Kepang Rambut untuk Berjihad

Oleh: Zulhakimi
(Sumber: eL-Ka hal. 32, Sabili No. 16 TH. XVII 4 Maret 2010 / 18 Rabiul Awal 1431)

Diceritakan, pasukan Romawi menahan sebagian muslimah, kemudian beritanya terdengar Al-Manshur bin ‘Ammar. Orang-orang pun menyarankan kepadanya untuk membuat majelis di dekat Amirul Mukminin. Mereka juga memintanya untuk melakukan penyerangan, untuk membebaskan muslimah yang ditawan.

Majelis pun digelar di dekat Amirul Mukminin Harun Ar-Rasyid di Ruqqah yang ada di negeri Syam. Ketika Syekh Al-Manshur sedang menganjurkan orang-orang untuk berjihad, tiba-tiba dilemparkanlah sebuah buntelan kain yang di dalamnya terdapat kantong terikat dan bercap, yang ternyata terdapat pula sepucuk surat. Al-Manshur kemudian membuka surat tersebut dan isinya:

“Sesungguhnya aku wanita dari keluarga Arab. Telah sampai kepadaku berita tentang apa yang telah dilakukan orang-orang Romawi terhadap kaum muslimah dan aku telah mendengar anjuranmu kepada kaum muslim agar melakukan penyerangan berkenaan dengan kasus tersebut. Untuk itu, aku memotong kepangan rambutku, lalu kumasukkan ke dalam buntelan yang bercap ini. Aku memohon kepada Allah semoga engkau menjadikan keduanya sebagai bagian dari tali kendali kuda yang digunakan untuk berjihad di jalan Allah.”

Setelah membaca ungkapan yang sangat menyentuh ini, Manshur tidak dapat menguasai dirinya, ia menangis dan orang-orang yang hadir di majelisnya pun ikut menangis. Saat itu juga khalifah Harun Ar-Rasyid bangkit dan ikut berperang bersama kaum mujahid di jalan Allah.

———————————————————————————————————————————-

“Dengan keperkasaan dan keagungan-Ku, Aku akan membalas orang zalim dengan segera atau dalam waktu yang akan datang. Aku akan membalas terhadap orang yang melihat seorang yang dizalimi sedang dia mampu menolongnya tetapi tidak menolongnya.” (Hadits Qudsi riwayat Ahmad)

“Sampai kapan kita menunggu musuh, padahal kita adalah para penyeru yang mengetahui bahwa musuh tengah mempersiapkan perlengkapan untuk melumatkan dan menghancurkan kita. Namun kita hanya berdiri di atas mimbar-mimbar, mengadu dan mengeluhkan kehormatan yang dinodai, jiwa-jiwa yang melayang, dan negeri Islam yang dirampas hilang.” (Khaththab)

“Demi Allah, kami tidak meminta lelaki-lelaki sekelas Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Sa’ad bin Abi Waqqash, Miqdad, Thalhah, ataupun Zubair. Kami hanya menginginkan lelaki seperti Shafiyyah! Ya, cukup seperti Shafiyyah. Wanita shahabiyyah ini telah membela kehormatan kaum muslimin, ketika ada seorang Yahudi najis yang ingin masuk ke dalam sebuah benteng kaum muslimin hendak mengintai aurat kaum muslimin, maka Shafiyyah pun membunuhnya demi membela kehormatan kaum muslimin.” (Syaikh Abu Mus’ab Az-Zarqawi)

“Hidupku yang menjadi taruhannya. Seandainya tidak ada satu keturunan pun di dunia ini yang hidup membela Islam, saya pasti tetap menyaksikan para pembela itu berada di antara penduduk gunung Himalaya dan Hindukus. Dan di sanalah gairahnya memancarkan cahaya yang berkilau… Orang yang tak rela tidur memendam dendam, tidak menerima orang asing menginjak negerinya, dan tidak berkompromi dengan musuh menyangkut kemerdekaan negerinya.” (Syakib Arsalan)

———————————————————————————————————————————-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s