Saat-saat yang Mendebarkan

(Sumber: Mohamad Zaka Al Farisi, “Like Father Like Son, Untaian Kisah-kisah Penuh Hikmah”, Bandung: MQ Gress, Cet. II, Maret 2008, hal. 128-135)

Menempuh perjalanan jauh benar-benar melelahkan. Capek, keringat bercucuran, belum lagi baju kotor dan bau. Demikian kondisi pemuda ini saat melepas lelah. Dia memilih beristirahat di bawah pohon rindang di sebuah kebun yang tidak terlalu luas. Kuda ditambatkan di sebuah pohon lain yang tak jauh dari tempatnya beristirahat.

Angin sepoi-sepoi menelisik tubuh si pemuda. Tak terasa, si pemuda pun tertidur pulas. Sementara itu, kudanya asyik melahap tanaman yang ada di dalam kebun.

Sesosok berbaju hitam berjalan perlahan, wajahnya merah padam menahan amarah. Persis di depan si pemuda, orang itu berdiri berkacak pinggang dan kepalanya menggeleng-geleng.

Orang ini adalah petani pemilik kebun. Kemudian, tangannya mengepal keras, sesekali terdengar giginya gemeretak. Si petani marah besar melihat kebunnya rusak. Semua tanaman habis dilahap kuda milik si pemuda. Tidak bisa membendung amarah, si petani langsung membunuh kuda itu.

Saat terjaga, si pemuda bangkit dan menuju tempat kudanya ditambatkan. Sesampai di sana, tentu saja si pemuda kelabakan mencari kuda ke sana kemari. Setelah lama mencari, akhirnya kuda ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Pemuda itu sangat marah, kesal, dan dendam. Tekadnya kini sudah bulat, harus mencari orang yang membunuh kudanya. Si pembunuh harus membayar mahal atas tindakan yang dilakukan terhadap kuda kesayangannya.

Si pemuda terus berjalan, sampai menemukan sebuah rumah yang terletak tidak jauh dari tempatnya beristirahat. Perasaan curiga muncul di benak si pemuda. Di halaman rumah ini terdapat bercak darah yang sudah mengering. Lalu, dia menggedor-gedor pintu depan rumah itu. Si petani membukakan pintu.

Kecurigaan si pemuda semakin kuat, di baju si petani terdapat bercak darah. ‘Pasti orang ini pelakunya,’ pikir si pemuda. Kemudian, terjadilah adu mulut saling menyalahkan dan saling merendahkan. Akhirnya, perkelahian pun tak terelakkan.

Si petani mulai kalah karena tubuhnya tidak sekuat dulu ketika masih muda. Si pemuda menendang si petani tepat di ulu hatinya. Akhirnya, si petani tewas seketika.

Suara gaduh mengundang perhatian banyak orang. Berbondong-bondong penduduk kampung berdatangan, mereka melihat sendiri perkelahian itu. Beberapa orang mencoba menangkap si pemuda. Tanpa perlawanan sedikit pun, si pemuda berhasil diringkus. Dia diseret kepada khalifah untuk diadili.

Sesuai dengan hukum yang berlaku, pembunuhan dibalas dengan pembunuhan. Khalifah akan menerapkan hukum qishas untuk kasus ini. Tidak ada cara lain, sebab ahli waris si terbunuh menolak pembayaran diat. Beberapa algojo dipanggil untuk menjalankan eksekusi. Namun, sebelumnya si pemuda dijebloskan dulu ke dalam penjara.

Keesokan harinya, si pemuda sudah dibawa ke tempat eksekusi. Dia hanya bisa pasrah. Rencananya, tepat pukul enam pagi sipemuda akan dipancung. Para algojo sudah berdiri tegak siap menjalankan perintah.

Sebelum pemancungan dilaksanakan, si pemuda mengajukan satu permintaan. Dia memohon supaya diperbolehkan pulang dulu. Alasannya, dia masih mempunyai suatu persoalan yang harus segera diselesaikan dengan ibunya.

Tentu saja khalifah keberatan mengabulkan permintaan itu. Alasannya sangat jelas, khawatir si pemuda kabur dan itu hanya kal-akalan si pemuda. Namun, si pemuda tidak berputus asa. Dia terus berusaha meyakinkan khalifah agar memberinya kesempatan untuk bertemu dengan sang ibu untuk menyelesaikan sebuah tanggung jawab sebelum menjalani hukuman mati. Dengan nada memelas, dia berjanji akan segera kembali begitu urusannya selesai.

Hati khalifah akhirnya luluh juga. Meskipun begitu, khalifah tidak bisa mengubah keputusan begitu saja. Khalifah pun meminta persetujuan anak si petani. Namun, anak si petani tidak mengizinkan si pemuda pergi. Dia tidak yakin kalau si pemuda akan menepati janjinya.

Si pemuda berkali-kali membujuk dan bersumpah akan datang tepat pada waktunya. Akan tetapi, tidak ada seorang pun dari keluarga si petani yang bersimpati kepadanya. Hal ini jelas membuat si pemuda harus kecewa karena tidak diberi kesempatan untuk menuntaskan urusan yang sangat mengganggu pikirannya. Si pemuda juga kecewa karena tidak ada yang percaya kepadanya.

Suasana berubah hening. Si pemuda tidak bisa menyembunyikan kekecewaan, kesal, dan sakit hati. Namun, di tengah-tengah keheningan itu tampillah seseorang. Orang ini berjalan menuju tempat duduk khalifah. Di depan khalifah, orang yang bernama Abu Dzar ini menyatakan kesanggupan untuk menjadi jaminan bagi si pemuda.

Khalifah bertanya kepada Abu Dzar mengenai alasan kenapa mau mempertaruhkan nyawa untuk menolong seorang pemuda asing. Abu Dzar menyatakan bahwa semua ini dilakukan demi kemuliaan Islam. Dikatakan pula bahwa dia sangat malu tidak ada seorang pun yang mau mengabulkan keinginan mulia si pemuda.

Akhirnya, si pemuda diperkenankan pulang ke rumahnya dnegan jaminan langsung dari Abu Dzar. Si pemuda melinjak kegirangan. Sekarang khalifah tidak punya alasan untuk mencegah dia pergi menemui ibunya. Sebuah jaminan dari orang terpercaya sekaliber Abu Dzar jelas tidak bisa diabaikan.

Si pemuda terlihat gembira, lain halnya dengan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu. Mereka tercengang melihat keberanian ABu Dzar yang mempertaruhkan nyawa demi seorang pemuda yang tidak dikenalnya. Malahan, sebagian ada pula yang mencemooh Abu Dzar.

Si pemuda kemudian menaiki kuda. Dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang sangat terbatas ini. Sebab, keesokan harinya dia harus sudah berada di tempat eksekusi. Di pihak lain, Abu Dzar dimasukkan ke penjara sebagai jaminan. Jika pada waktu eksekusi si pemuda tidak kembali, Abu Dzar yang akan menggantikannya.

Keesokan harinya, tempat eksekusi sudah dipenuhi orang yang ingin menyaksikan jalannya eksekusi. Mereka khawatir jika si pemuda tidak kembali, Abu Dzar harus mati di tempat eksekusi.

Menjelang matahari naik, orang-orang mulai ramai. Banyak yang beranggapan bahwa Abu Dzar akan dipancung. Pasalnya, si pemuda belum juga kembali, padahal pelaksanaan eksekusi tidak lama lagi. Tidak sedikit pula yang memaki-maki si pemuda.

“Sudah pembunuh, tukang bohong lagi!” celetuk seseorang.

“Iya, benar,” jawab yang lain.

“Saya tidak rela kalau orang sesaleh Abu Dzar sampai dihukum mati,” yang lain menambahkan.

Waktu terus berjalan. Keadaan semakin mencekam, terlebih lagi menjelang menit-menit pelaksanaan eksekusi, si pemuda belum muncul. Abu Dzar terlihat tenang, sedikit pun wajahnya tidak menunjukkan ketakutan. Beliau pasrah kepada Allah, termasuk menghadapi kemungkinan paling buruk sekalipun.

Dari kejauhan, terlihat debu membumbung tinggi. Suara derap kuda semakin lama semakin jelas terdengar. Semua mata tertuju ke arah datangnya suara kuda yang dipacu dengan sangat kencang. Begitu si penunggang kuda berhenti, orang-orang bernafas lega. Ternyata yang datang adalah si pemuda. Orang-orang yang sebelumnya mengolok-olok si pemuda, kini berbalik memuji-muji.

Tepat sekali seperti yang dijanjikan, si pemuda sudah berada di lokasi. Si pemuda lalu turun dari kuda, kemudian menghadap khalifah untuk meminta maaf karena hampir terlambat. Dijelaskan bahwa semestinya dia tiba lebih awal, tetapi di perjalanan tali kekang kudanya putus dan harus memperbaikinya.

“Kalau boleh tahu, sebenarnya ada urusan apa hingga Anda bersikeras untuk pulang dahulu?” tanya khalifah.

“Saya mengurus beberapa anak yatim. Sebelum meninggal, saya harus menjelaskan dulu beberapa hal yang berkaitan dengan mereka, termasuk misalnya mengenai harta peninggalan orangtua mereka yang dititipkan kepada saya. Adapun ibu saya, tidak mengetahui hal ini. Jadi, saya pulang untuk menjelaskan semua itu kepada ibu saya.”

Setelah mohon diri, si pemuda menemui Abu Dzar untuk mengucapkan terima kasih. Kemudian, dengan tenang si pemuda berjalan menuju tempat eksekusi. Tangan si pemuda sudah diikat. Algojo sudah mengeluarkan sebilah pedang yang tajam mengkilat. Saat pedang diayunkan, tiba-tiba terdengar teriakan nyaring. Ternyata, keluarga si petani meminta supaya eksekusi dibatalkan. Mereka telah memaafkan si pemuda karena begitu tersentuh dengan kejujurannya.

——————————————————————————————————————————————————

“Sesungguhnya orang-orang Mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS al-Hujuraat [49]: 10)

——————————————————————————————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s