Kesederhanaan Sang Khalifah

(Sumber: Mohamad Zaka Al Farisi, “Like Father Like Son, Untaian Kisah-kisah Penuh Hikmah”, Bandung: MQ Gress, Cet. II, Maret 2008, hal. 176-179)

Ketika itu, Umar bin Abdul Aziz menyampaikan pidato. Di hadapan kaum Muslimin, beliau memaparkan kebijakannya sebagai khalifah. Pidato beliau sangat menarik, lugas, tegas, dan mudah dipahami oleh orang awam sekalipun. Banyak orang yang terpana mendengar pemaparannya.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz mempunyai kemampuan retorika yang bagus. Pidatonya mampu memukau hadirin. Kata-katanya sanggup membuat orang-orang terpana. Namun, kali ini ada sesuatu yang lain. Orang-orang memperhatikan gerak-gerik khalifah yang agak ganjil karena gerak-gerik ini sama sekali tidak berhubungan dengan materi pidato. Tidak seperti biasanya, khalifah sering memegang dan mengibas-ngibaskan bajunya saat berpidato. Kadang ke sebelah kanan, kadang ke sebelah kiri.

Usai berpidato, khalifah turun dari podium. Spontan, seseorang menanyakan tentang gerak-gerik khalifah yang ganjil tadi. Setelah diberikan penjelasan, tahulah mereka bahwa ternyata baju yang dipakai khalifah baru saja dicuci. Baju itu belum kering benar. Mau tak mau, khalifah mengenakan baju itu karena tidak mempunyai baju yang lain. Baju yang masih basah tentu saja kurang nyaman dipakai. Akibatnya, berkali-kali khalifah mengibas-ngibaskan baju yang dipakainya pada saat berpidato agar cepat kering.

Pada suatu hari, seorang wanita Mesir sengaja datang ke Damaskus. Si wanita ingin bertemu dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Setiba di Damaskus, dia menanyakan tempat tinggal khalifah. Tentu saja, tempat tinggal khalifah bukan tempat yang asing bagi masyarakat sekitar. Beberapa orang memberitahu si wanita. Alhasil, dengan mudah si wanita dapat menemukan tempat yang hendak dituju.

Tiba di tempat yang dituju, si wanita bertemu dengan seorang perempuan yang berpakaian lusuh. Tidak jauh dari perempuan itu, terlihat seorang laki-laki belepotan dengan tanah. Rupanya, orang ini sedang memperbaiki rumahnya yang rusak.

Setelah bertegur sapa, wanita Mesir itu sangat terkejut. Ternyata, perempuan yang ada di dekatnya ini adalah Fathimah, istri khalifah. Wanita itu terkejut karena melihat seorang istri kepala negara mengenakan pakaian lusuh dan kumal seperti itu. Namun, di balik keterkejutannya itu, sesungguhnya si wanita merasa sangat kagum. Apalagi melihat sikap Fathimah yang demikian ramah dan sopan. Tidak heran kalau si wanita sangat menyukainya.

“Kenapa sebagian aurat Nyonya tidak tertutup? Padahal, di dekat Nyonya ada seorang pria tukang kuli?” tanya si wanita kepada Fathimah.

“Tukang kuli itu adalah suami saya. Beliau adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz,” jawab Fathimah sambil menyungging senyum.

“Subhaanallaah!” Si wanita berseru kaget. Sekali lagi dia benar-benar terkejut. “Terus, ke mana para pelayan?”

“Kami hanya mempunyai seorang pelayan. Itu pun masih remaja,” ujar Fathimah seraya menunjuk ke arah seseorang yang berdiri tidak jauh dari tempat tersebut.

“Kok, tubuhnya kurus? Kalau boleh tahu, makanan apa yang biasa diberikan kepadanya?”

“Setiap hari, kami memberinya makan kacang.”

“Pasti si pelayan bosan.”

“Benar. Bahkan, kerap kali dia menggerutu.”

“Wajar saja. Apa tidak ada makanan yang lebih baik untuknya?”

“Itulah makanan kami. Saya dan khalifah juga makan kacang setiap hari.”

——————————————————————————————————————————————————

“Hiduplah di dunia dengan berzuhud (bersahaja), maka kamu akan dicintai Allah, dan jangan tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia.” (HR. Ibnu Majah)

——————————————————————————————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s