The Great of Two Umars

26 Februari 2015
(Sumber: buku.enggar.net)

The Great of Two UmarsJudul: The Great of Two Umars
Penulis: Fuad Abdurrahman
Penerbit: Zaman
Tebal: 346

Buku ini berkisah tentang dua khalifah paling legendaris, yaitu Umar ibn Al-Khathab dan Umar ibn Abdul Aziz. Bagaimana sosok mereka sebagai pribadi dan khalifah sesudahnya dikisahkan dengan sangat menarik di dalam buku ini.

1. Umar ibn Al-Khathab
Doa Rasulullah, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang laki-laki yang paling Engkau cintai di antara keduanya: Umar ibn Al-Khathab atau Amr ibn Hisyam.”

Dan, Allah mengabulkan permohonan Nabi Muhammad saw. dengan memilih Umar ibn Al-Khathab.

Umar ibn Al-Khathab adalah pribadi yang unik: keras tapi berhati lembut. Ia telah menjadi al-faruq atau pembeda antara kebenaran dan kebathilan. Dari seorang pembenci Islam ia berubah menjadi pendukung utama Islam. Ia lah orang yang melawan kebathilan di seluruh jazirah Arab hingga di seluruh dunia pada akhirnya.

Kalau blusukan baru menjadi perhatian pemimpin kita saat ini, sebaliknya kegiatan blusukan sudah lama dilakukan oleh kedua pemimpin Islam ini. Selama menjabat khalifah, Umar kerap menyamar menjadi orang biasa untuk mengetahui keadaan rakyatnya. Ia bahkan tak sungkan turun langsung membantu kesulitan rakyatnya. Seringkali rakyat yang dibantunya bahkan tak mengenali bahwa sosok yang membantu mereka itu adalah raja mereka sendiri. Umar akan merasa sangat bersalah dan bersedih hati jika mengetahui ada rakyatnya yang masih hidup dalam kesulitan.

Ada sebuah cerita menarik yang mungkin bisa menjadi renungan untuk kita semua, terutama di tengah maraknya kasus korupsi yang seperti tak berkesudahan di negeri ini.

“Suatu hari, Umar menjelaskan kepada para sahabatnya mengenai betapa pentingnya amar ma’ruf dan nahyi munkar dalam kehidupan masyarakat. Dia berkisah lewat tamsil berikut ini.

“Sekelompok orang naik perahu mengarungi lautan. Sesuai kesepakatan dan andil masing-masing, setiap orang mendapatkan tempat sendiri-sendiri dalam perahu itu. Tiba-tiba, salah seorang diantara mereka ada yang sengaja mau merusak kaveling yang menjadi bagiannya. Dia merasa bebas berbuat apa saja terhadap kaveling yang sudah menjadi miliknya. Kapak di tangannya siap diayunkan untuk menghantam bagian perahu yang menjadi kavelingnya itu. Bagaimana sikap teman-temannya menyaksikan hal tersebut? Mungkin ada yang acuh tak acuh, ‘Biarkan saja, itu toh kavelingnya sendiri!’ Mungkin ada yang berusaha bertanya atau menegur mengapa dia berbuat demikian. Mungkin ada pula yang langsung memegang tangan orang yang bersangkutan, dan berusaha merebut kapak yang akan digunakan untuk merusak perahu tersebut. Namun yang jelas, apabila semuanya diam, membiarkan orang itu merusak kaveling bagiannya, bukan dia sendiri yang terancam bahaya perahunya akan tenggelam, melainkan seluruh penumpang juga ikut terancam.” (Halaman 140).

Umar memberi pesan tentang hidup bermasyarakat. Bagaimana kita bersikap dan berperilaku sejatinya bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri saja melainkan juga memperhatikan kebutuhan dan kepentingan orang banyak. Tidak diragukan, selama kepemimpinannya, Umar selalu mendahulukan kepentingan orang banyak dibandingkan kepentingannya sendiri. Ia menolak kenaikan gaji yang disarankan oleh sahabat-sahabatnya. Ia tidak meminta perlakuan istimewa ketika suatu hari ia dituntut di persidangan karena berselisih paham dengan Ubay. Ia bahkan marah ketika sang Qadhi memberi hormat kepadanya layaknya orang yang memberi hormat kepada khalifah. Ia menolak perlakuan istimewa yang diberikan sang Qadhi. Ucap Umar, “teruskanlah pengadilan ini sebagaimana mestinya. Sesudah ini, aku akan memikirkan tindakan apa yang akan diambil terhadap Saudara atas sikap Saudara yang tidak bersedia memperlakukan para terdakwa sama rata di pengadilan hanya karena orang itu adalah Umar.” (halaman 76)

Itulah Umar ibn Al-Khathab, yang perkataan dan perbuatannya selaras. Ia akan menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, bahkan kepada anak kandungnya sendiri. Ia marah kepada siapapun yang bermaksud melakukan penyimpangan dalam penegakan keadilan. Walaupun tampak kasar, keras, dan tegas, namun Umar pasti mendengar orang yang memberi nasihat atau ide kepadanya. Ia sosok yang bisa menerima kebenaran dengan penerimaan hati yang lembut.

Di dalam masa pemerintahan Umar ajaran Islam berkembang pesat dan menjadi negara adikuasa yang menaklukkan imperium Persia dan Bizantium. Menjelang ajalnya, Umar meminta ijin kepada Aisyah, melalui anaknya Abdullah, agar dimakamkan di sisi kedua sahabatnya (Rasulullah dan Abu Bakar). Aisyah menerima. Umar bersyukur kepada Allah seraya berkata, ”itu keinginanku yang paling penting.” (halaman 223)

Potongan syair dari Atikah, salah satu istri Umar, untuk suaminya.

Penyayang kaum lemah, keras terhadap lawan
Kawan tepercaya, tempat kembali dalam mara-bahaya
Tatkala berkata, ucapannya tidak mendustai Allah
Cepat tidak lamban dalam berbuat kebaikan

2. Umar Ibn Abdul Aziz
Alkisah suatu hari Umar ibn Al-Khathab melaksanakan ronda malam mengelilingi kota Madinah. Ketika ia tengah beristirahat di sebuah dinding rumah terdengarlah sebuah percakapan seorang Ibu dengan putrinya. Sang Ibu memerintahkan putrinya untuk mencampur susu dengan air. Namun si putri menolak karena ia teringat pesan Khalifah Umar yang melarang penjual susu untuk mencampur susunya dengan air karena mengharapkan banyak keuntungan. Si Ibu terus mendesak dan putrinya tetap menolak.

“Tuhannya Khalifah Umar ibn Al-Khathab, Tuhan kita, Tuhan Semesta Alam. Dia tetap melihat kita walau di lubang semut di tengah malam pekat sekalipun. Ibu, demi Allah, aku bukanlah dari golongan orang-orang yang menaati perintah di tempat ramai, dan durhaka di tempat sunyi,” tegas sang gadis menolak permintaan ibunya. Umar yang mendengar percakapan itu meminta pembantunya untuk menandai rumah tersebut. Mengetahui bahwa di dalam rumah itu tinggal seorang gadis yang belum menikah bersama ibunya, Umar berniat untuk meminang gadis tersebut untuk putranya, Ashim yang belum menikah. Akhirnya disampaikanlah keinginan tersebut. Pasangan ini kemudian menikah. Mereka memiliki seorang anak perempuan. Anak perempuan ini lah yang kelak melahirkan seorang bayi lelaki yang diberi nama Umar ibn Abdul Aziz.

Umar ibn Abdul Aziz adalah cicit Umar ibn al-Khathab. Jauh sebelum Umar ibn Abdul Aziz dilahirkan, sang buyut telah melihat sosoknya dalam mimpi. Konon, Umar bermimpi. Ia terbangun, “Siapakah orang Bani Umayah dalam mimpiku ini? Salah seorang keturunan Umar, memiliki nama Umar, dan akan menjadi pemimpin dengan karakter Umar,”. Empat puluh tahun kemudian sang cicit lahir, ia lah Umar ibn Abdul Aziz dari Bani Umayyah. Terinspirasi oleh kepemimpinan Umar ibn Al-Khathab, sang cicit menjalankan pemerintahan sebagaimana Umar ibn Al-Khathab, sang buyut melakukannya.

Umar ibn Aldul Aziz terkenal karena kezuhudan dan keadilannya seperti leluhurnya, Umar ibn Al-Khattab.

Sejak kecil Umar ibn Abdul Aziz sudah menunjukkan kecintaan kepada ilmu. Ia menyukai sastra dan telah hafal Al-Qur’an sejak dini. Hafalannya pada Al-Qur’an memberinya pengetahuan tentang Allah, kehidupan, alam semesta, surga, neraka, qadha, qadhar, dan hakikat kematian. Semua pengetahuan itu membuat Umar ibn Abdul Aziz sering menangis, terutama mengingat kematian dan kehidupan akhirat.

Ia tumbuh menjadi seorang anak yang kritis, menghormati guru dan para ulama pada masanya. Ia tidak menyukai kezaliman. Umar ibn Abdul Aziz menjadi gubernur pada usia muda. Ia kemudian mengundurkan diri. Ia sering berseberangan dengan khalifah Al-Walid yang memerintah dengan banyak melakukan tindakan zalim. Ia pun menentang ketika Khalifah Al-Walid hendak mencabut hak Sulaiman dan menggantinya dengan mengangkat putranya menjadi khalifah sesudahnya.

Setelah penobatan Sulaiman menjadi Khalifah, Umar ibn Abdul Aziz diangkat menjadi penasihat sekaligus menterinya. Keduanya selalu bersama. Abdul Aziz banyak memberikan pengaruh kepadanya. ketika ia merasa ajalnya semakin dekat, Sulaiman membuat surat keputusan pengganti dirinya. Ia menunjuk Umar ibn Abdul Aziz. Bagi Umar, pengangkatan dirinya menjadi khalifah adalah musibah.

Selama menjadi pemimpin, Umar dikenal dengan ketegasan dan keadilannya. Kebijakan pertama yang dibuat Umar menyebabkan ia dimusuhi oleh keluarga dari ayahnya. Setelah gagal bernegosiasi dengan Umar secara langsung maka Bani Umayyah mengutus bibi mereka, seorang yang juga dihormati oleh Umar untuk berbicara kepada Umar. Setelah perbincangan panjang, sang bibi kembali menemui Bani Umayyah dan menyampaikan perkataan Umar. Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa sang bibi berkata kepada Bani Umayyah. “Kalian merugikan diri sendiri! Kalian menikah dengan anak cucu Umar ibn Al-Khathab, tetapi ternyata hanya Umar ibn Abdul Aziz yang meneladaninya!”

Umar juga memecat gubenur dan pejabat yang zalim, memberikan perlindungan dan keamanan untuk seluruh rakyat tanpa membeda-bedakan ras dan agama, mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Ia juga mengembalikan hak-hak orang tertindas. Hal yang sama diberlakukan Umar untuk dirinya sendiri. “Ia mengembalikan harta bendanya yang mengandung unsur kezaliman atau ragu akan kemurnian haknya pada harta benda tersebut. Ia mengembalikan semua itu kepada pemiliknya yang asli karena kezuhudan dan kepercayaannya bahwa mengembalikan harta benda yang didapatkan tanpa hak kepada pemilik aslinya adalah salah satu bentuk ketaqwaan kepada Allah dan meletakkan hak pada tempatnya.” (halaman 314)

Seperti Umar ibn Al-Khathab, Abdul Aziz memiliki hati yang lembut. Ia seringkali menangis jika mengingat mati dan akhirat. Ia seorang yang memiliki rasa kepedulian yang sangat besar terhadap orang lain. Ia pun lapang dalam menerima nasihat dan kritikan.

Satu cerita ini barangkali tak asing. Suatu malam, Khalifah Umar sedang mengerjakan tugas negara dengan ditemani lampu minyak kecil. Kemudian datanglah seorang keluarganya. Ketika Umar mengetahui bahwa kedatangan keluarganya adalah untuk membicarakan urusan pribadi maka Umar segera mematikan lampu minyak tersebut. Keluarganya heran dan mempertanyakan hal itu. Kata Umar, “Wahai Saudaraku, bukankah engkau datang ke sini untuk keperluan pribadi, yang tak ada kaitannya dengan urusan negara? Sedangkan, lentera minyak ini dibiayai oleh negara. Agar kita tidak menyalahgunakan harta kekayaan negara untuk kepentingan pribadi, maka lampu ini aku matikan.” (halaman 296)

Begitulah Umar ibn Abdul Aziz, yang memulai dari dirinya sendiri untuk menjadi contoh dan panutan bagi rakyat.

Masa kepemimpinan Umar tidak lah lama, ia sakit karena diracun oleh pelayannya (yang sebenarnya menolak melakukan itu) yang ditekan oleh orang-orang dibalik aksi itu. Dalam masa kepemimpinan yang singkat (dua tahun lima bulan empat hari) Umar berhasil memimpin sehingga kesejahteraan dan keadilan dirasakan oleh seluruh rakyat.

Dalam sebuah surat kepada penggantinya, Yazid ibn Abdul Malik (yang dipilih oleh khalifah sebelumnya, Sulaiman, setelah mengangkat Umar ibn Abdul Aziz terlebih dahulu. Ini dilakukan untuk menghindari pertikaian dari keluarga Abdul Malik yang merasa lebih berhak menggantikan khalifah Sulaiman pada saat itu), Abdul Aziz berpesan:

” ….Aku juga berpesan kepadamu agar engkau selalu bertakwa kepada Allah. Perhatikanlah kepentingan masyarakat. Utamakan mereka. Engkau hanya hidup sebentar saja karena engkau juga akan dipanggil Tuhan Yang Maha Lembut juga Maha Mengetahui.”

Menjelang ajalnya, Umar melantunkan firman Allah:
“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Qashash [28]:83). (Halaman 336)

Umar pergi untuk selamanya. Kedua mata Umar tertutup, mata yang selama ini tidak pernah menutup diri dari hak Allah dan hak manusia. Umar telah kembali kepada Tuhan-nya, bertemu dan berkumpul bersama golongan yang diberi nikmat Allah Ta’ala.

Jika kita mengira bahwa kepemimpinan yang adil itu bisa terwujud karena pada masa itu tidaklah serumit sekarang situasinya, bacalah kisah Umar ibn Abdul Aziz ini. Abdul Aziz mewarisi kekhalifahan sebelumnya yang jauh dari keadilan dan dekat dengan kezaliman dan penindasan. Saat itu pun tak banyak yang membantu dan mendukung dirinya dalam menjalankan roda kepemimpinan. Namun nyatanya Abdul Aziz berhasil membangun pemerintahan yang bersih, adil dan sejahtera.

Umar ibn Abdul Aziz memilih untuk menegakkan keadilan di jalan Allah. Ia bekerja tanpa pamrih untuk kemaslahatan umat. Cukuplah ridha Allah atas dirinya.

Kisah-kisah teladan kepemimpinan dalam buku ini sungguh menyentuh, dan menghadirkan keterharuan. Semoga kita semua (tak hanya para pejabat dan pemimpin negeri) bisa meneladani kepemimpinan dua khalifah besar umat islam ini.

Dan, untuk negeri ini, semoga suatu hari nanti Allah berkenan memberikan kita pemimpin-pemimpin yang adil seperti kedua Umar di atas. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s