Seorang Perampok Mengadu Kepada Khalifah

Oleh: Ade Sudaryat
(Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu 21 Juli 2012, hal. 25)

“Aku tidak akan pikir-pikir naik banding, apalagi naik pitam terhadap vonis hukum yang telah dijatuhkan kepadaku,” kata seorang perampok kepada hakim. “Namun, sebelum aku menjalani masa hukuman, tolong pertemukan aku terlebih dahulu dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.”

Para penasihat menemui khalifah dan memberikan berbagai masukan agar ia menolak permintaan si perampok. Namun, dengan berbagai pertimbangan, khalifah justru mengizinkan sang perampok untuk bertemu dengannya. “Ada apa kamu ingin bertemu denganku? Apakah vonis yang dijatuhkan tidak memenuhi rasa keadilan?” kata khalifah.

“Khalifah yang mulia, aku sudah rela menerima vonis. Para hakim telah berupaya keras menegakkan keadilan sesuai dengan perbuatanku. Namun, perlu Khalifah ketahui, keadilan yang ditegakkan di negara yang Anda pimpin ini belum sempurna, ibarat orang yang berdiri dengan satu kaki. Perlu Anda ketahui, orang-orang yang saya rampok pun layak mendapatkan hukuman. Malah hukumannya harus lebih berat daripada aku,” ujar si perampok.

“Mengapa begitu?”

“Aku hanya rakyat jelata. Seorang perampok. Akan tetapi, aku hanya merampok harta para pejabat negara yang rakus, yang kekayaannya melebihi gaji yang diberikan oleh negara. Aku memohon kepada Khalifah untuk mengaudit kekayaan mereka. Apakah harta kekayaan dan kemewahan hidup mereka sesuai dengan gaji yang mereka terima?” ucap si perampok dengan berapi-api.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz tercenung. Ia berpikir bahwa jangan-jangan apa yang dikatakan si perampok itu benar adanya. Akhirnya, ia pun memerintahkan para pembantunya agar mengaudit harta kekayaan para pejabat negara dan para pembantu jalannya roda pemerintahan.

Hasilnya, perkataan si perampok terbukti benar. Jumlah harta para pejabat yang dirampok tak sepadan dengan gaji yang mereka dapatkan dari negara. Bisa jadi, mereka melakukan tindak pidana korupsi yang merugikan rakyat dan negara.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz meminta para pembantunya agar mendatangkan kembali si perampok. Khalifah berkata, “Aku sangat menghargai laporanmu. Ternyata laporanmu benar. Para pejabat yang hartanya engkau rampok benar-benar telah menyalahgunakan kekuasaannya. Kini mereka telah dijatuhi hukuman yang lebih berat daripada hukuman yang dijatuhkan kepadamu. Selanjutnya, karena telah menjadi seorang justice collaborator, kamu akan mendapatkan keringanan masa hukuman, malah bisa bebas.”

“Aku menolak keringanan hukuman yang Anda berikan. Biarkan aku menjalani hukuman sesuai dengan vonis hakim di pengadilan,” kata si perampok.

Khalifah merasa heran. “Mengapa kamu menolak?”

“Sebab aku telah melakukan pencurian lagi,” kata si perampok.

“Di mana? Bukankah kamu sedang dipenjara?” Khalifah bertambah heran.

“Aku telah mencuri waktu dan pikiran Anda. Begitu banyak waktu dan pikiran yang Anda curahkan demi menyelesaikan kasusku. Padahal, Anda diangkat menjadi khalifah tidak untuk mengurus kasusku saja, tetapi untuk rakyat di daerah kekuasaan Anda. Biarkan aku menjalani hukuman untuk menebus dosa dan kekeliruanku.”

———————————————————————————————————————————-

“Para ulama fiqih adalah pelaksana amanat para rasul selama mereka tidak memasuki (bidang) dunia.” Mendengar sabda tersebut, para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa arti memasuki (bidang) dunia?” Beliau menjawab, “Mengekor kepada penguasa dan kalau mereka melakukan seperti itu maka hati-hatilah terhadap mereka atas keselamatan agamamu.” (HR ath-Thabrani)

Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri.” (HR Adailami)

Jangan bergaul dengan para pemimpin dan pembesar yang zalim, bahkan jangan menemuinya. Berjumpa dan bergaul dengan mereka hanya membawa petaka. Dan sekiranya kamu terpaksa bertemu, jangan memuji-muji mereka, karena Allah sangat murka ketika orang fasik dan zalim dipuji. Dan barangsiapa mendoakan mereka panjang umur, maka sesungguhnya dia suka agar Allah didurhakai di muka bumi. Jangan menerima apa-apa pemberian dari golongan pembesar, meski kamu tahu pemberian itu bersumber dari yang halal. Sebab, sikap tamak mereka akan merusak agama. Pemberian itu akan menimbulkan rasa simpati (jika diterima). Lalu kamu akan mulai menjaga kepentingan mereka dan berdiam diri atas kezaliman yang mereka lakukan. Dan itu semua telah merusak agama. Seterusnya kita akan mendoakan mereka kekal dan lama di atas kedudukannya. Mengharapkan orang yang zalim lama berkuasa seperti mengharapkan kezaliman berkepanjangan atas hamba-hamba Allah dan alam akan musnah binasa. Apa lagi yang lebih buruk dibanding dengan kerusakan agama?” (Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin)

“Apabila Allah menginginkan kemajuan dan kesejahteraan kepada suatu kaum maka Allah memberi mereka karunia kemudahan dalam jual-beli dan kehormatan diri. Namun bila Allah menginginkan bagi suatu kaum kemacetan dan kegagalan maka Allah membuka bagi mereka pintu pengkhianatan.” (HR ath-Thabrani)

———————————————————————————————————————————-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s