Empat Maqam Nabi Muhammad saw

(Sumber: Syaikh Muzaffer Ozak al-Jerrahi, “Allah, Nabi Adam, dan Siti Hawa” (diterjemahkan oleh Luqman Hakim), Bandung: Pustaka Hidayah, Cetakan I, Juli 2009, hal. 265-271)

Anas bin Malik ra mengatakan: “Aku mendengar dari Ahmad bin fadhl bahwa Rasulullah memiliki kemuliaan dan pemberi syafaat kepada para pendosa, mempunyai empat maqam, yang setiap darinya beliau mengajukan permohonan kepada Allah, atas nama umat beliau, dan mohon ampunan kepada-Nya berkenaan dengan para pendosa pembangkang di kalangan umat beliau. Allah Yang Maha Lembut telah menjanjikan kepada rasul tercinta-Nya bahwa Dia akan memberikan ampunan-Nya kepada para pendosa pembangkang di kalangan umat Muhammad.”

Satu di antara maqam-maqam ini adalah Maqam Kesaksian (al-maqam al-masyhud). Ini adalah maqam yang padanya, pada malam hari mi’raj beliau, pada Jarak Dua Hasta, Rasulullah saw memohon berkah dan ampunan untuk sejumlah manusia pendosa di kalangan umat beliau, dari Yang Maha Rahman, Allah Yang Maha Kuasa, Yang berkata kepada kekasih-Nya: “Hai kekasih-Ku, sepanjang malam hari dan siang hari, engkau selama ini mendamba menyaksikan Keindahan Ridha-Ku. Kini, saksikan olehmu Kemahaindahan-Ku.”

Pada maqam ini, yang padanya Dia mengizinkan yang dicintai-Nya menyaksikan Kemahaindahan-Nya dan memiliki Kesempurnaan, dalam keintiman alam transenden ini, Allah memberikan sejumlah besar berkah lain kepada rasul-Nya, dan pada saat yang sama berdialog dengan beliau tidak dengan kata-kata, tidak dari suatu tempat dalam ruang, tetapi dalam suatu model langkah yang dimengerti oleh Allah dan rasul-Nya saja. Sewaktu Dia menjanjikan memberikan seribu pengobatan untuk suatu penyakit, dengan mengatakan: “Aku akan menunjukkan Kepenyantunan-Ku kepadamu hingga engkau ridha,” Rasulullah saw memberikan tanggapan dengan berdoa: “Tuhanku, umatku lemah, umatku malang, berikan padaku umatku.”

“Duhai kekasih-Ku,” berita baik dari Allah, “Aku akan menganugerahkan kepada mereka surga-Ku dan Kemahaindahan-Ku. Jangan bersedih hati, Aku telah memberimu umatmu. Engkau adalah kekasih-Ku. Aku telah menerima seluruh permohonanmu, yang dalam pandangan-Ku lebih ringan daripada segenggam debu. Aku telah memberimu umatmu dan memberikan berkah dan ampunan, demi engkau. Sewaktu dihadapkan pada Rahman-Ku dan Cinta Kasih-Ku, seluruh pelanggaran dan dosa mereka bagaikan sekadar biji makanan pada paruh seekor burung. Engkau adalah sultan dunia dan akhirat nanti, dan demi engkau Aku telah menciptakan surga-Ku. Segala sesuatu yang engkau mau akan diberikan kepadamu.”

Menanggapi hal ini, Rasulullah saw berseru, “Umatku…umatku saja.” Beliau mencucurkan air mata dan menghirup nafas panjang permohonan, sewaktu beliau melantunkan ayat:

“…(Mereka berdoa): ‘Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.’” (QS al-Baqarah [2]: 285)

Pada malam hari tersebut, lebih banyak lagi berita bahagia berkenaan dengan umat Muhammad diperbincangkan oleh Allah swt, Tuhan Yang Satu, Yang Sendiri dalam Keabadian, dan rasul-Nya yang terpuji, yang diutus sebagai rahmat bagi delapan belas ribu alam, dan yang memperoleh pengetahuan tanpa perantara tentang rahmat Allah yang Dia anugerahkan kepada umat beliau.

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS al-Hijr [15]: 49)

Maqam kedua adalah Maqam Kesatuan Ilahi (maqam munajati-l ma’bud). Ini adalah nama dan panggilan yang diberikan pada maqam Rasulullah, mengajukan permohonan dengan sembahyang dan berdoa kepada Allah, pada malam hari dan siang hari di sepanjang kehidupan beliau dan terutama pada hari atau malam hari kudurs, [agar] kiranya Dia berkenan memberikan ampunan pada para pendosa dan pembangkang di kalangan umat beliau.

Maqam ketiga adalah Maqam Tak Terjangkau (al-maqam al-mafqud). Saat Rasulullah, Imam kaum yang bertakwa, dipanggil menuju pangkuan Allah dan setelah ruh beliau yang memancarkan cahaya paling cerlang meninggalkan raga, tidak lain dari maqam ini—sewaktu beliau meninggalkan kehidupan duniawi ini—beliau mengajukan permohonan kepada Allah swt, kiranya Dia berkenan memberikan ampunan kepada umat beliau, dengan mengucapkan: “Umatku…umatku!”

Diriwayatkan oleh Imam Ali, “Saat Nabi akan meninggalkan dunia, beliau mengatakan kepada kita: ‘Yang terakhir aku ajarkan kepada kalian adalah hendaknya kalian menunjukkan sikap tunduk kepada Allah swt, hendaknya kalian bertakwa kepada-Nya, hendaknya kalian melaksanakan shalat dan hendaknya kalian memenuhi kewajiban kalian berkenaan dengan mereka yang berada dalam kekuasaan kalian.’ Setelah memberikan pengajaran yang terakhir, beliau berseru: ‘Sahabatku di atas sana… Sahabatku di atas sana!’ Selanjutnya, ruh beliau yang menyandang kemenangan berpisah (dari raga). Sesungguhnya, kedua bibir beliau kala itu masih bergetar lembut hingga tidak lain dengan mengupingnya dalam kedekatan aku mampu mendengarkan Rasulullah saw mengucapkan perkataan ini: ‘Umatku…umatku…umatku…’”

Maqam keempat adalah Maqam Terpuji. Sebagaimana yang telah dijelaskan, maqam ini akan digelar di Padang Kebangkitan, dan darinya Rasulullah saw akan mengajukan permohonan kepada Allah agar kiranya Dia berkenan memberikan ampunan pada umat beliau.

Aisyah, Ibu Kaum Beriman, isteri tercinta Rasul yang punya kemuliaan dan puteri kesayangan Abu Bakar ra, mengatakan: “Manusia yang paling utama (mudah-mudahan Allah berkenan memberikan kesejahteraan dan kedamaian kepada beliau) kala itu berada di rumahku. Kami berbaring bersama dan tidur. Sewaktu aku bangkit dari tidur, Nabi tidak lagi di sampingku. Aku mencari-cari beliau dan menyaksikan beliau tengah melakukan shalat di sudut kamar. Beliau memperpanjang posisi berdiri dan rukuk dalam shalat, saat beliau mengajukan permohonan kepada Allah dengan perkataan: ‘Ya Tuhanku—umatku! Ya Tuhanku—umatku!’ Saat mengangkat kepala dari posisi rukuk, beliau berdoa sekali lagi: ‘Ya Tuhanku, umatku! Ya Tuhanku umatku!’ Sewaktu beliau selesai mengucap salam terakhir dan menyelesaikan shalat, aku berkata: ‘Ibu dan bapakku sebagai jaminanmu, ya Rasulullah; umat yang engkau doakan dengan mengucapkan umatku…umatku pada Tuhanmu, engkau mempunyai kekhawatiran berkenaan dengan mereka. Siapakah mereka, umat yang beruntung ini?’

‘Ya Aisyah,’ beliau menjawab, ‘Umat ini adalah umatku. Apakah engkau heran bahwa aku musti kehilangan tidur dan istirahatku, demi mengajukan permohonan agar mereka diberikan kepadaku? Bukan hanya malam hari ini, tetapi sepanjang aku menghidupi kehidupanku, aku akan mengucapkan: Umatku…umatku. Sesungguhnya, aku tidak pernah berhenti mengucapkan: Umatku…umatku, bukan hanya saat aku hidup dalam keadaan sehat wal-afiat, tetapi saat aku meninggalkan kehidupan ini, dalam liang lahatku, saat Sangkakala ditiup, sewaktu aku bangkit dari liang lahat, dan di Padang Kebangkitan. Pada Neraca Amal dan pada Shirath, aku akan berdoa: Ya Tuhanku, selamatkanlah umatku…selamatkanlah umatku. Tidak lain apabila aku berada di tengah-tengah umatku hatiku akan memperoleh kebahagiaan.’”

——————————————————————————————————————————————————

“Aku kesayangan Allah (dan tidak congkak). Aku membawa panji “PUJIAN” pada hari kiamat, di bawahnya Adam dan yang sesudahnya (dan tidak congkak). Aku yang pertama pemberi syafa’at dan yang diterima syafa’atnya pada hari kiamat (dan tidak congkak). Aku yang pertama menggerakkan pintu surga dan Allah membukanya untukku dan aku dimasukkan-Nya bersama-sama orang-orang beriman yang fakir (dan tidak congkak). Dan akulah paling mulia dari kalangan terdahulu dan terkemudian di sisi Allah (dan tidak congkak).” (Muhammad saw)

——————————————————————————————————————————————————

2 thoughts on “Empat Maqam Nabi Muhammad saw

  1. KISAH YANG MENGHARUKAN…
    sampai mata ini jadi berkaca-kaca mengetahui Rasulullah mencintai kita dengan kecintaan yang teramat dalam. semoga sholawat serta salam tercurah kepada beliau dan keluarganya serta para sahabatnya.

    mohon ijin untuk menyebarkannya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s