Pencuri versus ‘Abid

(Sumber: Mohamad Zaka Al Farisi, “Like Father Like Son, Untaian Kisah-kisah Penuh Hikmah”, Bandung: MQ Gress, Cet. II, Maret 2008, hal. 244-248)

Tersebutlah seorang pria yang berprofesi sebagai pencuri dan hidup di zaman Nabi Musa. Sudah empat puluh tahun profesi ini dia geluti.

Secara kebetulan, pada suatu hari pria ini melihat melihat Nabi Musa. Ketika itu, Nabi Musa sedang berjalan seorang diri. Terbersit di dalam benak si pria untuk mendekati Nabi Musa. Ada keinginan di dalam hatinya untuk ikut menemani perjalanan Nabi Musa. Dalam hati, si pria berujar, “Apabila aku berjalan bersama Nabi Musa, barangkali aku bisa mendapatkan secercah hikmah dari beliau.”

Namun, niat itu urung dilaksanakan. Setelah dipikir berkali-kali, si pria merasa tidak layak menemani perjalanan Nabi Musa. Dia merasa dirinya kotor penuh dosa. Mana boleh seorang pendosa mendampingi perjalanan seorang nabi suci, seperti Nabi Musa. Oleh karena itu, dia bergumam, “Aku seorang pencuri, sungguh tidak pantas pencuri sepertiku berjalan bersama seorang nabi yang mulia.”

Tidak begitu lama setelah pria ini bergumam, datanglah seorang ‘abid. Nafasnya tersengal-sengal, peluh membasahi tubuh, baju pun terlihat lusuh. Rupanya, si ‘abid sudah cukup lama berlari-lari menyusul Nabi Musa.

Prestasi si ‘abid cukup luar biasa. Setidaknya, dia sudah beribadah dengan tekun selama empat puluh tahun. Namanya cukup terkenal, orangnya cukup supel dan pandai bergaul.

Melihat seorang ‘abid datang, timbul lagi keinginan di benak si pencuri untuk berjalan bersama si ‘abid. “Ya, ini kesempatan. Aku bisa berjalan bersama ‘abid. Mudah-mudahan saja aku bisa mengambil banyak manfaat dari dia,” batin si pencuri.

Tanpa berpikir panjang lagi, si pencuri berlari kecil menghampiri si ‘abid. Serta-merta dia meminta izin agar bisa menemani perjalanan si ‘abid. Melihat yang datang itu seorang pencuri, karuan saja si ‘abid sangat terkejut. Maklum saja, pencuri ini sangat terkenal di seluruh negeri.

“Celaka! Bisa rusak reputasiku sebagai ‘abid apabila berjalan bersama seorang pencuri. Apa kata orang nanti,” gumam si ‘abid.

Tanpa basa-basi, si ‘abid langsung berlari tanpa menoleh. Sebisa mungkin dia harus menjauh dari si pencuri. Malangnya, si pencuri malah terus mengikuti. Sepertinya, dia tidak peduli dengan sikap si ‘abid yang sangat ketakutan. Akhirnya, baik si ‘abid maupun si pencuri, sama-sama sampai di depan Nabi Musa.

Tanpa melihat kepada kedua orang ini, Nabi Musa berkata, “Baru saja aku mendapat wahyu tentang kalian.”

“Apa boleh kami tahu?” tanya mereka serempak.

“Allah mengatakan bahwa segala amal kalian, baik dan buruk, telah dihapuskan. Kini, kalian mulai dari nol lagi.”

Baik si pencuri maupun si ‘abid jelas sekali terkejut. Si pencuri terkejut karena senang. Siapa sangka dosa yang sudah menggunung itu ternyata dihapuskan oleh Allah. Bayangkan empat puluh tahun mencuri, betapa banyak dosa yang telah diperbuat. Si pencuri merasa sangat bahagia dan tiada hentinya memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah.

Lain halnya dengan si ‘abid. Meskipun sama-sama terkejut, tetapi terkejut karena sangat kecewa. Bagaimana tidak, hampir empat puluh tahun dia rajin beribadah. Selama itu pula, dia meninggalkan berbagai macam kesenangan dunia. Tetapi, hari ini semua amal baiknya hilang hanya dalam waktu sehari.

Si pencuri memang suka mencuri. Tetapi, hati kecilnya tidak rela mengambil hak orang lain. Dia terpaksa melakukan semua itu demi menafkahi keluarganya yang miskin.

Itu sebabnya, setiap kali mencuri, batinnya merasa tersiksa dan berdosa. Hampir empat puluh tahun dia harus menanggung perasaan bersalah terus-menerus. Namun, harapan akan ampunan dan kasih sayang Allah tiada pernah pudar.

Berbeda halnya dengan si ‘abid yang begitu yakin bahwa ibadahnya selama kurang lebih empat puluh tahun dapat menyelamatkan dirinya. Hatinya begitu yakin bahwa dengan ibadah selama itu, dia layak di surga. Dia yakin bahwa ibadahnya dapat menjauhkan dirinya dari neraka, bertambah saleh, dan lebih mulia. Ada perasaan bangga menyenlinap di dalam hatinya ketika menjalankan ibadah. Perasaan inilah yang membuat dia enggan bergaul dengan orang-orang jahat, termasuk dengan si pencuri. Menurut perasaannya, dia merasa hanya pantas berjalan bersama para nabi.

Maha Suci Allah yang mengetahui segala rahasia hati manusia. Dia tidak hanya melihat amal-amal yang tampak, tetapi juga apa yang terbersit di dalam hati manusia. Dia memberikan perintah kepada hamba-hamba-Nya untuk dilaksanakan semampu mereka. Dia tidak memberikan beban melebihi kesanggupan hamba-hamba-Nya.

——————————————————————————————————————————————————

“Apabila kamu tidak pernah berbuat dosa maka Allah Tabaroka Wata’ala akan menciptakan makhluk lain yang berbuat dosa kemudian Allah mengampuni mereka.” (HR Muslim)

“Suatu keburukan yang membuatmu sedih dan menyesal lebih baik di sisi Allah daripada kebaikan yang menyebabkan kamu bangga dan sombong.” (Ulama)

“Mungkin saja Anda ditakdirkan bermaksiat untuk tujuan suatu hikmah yaitu maksiat yang menyebabkan pelakunya jatuh dan terhina, dan itu lebih baik daripada orang yang selalu membanggakan diri, angkuh, dan sombong.” (Ulama)

——————————————————————————————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s