Tak Sebaik Musa, Tak Sejahat Fir’aun

(Sumber: Mohamad Zaka Al Farisi, “Like Father Like Son, Untaian Kisah-kisah Penuh Hikmah”, Bandung: MQ Gress, Cet. II, Maret 2008, hal. 191-195)

Lazimnya, seorang khalifah itu dicintai rakyatnya. Sayangnya, tidak semua khalifah seperti itu, misalnya Khalifah al-Ma’mun. Khalifah yang satu ini kurang dicintai rakyatnya karena berbagai keputusannya dinilai kurang bijak dan perilakunya kurang terpuji. Sebagai khalifah, mestinya al-Ma’mun menjadi teladan bagi rakyat dalam berbuat kebaikan. Namun, yang terjadi malah sebaliknya.

Kiranya wajar kalau tidak sedikit ulama dan shaalihiin yang memusuhi Khalifah al-Ma’mun. Tidak jarang pula mereka menyerang sikap dan perilakunya yang menyimpang. Tidak terlalu mengherankan apabila mimbar-mimbar keagamaan kerap dimanfaatkan para ulama untuk menyindir sikap dan perbuatan Khalifah al-Ma’mun, dan yang lebih gencar adalah menyeru rakyat supaya mau melawan kemungkaran dan kezaliman penguasa. Namun, sejauh ini belum ada seorang pun yang berani terang-terangan menghina Khalifah al-Ma’mun.

Kasus yang satu ini terjadi pada hari Jumat. Waktu itu, Khalifah al-Ma’mun mengunjungi Kota Bashrah. Beberapa saat menjelang adzan Jumat, khalifah pergi ke masjid agung kota untuk menunaikan ibadah Jumat. Entah tidak tahu atau disengaja, tiba-tiba penceramah menyebutkan nama Khalifah al-Ma’mun dengan nada sinis dan kurang sopan. Tidak hanya itu, secara terang-terangan penceramah juga membongkar berbagai kejelekan khalifah dengan suara lantang.

Mendengar kecaman itu, Khalifah al-Ma’mun hanya mengelus dada. Dia mencoba berbaik sangka. Barangkali si penceramah sedang punya masalah ditambah lagi udara yang begitu panas sehingga emosinya tidak terkendali.

Namun, kejadian yang sama terulang kembali. Khalifah al-Ma’mun mendapat kecaman yang kurang lebih isinya sama dengan ceramah sebelumnya. Penceramah masih orang yang sama. Tetapi, yang berbeda hanyalah masjidnya. Dalam khutbah, si penceramah berujar, “Semoga khalifah yang sewenang-wenang itu mendapat laknat Allah.”

Habis sudah kesabaran Khalifah al-Ma’mun. Begitu selesai shalat Jumat, Khalifah al-Ma’mun memberikan perintah kepada pembantunya untuk menangkap si penceramah. Tak bisa menolak, apalagi melawan, si penceramah kemudian digelandang ke istana oleh beberapa orang pengawal yang bertubuh tegap dan bertenaga kuat.

Begitu sampai di istana, Khalifah al-Ma’mun langsung menginterogasi si penceramah.

“Kamu penceramah di masjid itu, ya?”

“Benar, Tuan.”

“Kalau begitu, tolong jawab dengan jujur. Menurutmu, mana yang lebih baik, kamu atau Nabi Musa?”

“Sudah pasti Nabi Musa. Beliau lebih baik daripada saya. Tuan juga tahu, bukan?” jawab si penceramah tanpa ada rasa takut.

“Ya, benar. Saya juga sependapat. Masih ada satu lagi pertanyaan. Siapakah yang lebih jahat, saya atau Fir’aun?”

Kali ini, si penceramah agak tergagap. Sama sekali pertanyaan kedua ini tidak disangkanya. Dia paham ke mana arah pertanyaan khalifah ini. Bagaimanapun, dia harus menjawab pertanyaan itu dengan sejujur-jujurnya.

“Menurut pendapat saya, Fir’aun masih lebih jahat daripada Tuan.”

“Saya juga sependapat dengan apa yang Anda katakan. Semua orang tahu kekejaman Fir’aun. Bayi-bayi dibunuh, yang berani menentang sudah pasti diberangus. Tidak hanya kejam, Fir’aun juga dengan pongah mengaku sebagai tuhan. Walaupun begitu, Allah menyuruh Nabi Musa supaya bertutur kata santun kepada orang sejahat Fir’aun. Coba Anda bacakan ayat yang dimaksud!”

“Berbicaralah kamu kepada Fir’aun dengan kata-kata yang santun. Mudah-mudahan saja Fir’aun mau ingat dan takut,” (QS Thaha [20]: 44) si penceramah gugup membaca ayat tersebut.

Khalifah al-Ma’mun tersenyum melihat si penceramah seperti salah tingkah.

“Nah, kepada Fir’aun saja seperti itu. Terus, salahkah kalau saya meminta Anda untuk menegur saya dengan kata-kata yang lebih santun?”

Si penceramah bungkam. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya, walaupun sebenarnya dia masih ingin mengecam Khalifah al-Ma’mun dengan lebih pedas lagi. Namun, dia harus mengamalkan al-Quran sebagai pedoman hidup yang harus terus dipegang sepanjang hayat.

Akhirnya, sejak kejadian itu si penceramah senantiasa berkhutbah dengan santun dan menyentuh. Dakwah bukan mencari kepuasan, melainkan memberikan kejelasan. Hasilnya, semakin banyak orang yang tertarik dengan nasihat-nasihatnya. Banyak orang yang berubah dari maksiat menjadi taat, dari sesat menjadi tobat, dan dari ingkar menjadi benar.

——————————————————————————————————————————————————

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushshilat [41]: 35)

——————————————————————————————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s