Pengalaman Direktur CERN dengan Agama (cuma fiksi)

(Sumber: Dan Brown, Malaikat & Iblis (diterjemahkan oleh Isma B. Koesalamwardi), Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2005, hal 602-605)

Kohler menatap sesaat dengan matanya yang sekeras batu. Malam ini aku mungkin mati di tangan agama, pikirnya. Tapi itu bukan yang pertama kalinya.

Untuk sesaat, dia ingat kala berusia sebelas tahun. Dia berbaring di atas tempat tidurnya di rumah besar orangtuanya di Frankfurt. Sprei di bawahnya adalah kain linen terhalus di Eropa, tetapi basah oleh keringatnya. Max muda merasa dirinya terbakar. Rasa sakit itu sangat luar biasa sehingga melumpuhkan tubuhnya. Ayah dan ibunya berlutut di samping tempat tidurnya selama dua hari. Mereka berdoa.

Di dalam kegelapan, berdiri tiga dokter terbaik di Frankfurt.

“Aku mendesakmu untuk mempertimbangkannya!” salah satu dokter berkata. “Lihatlah anak itu! Demamnya meninggi. Dia sangat kesakitan. Dan dalam bahaya!”

Tetapi Max tahu jawaban ibunya sebelum ibunya mengatakannya kepada ketiga dokter itu. “Gott wird ihn beschuetzen.”

“Ya,” pikir Max, “Tuhan akan melindungiku.” Pengakuan dalam suara ibunya memberinya kekuatan. Tuhan akan melindungiku.

Satu jam kemudian, Max merasa seluruh tubuhnya seperti diremukkan di bawah mobil. Dia bahkan tidak dapat bernafas untuk menangis.

“Anak lelakimu sangat menderita,” dokter yang lain berkata.

“Biarkan aku setidaknya mengurangi rasa sakitnya. Aku membawa dalam tasku sebuah suntikan sederhana—“

“Ruhe, bitte!” ayah Max membungkam dokter itu tanpa membuka matanya. Dia hanya terus berdoa. “Ayah, kumohon!” Max sangat ingin berteriak. “Biarkan mereka menghentikan rasa sakit ini!” Tetapi kata-kata itu menghilang di dalam batuk yang membuatnya kejang.

Satu jam kemudian, rasa sakit itu semakin memburuk.

“Anak lelakimu bisa lumpuh,” salah satu dokter berkata. “Atau bahkan mati. Kami punya obat yang akan membantu menghilangkan deritanya!”

Bapak dan Ibu Kohler tidak akan mengizinkannya. Mereka tidak percaya pada obat. Siapa mereka yang dapat mencampuri rencana besar Tuhan? Mereka berdoa dengan lebih kuat. Lagipula, Tuhan telah memberkati mereka dengan memberikan anak lelaki ini. Mengapa Tuhan akan mengambilnya? Ibunya berbisik pada Max untuk menjadi lebih kuat. Dia menjelaskan bahwa Tuhan sedang mengujinya…seperti cerita Ibrahim dalam Alkitab…sebuah ujian terhadap keyakinannya.

Max mencoba untuk yakin, tetapi rasa sakit itu luar biasa.

“Aku tidak dapat menyaksikannya!” kata salah satu dokter, lalu berlari meninggalkan ruangan.

Ketika fajar, Max hampir tidak sadarkan diri. Setiap otot di tubuhnya terasa sakit sekali. Di mana Yesus? dia bertanya-tanya. Apakah dia tidak mencintaiku? Max merasa hidupnya mulai meninggalkan tubuhnya.

Ibunya telah jatuh tertidur di samping ranjang, sementara tangannya masih menggenggam tangan Max. Ayah Max berdiri di seberang ruangan di dekat jendela, menatap ke langit fajar. Tampaknya dia sedang kerasukan. Max dapat mendengar ayahnya bergumam lembut, mengucap doa permohonan belas kasihan yang tidak pernah berhenti.

Saat itu Max merasakan ada sesosok yang besar berdiri di dekatnya. Malaikat? Max hampir tidak dapat melihat. Matanya bengkak dan tertutup. Sosok itu berbisik di telinganya, tetapi itu bukan suara dari malaikat. Max mengenalinya. Itu suara salah satu dokter tadi…dokter yang sudah duduk di sudut kamarnya selama dua hari. Dia tidak pernah pergi, dan memohon kepada orangtua Max agar diizinkan memberi obat baru dari Inggris.

“Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri,” bisik dokter itu, “kalau aku tidak melakukan ini.” Lalu dokter itu dengan lembut mengambil lengan Max yang lemah. “Andai saja aku melakukan ini lebih awal.”

Max merasakan ada tusukan kecil di lengannya. Hampir tidak terlihat walau sakitnya jelas terasa.

Lalu dokter itu dengan tenang mengemasi peralatannya. Sebelum dia pergi, dia meletakkan tangannya di dahi Marx. “Ini akan menyelamatkan nyawamu. Aku sangat percaya pada kekuatan obat.”

Dalam beberapa menit, Max merasa seolah semacam kekuatan ajaib mengalir di dalam pembuluh darahnya. Kehangatan menyebar ke seluruh tubuhnya dan mematikan rasa sakitnya. Akhirnya, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari yang menyakitkan itu, Max tertidur.

Ketika demam itu berakhir, ayah dan ibunya berkata itu karena keajaiban Tuhan. Tetapi ketika ternyata anaknya menjadi lumpuh, mereka menjadi sangat sedih. Mereka mendorong si anak di atas kursi rodanya ke gereja dan memohon nasihat pendeta.

“Semata-mata karena kebesaran Tuhan,” kata pendeta itu, “sehingga anak ini selamat.”

Max mendengarkan, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

“Tetapi putera kami tidak dapat berjalan!” Nyonya Kohler menangis.

Pendeta itu mengangguk sedih. “Ya. Itu berarti Tuhan menghukumnya karena tidak cukup yakin.”

*****

Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kami berobat?” Beliau menjawab, “Ya, wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya Allah meletakkan penyakit dan diletakkan pula penyembuhannya, kecuali satu penyakit yaitu penyakit ketuaan (pikun).” (HR Ashabussunnah)

“Allah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya, diketahui oleh yang mengetahui dan tidak akan diketahui oleh orang yang tidak mengerti.” (HR Bukhari dan Muslim)

*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s