Abu Bakar ra Bermimpi Menerima Syafaat Terpuji dari Rasulullah saw

(Sumber: Syaikh Muzaffer Ozak al-Jerrahi, “Allah, Nabi Adam, dan Siti Hawa” (diterjemahkan oleh Luqman Hakim), Bandung: Pustaka Hidayah, Cetakan I, Juli 2009, hal. 272-282)

Umar bin al-Khattab ra mengatakan: “Saat aku lewat di muka rumah Abu Bakar ra, pada suatu hari semasa kekhalifahannya, aku kebetulan mendengarnya menangis tersedu. Sedu-sedannya mengeluarkan suara yang tinggi, hingga terdengar dari jalanan. Aku menjadi semakin ingin tahu, dengan demikian aku mengetuk pintu masuk rumahnya dan memberitahu isterinya bahwa aku mau berjumpa dengan al-shiddiq yang agung. Segera setelah aku diterima olehnya, aku mengajukan pertanyaan tentang alasan ia menangis.

‘Ya Umar,’ ia mengatakan, ‘Panggil para sahabat kemari.’ Aku melaksanakan perintahnya dan mengumpulkan para sahabat di rumahnya, tempat Abu Bakar menyuguhkan pembicaraan di bawah ini kepada mereka:

‘Hai para sahabat Rasulullah. Hai kaum Anshar yang setia. Sebagaimana yang kalian ketahui, aku adalah sahabat Rasulullah saw di sepanjang hidup dan keseharian beliau. Persahabatan kami pulang menuju zaman “kebodohan” sebelum Rasulullah memanggil kita menuju Islam. Ibu kita, Khadijah ra adalah yang pertama di kalangan wanita yang menerima Islam, Imam Ali adalah yang pertama di kalangan anak-anak, Zaid adalah yang pertama di kalangan budak, dan aku adalah yang pertama di kalangan laki-laki dewasa merdeka. Sesuai diperintahkan Allah, aku berhijrah dengan Rasulullah saw dari Makkah al-mukarramah menuju Madinah al-munawwarah; aku memperoleh kehormatan mengadakan lawatan dengan beliau dan berbahagia dengan kebesertaan beliau di dalam gua. Tidak lain dikarenakan aku dicengkeram oleh ketakutan dan kekhawatiran kalau-kalau sesuatu yang jahat dilancarkan kepada Rasulullah saw yang diberkahi dan kalau-kalau sakit menimpa beliau, hingga Allah swt berkata kepadaku melalui perantara kekasih-Nya: Jangan khawatir, jangan bersedih. Aku bersamamu. Dia menenangkan hati kami. Kekhawatiran dan ketakutanku mereda dengan berita bahagia dari Allah.

Jikalau engkau tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua, saat dia berkata kepada sahabatnya: “Janganlah engkau berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang engkau tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS at-Taubah [9]: 40)

Berdasarkan perintah Allah, Rasulullah saw mengambil puteriku Aisyah sebagai isteri. Kaum kafir memfitnah dan menjelek-jelekkan kehormatan Rasulullah. Tetapi, tuduhan mereka memperoleh bantahan ketika sebuah ayat al-Qur’an diwahyukan, dalam rangka menegaskan kejujuran puteriku. Rasulullah saw berada di sampingnya lagi dan memperlakukannya dengan keramahan yang pantas diterima oleh seorang isteri: indikator yang jelas bahwa dia tidak berdosa dan tidak kafir.

Aku memperoleh kehormatan menjabat sebagai menteri Rasulullah sepanjang kehidupan beliau. Delapan belas kali di sepanjang kehidupan beliau, aku bertindak sebagai imam shalat di tempat shalat beliau. Sewaktu beliau meninggal dunia dan pergi menuju alam keindahan, aku ditakdirkan oleh Allah menjabat kekhalifahan setelah beliau. Masa kanak-kanak dan masa remaja kami, kami isi bersama Rasulullah saw. Aku kala itu punya rindu kepada beliau, jika aku tidak menyaksikan beliau selama setengah jam saja. Kurang-lebih dua bulan telah berlalu semenjak beliau pergi menuju alam keindahan, aku terbakar oleh “abu rindu” dan aku mendambakan beliau. Malam hari kemarin, aku mendirikan shalat dan berdoa kepada Sang Pemberi Rezeki, dengan mengajukan permohonan kepada-Nya agar kiranya Dia mengizinkan aku melihat Rasulullah dalam mimpi-mimpiku. Aku menangis saat aku mengajukan permohonanku. Selanjutnya, aku tertidur pulas dan apakah yang aku saksikan? Dalam alam mimpi, mereka mengantarkanku menuju Padang Kebangkitan. Hari Kebangkitan telah bermula dan seluruh manusia dikumpulkan di tempat berkumpul yang luar biasa mengerikan. Matahari menurun setinggi tidak lebih dari beberapa mil dan pada saat yang sama menyebabkan Timur dan Barat terpadukan. Neraka mengitari umat manusia yang berdesak-desakan satu dengan yang lain bagaikan semut. Setiap manusia membawa serta dosa-dosa di punggungnya. Tidak seorang pun yang mampu berpikir. Setiap manusia berada dalam kebingungan. Aku mulai menangis karena ketakutan terhadap pemandangan tersebut, saat seseorang tampil di samping ku. “Ada apa gerangan?” aku mengajukan pertanyaan kepadanya. “Tidakkah engkau menyaksikan?” kata orang asing tersebut. “Ini adalah Padang Kebangkitan.”

Saat aku bertanya, “Siapakah orang-orang yang kebingungan tersebut, yang berdiri berjajar dengan beban-beban di punggung-punggung mereka, dengan tidak tahu apa yang musti mereka lakukan?” Dia berkata: “Mereka adalah orang-orang kafir dan pendosa di kalangan umat Muhammad yang menunggu penghitungan amal mereka.” Aku, selanjutnya, mengajukan pertanyaan apakah keseluruhan area tersebut adalah Padang Kebangkitan dan dia berkata: “Ada satu maqam lain. Mari, kuantar engkau menuju suatu tempat yang padanya para nabi tengah menunggu bersama.” Sewaktu dia tiba pada suatu tempat, aku menyaksikan bahwa tempat tersebut seluas ruang di antara langit dan bumi, bentuknya datar secara keseluruhan. Kemilau putihnya menyilaukan kedua mataku. Pada setiap pinggirnya, mimbar yang tidak terhitung telah dipancang dengan platform lain yang tidak terhitung yang bercahaya terbentang hingga di (bagian) belakangnya. Di tengah-tengah dijumpai sebuah mimbar yang melebihi mimbar-mimbar selebihnya. Darinya memancar cahaya bagaikan cahaya mentari. Satu kilasan saja memadai dalam menyilaukan mata yang menyaksikan dan keindahannya luar biasa mempesona. Sahabatku yang orang asing ini memberitahu bahwa mereka yang duduk di mimbar-mimbar yang pertama adalah para nabi Allah sementara mereka yang duduk di mimbar-mimbar lain adalah para sufi Allah.

Para nabi dan sufi ini mengangkat tangan mereka dan berdoa, dan pada saat yang sama mengarahkan kepala mereka menuju Singgasana Yang Tinggi. Tetapi, mimbar yang agung dan luar biasa yang berada di tengah tidak didiami siapa pun. Aku mengajukan pertanyaan kepada pemanduku: “Apa yang mereka tengah pandang, para nabi dan sufi yang menengadahkan tangan dan kepala mereka? Apa nama dan panggilan mimbar yang berada di tengah tersebut, dan kepunyaan siapakah ia?” “Ia,” dia menjawab, “adalah maqam terpuji yang tentangnya kita membaca di dalam al-Qur’an, Sesuatu yang Membuktikan Yang Mempunyai Kekuatan. Maqam tersebut adalah kepunyaan kekasih Allah. Putera mahkota dua alam yang akan naik pada mimbar ini dan membungakan hati orang-orang yang membangkang dan berdosa di kalangan umat beliau, dengan memberikan syafaat agar mereka memperoleh ampunan.”

Aku menjadi semakin ingin tahu, dengan demikian aku selanjutnya mengajukan pertanyaan: “Mimbar ini adalah kepunyaan Rasulullah yang diberkahi, tetapi mengapa beliau tidak berada di sana, mengapa ia berdiri tidak dihuni sementara nabi-nabi lain duduk di mimbar mereka dan berdoa?” Sahabatku menjelaskan: “Allah telah mengizinkan kekasih-Nya memberikan syafaat dari mimbar ini kepada siapa saja yang sejak zaman Adam as hingga Hari Kebangkitan telah mengucapkan penegasan tentang keesaan Allah dan tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu apa pun. Sesungguhnya meski Sang Pencipta alam semesta telah menjanjikan mengampuni mereka yang telah memperoleh syafaat, Rasulullah belum memperoleh kepuasan dalam memberikan syafaat tersebut dan pergi untuk mengulang permohonannya kepada Allah. Di sana, beliau akan memohon rahmat bagi sejumlah manusia pembangkang dan pendosa di kalangan umat beliau dengan berdoa disertai kerendahan hati [agar Allah] berkenan memberikan ampunan-Nya. Inilah mengapa mimbar beliau berdiri tidak dihuni. Maqam ini adalah kepunyaan Allah.”

Merasa lebih berbahagia, aku mengajukan pertanyaan, dalam rangka memperoleh apa para nabi dan sufi berdoa. Aku diberitahu: “Karena para nabi dan sufi Allah sendiri tidak mampu memberikan syafaat kepada orang lain, mereka memohon kepada pemimpin para Rasul agar memberikan syafaat bagi mereka dan umat mereka.” Tidak lagi mampu menahan ketidaksabaranku, aku minta tolong: “Bersediakah engkau mengantarku menuju rahmat bagi seluruh umat manusia?” Inilah jawaban yang aku terima: “Tidak ada sesuatu pun yang lebih indah daripada mengantar seorang pencinta menuju yang dicintainya. Pejamkan kedua matamu.” Aku menurut, dan saat aku membuka lagi kedua mataku, aku mendapati diriku di hadapan Singgasana Luhur yang memancarkan cahaya bagaikan cahaya mentari. Di hadapannya, terpancang sebuah mimbar bertatahkan mutiara merah di bawah dan zamrud di atas. Pada mimbar yang luar biasa, putera mahkota dua alam bersujud dalam peribadatan dan menangis saat beliau berdoa: “Umatku, umatku!” Aku tidak mampu memuat kebahagiaan yang melimpah ruah, yang aku rasakan saat berjumpa dengan beliau, tetapi ketakutan dan kekaguman menyebabkanku membisu. Beliau berdoa: “Ya Tuhanku, berikan kepadaku umatku. Limpahkan cinta kasih kepada mereka. Limpahkan kepada umatku ampunan-Mu.”

Tiba-tiba suatu suara terdengar dari alam gaib: “Wahai kekasih-Ku, engkau mengatakan bahwa umatmu lemah dan malang, bukan bahwa ia tidak kafir, membangkang, dan pendosa.” Nabi melanjutkan munajat beliau, dengan mengucapkan: “Tuhanku, Engkau Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Sesungguhnya, mereka kafir, membangkang, dan pendosa, tetapi mereka bukan musyrik, mereka mengucapkan penegasan tentang keesaan ketuhanan-Mu. Mereka meyakini Keesaan-Mu dan menyatakannya saat mereka bertasbih kepada-Mu dengan setiap tarikan nafas. Mereka tidak menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang lain.”

Aku tidak mampu menahan air mata, ya Rasulullah, aku tiba untuk melihat ridhamu yang indah. Alangkah engkau mengalami penderitaan dikarenakan oleh umat engkau dan alangkah engkau mengalami derita demi mereka! Allah swt telah menganugerahkan kepadaku kesatuan dengan keindahanmu ini. Aku mohon engkau tidak menjauhkan ridhamu yang diberkahi dariku.

Nabi mengangkat kepala dari posisi bersujud, beliau memandangku dengan ramah dan berkata dalam suara yang sarat kesedihan: “Hal al-shiddiq, bagaimana mungkin aku tidak menarik nafas panjang kesedihan dan tertekan? Aku baru akan merasakan ketenangan hati dan kedamaian pikiran setelah Allah memberikan ampunan kepada umatku. Begitu umatku memperoleh berkah ampunan Allah, baru penderitaanku sirna dan baru hatiku berbunga. Kewajibanku adalah berdoa kepada Allah, demi umatku, sepanjang waktu.” Aku selanjutnya mengatakan, “Ibu dan bapakku sebagai jaminan bagimu, ya Rasulullah! Apakah Allah telah membuatmu berbahagia dengan memberikan padamu seluruh umatmu?” Beliau menjawab, “Alhamdulillah, ya, Dia telah memberikan yang aku mau.”

Aku mengalami kebangkitan dari tidur, setelah aku mendengar berita bahagia ini. Setelah aku mengalami kebangkitan dari tidur, berita bahagia yang sama diulang tiga kali, dan aku mendengar tiga kata: “Mereka semua… Seluruhnya… Seluruhnya…”

Para sahabat yang punya kemuliaan, kini kalian mengetahui mengapa aku meneteskan air mata. Sebab, kebahagiaan yang aku rasakan saat menerima berita ini. Aku minta dengan hormat agar kalian hadir di sini, dan dengan demikian aku berkesempatan memberitahukan mimpiku dan berita bahagia ini kepada kalian semua.’”

Nabi saw berkata, “Aku akan memberikan syafaat kepada umatku, demi mereka, hingga Dia memanggilku, dengan berkata: ‘Apakah engkau ridha, Muhammad?’ Aku mengatakan, ‘Ya, Tuhanku, aku ridha.’”

——————————————————————————————————————————————————

“Apabila Allah ta’ala berkehendak menurunkan rahmat kepada suatu umat, maka Allah mewafatkan nabinya sebelum umat itu binasa, di mana nabi itu menjadi perintis jalan dan simpanan bagi umat itu. Dan apabila Allah berkehendak menyiksa suatu umat, maka disiksa-Nya umat itu sewaktu nabinya masih hidup supaya nabi itu melihat dan merasa lega atas binasanya umat itu dikarenakan mendustakan dan mendurhakai perintahnya.” (HR Muslim, dari Abu Musa al-Asyariy ra)

——————————————————————————————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s