Pemimpin dan Penyihir

Oleh: Herry Nurdi
(Sumber: Muhasabah, Sabili No. 25 TH. XVI 2 Juli 2009 / 9 Rajab 1430, hal 14)

Syahdan, hiduplah seorang penyihir jahat di dalam wilayah kerajaan yang kaya raya. Sang penyihir begitu terobsesi untuk merebut kekuasaan dan menyingkirkan raja dan permaisurinya yang begitu dicintai rakyatnya. Untuk mewujudkan usahanya itu, ia meramu sebuah ramuan khusus yang mampu membuat siapa saja yang menghirupnya, menjadi hilang ingatan dan berkelakuan gila.

Di seluruh penjuru negeri ramuan ditebar dan ditaburkan. Dan dalam waktu singkat, seluruh penduduk di kerajaan itu menjadi kehilangan kewarasan. Perilaku gila melanda di mana-mana. Hanya raja, permaisuri, dan beberapa punggawa setia saja yang masih memiliki kewarasan sejati. Tapi justru di sinilah letak ironi. Ketika semua orang telah menjadi gila, yang waras justru muncul dan nampak sebagai manusia paling gila. Rakyat pun berduyun-duyun menuntut raja dan permaisuri harus turun dari singgasana. Mereka dianggap tak sama dengan rakyat.

Penyihir jahat terkekeh ria. Tapi raja tak mau kehilangan singgasananya. Ia mengetahui rahasia ramuan sang penyihir. Dan sang raja berkata pada permaisuri, “Kita harus menjadi bagian dari mereka, jika tidak ingin tertimpa bencana.” Maka keduanya menghirup ramuan, dan dalam sekejap hilang kewarasan. Rakyat senang, menyambut kembali raja mereka yang telah lama hilang dalam kewarasannya. Dan seluruh negeri, kini telah gila. Kegilaan yang mereka anggap sebagai kewarasan. Kini tinggal penyihir yang bersedih, karena rencananya gagal. Dan ia menjadi satu-satunya orang yang waras. Tapi ia juga menjadi satu-satunya orang waras yang jahat!

Dipaksa gila. Semua harus menjadi gila. Jangan-jangan kita juga sedang menuju fenomena yang sama. Negeri kita menjadi negeri yang gila. Rakyatnya juga memiliki kecenderungan yang sama. Lalu para pemimpinnya dengan sengaja menghilangkan kewarasan agar tetap berkuasa. Jika memang demikian, seharusnya ada penyihir di luar sana yang menghendaki segala kegilaan ini. Apakah ada penyihir itu? Siapa? Jangan-jangan, kita tak perlu seorang penyihir untuk menjadi gila?

——————————————————————————————————————————————————

“Runtuhnya fungsi akal kebanyakan disebabkan oleh tuntutan kerakusan.” (Pepatah)

——————————————————————————————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s