Barkhu Meminta Hujan

(Sumber: Imam Ahmad Ibnu Nizar, “Nabi Sulaiman dan Burung Hudhud”, Yogyakarta: DIVA Press, Cet. I, Mei 2009, hal. 249-252)

Ketika Bani Israel dilanda kemarau dalam jangka tujuh tahun, mereka berbondong-bondong kepada Nabi Musa agar sudi memohonkan hujan. Maka, keluarlah beliau bersama kaumnya menuju sebuah tempat lapang untuk memanjatkan doa yang dimaksud. Namun, ketika di perjalanan, beliau mendapatkan wahyu:

“Bagaimana Aku akan memperkenankan doa kalian yang bergelimang dengan berbagai dosa, sehingga hati kalian begitu gelap. Kalian berdoa tanpa sebuah keyakinan, malah sikap kalian seakan tidak takut lagi dengan berbagai siksa-Ku. Untuk itu, kembalilah kalian. Carilah seorang hamba-Ku yang bernama Barkhu. Suruhlah ia keluar untuk memohon hujan, Aku akan segera memperkenankannya!” begitu bunyi wahyu tersebut.

Nabi Musa as segera menyebarkan informasi untuk menemukan orang tersebut, namun sampai beberapa lama belum ditemukan juga. Dan, pada suatu hari, ketika Nabi Musa sedang berjalan, beliau tiba-tiba saja bertemu dengan orang hitam yang keningnya masih berdebu bekas melakukan sujud. Ia memakai kain yang diikatkan begitu saja di lehernya. Nabi Musa langsung bisa mengenalinya dengan bantuan bisikan Allah. Lantas, beliau mengucapkan salam.

“Siapa nama Anda?” begitu Nabi Musa membuka sebuah dialog.

“Namaku sangat singkat, Barkhu,” sahut orang hitam itu.

“Anda telah beberapa lama aku cari untuk memohonkan hujan bagi Bani Israel yang selama ini kekeringan. Untuk itu, kau segera aku minta memanjatkan doa sekarang juga,” begitu pinta Nabi Musa.

Segera saja, Barkhu menjauh dari Nabi Musa, kemudian menengadahkan kedua tangannya seraya berdoa, “Ya Allah, ketiadaan hujan ini tidaklah pantas jika dinisbatkan kepada perbuatanmu, tidak pula pantas jika disebutkan sebagai kemurahan-Mu. Adakah mata air-Mu telah kering, atau kini angin selalu membangkang memperturutkan perintah-Mu. Atau, apakah memang telah habis simpanan rezeki yang berada di samping-Mu, atau sekarang ini murka-Mu telah begitu memuncak terhadap mereka yang selalu berbuat durhaka. Bukankah Engkau begitu Pemberi ampun sebelum Engkau menciptakan mereka yang berlaku salah itu. Engkau telah menciptakan rahmat dan belas kasih, dan Engkau sendiri telah memerintahkan untuk selalu bersikap belas kasih. Atau, Engkau memang sengaja memperlihatkan kepada kami mengenai keengganan-Mu itu. Atau, Engkau sendiri yang takut jika saja kehilangan belas kasih, sehingga segera mengirimkan siksaan?”

Sejenak kemudian, awan segera beriringan dan kilat bersahutan, kemudian turun hujan begitu lebatnya, sehingga Bani Israel basah kuyup karenanya. Seketika itu juga, Allah menumbuhkan rerumputan begitu lebat, sehingga mencapai lutut.

Setelah mengetahui keberhasilan permohonannya ini, Barkhu segera beranjak untuk menemui Nabi Musa.

“Bagaimana doa yang aku panjatkan tadi, wahai Nabi Musa? Ketika itu aku memberanikan diri untuk mengungkit-ungkit Allah dan mencerca-Nya,” begitu kata Barkhu kepada Nabi Musa.

Mendengar perkataan Barkhu yang tampak kurang ajar ini, hampir-hampir saja Nabi Musa meninju mukanya. Namun segera saja beliau menerima wahyu.

“Biarkanlah Barkhu, wahai Musa. Ia setiap hari memang sering membuat-Ku tertawa sampai tiga kali.”

*****
“Pada umatku akan ada suatu kaum yang rambutnya tampak kusut, pakaiannya pun dekil, namun jika saja bersumpah kepada Allah, Dia akan segera memperkenankannya.”
(HR Ibnu Abid Dunya dalam Kitab Auliya’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s