang yang secara subyektif dianggap lebih dekat dengan sosok yang asli.