Mahalnya Pemimpin

Oleh: Herry Nurdi
(Sumber: Sabili No. 17 TH. XVI 12 Maret 2009 / 15 Rabiul Awal 1430, hal. 12-13)

Saya teringat kisah tentang Muhammad al-Fatih ketika masuk dan menaklukkan kota Konstantinopel, atau kini yang lebih kita kenaI dengan sebutan Istanbul. Pertempuran selesai dan reda, pada hari Rabu saat itu. Setelah cukup beristirahat, Muhammad al-Fatih mengumpulkan seluruh pasukannya di tanah lapang pada keesokan hari.

Hari Kamis, Muhammad al-Fatih mengumpulkan pasukannya hanya untuk satu tujuan: memilih imam untuk shalat Jumat, besok hari. Seluruh pasukan berkumpul di tanah lapang, dan Muhammad al-Fatih mulai mengajukan tiga pertanyaan.

Pertanyaan pertama, “Barang siapa sejak aqil baligh sampai hari ini, pernah meninggalkan shalat fardhu, meski sekali, silakan duduk!”

Ketika pertanyaan pertama diajukan, jawabannya sungguh luar biasa. Tak seorang pun dari pasukannya yang duduk. Artinya, tak seorang pun dari pasukannya pernah meninggalkan shalat fardhu. Duhai, betapa hebat-hebat kualitas keimanan pasukan Muhammad al-Fatih ini.

Pertanyaan kedua, “Barang siapa sejak aqil baligh sampai hari ini, pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib, meski sekali, silakan duduk!”

Ketika pertanyaan kedua diajukan, setengah dari pasukannya duduk. Artinya, secara jujur mereka mengakui bahwa setengah dari pasukan pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib. Itu pun sungguh luar biasa, menjaga shalat sunnah rawatib. Siapa yang pernah memikirkannya seserius ini.

Pertanyaan ketiga, “Barangsiapa sejak aqil baligh sampai hari ini, pernah meninggalkan qiyamul lail, meski hanya semalam, silakan duduk!”

Ketika pertanyaan ketiga diajukan, semua pasukan terduduk dan hanya menyisakan Muhammad Fatih sendiri yang berdiri. Artinya, dari semua orang yang hadir, hampir semuanya pernah meninggalkan qiyamul lail dan hanya Muhammad al-Fatih sendiri yang tak pernah meninggalkan.

Duhai, alangkah nikmatnya dipimpin oleh seorang pemimpin yang tak pernah meninggalkan shalat malam. Dan sungguh, betapa murahnya jika kita memiliki metode pemilihan langsung seperti ini. Pertanyaannya kini adalah, masih adakah seorang pemimpin saat ini yang mampu berdiri sampai akhir pertanyaan?

——————————————————————————————————————————————————

Saat Konstantinopel morat marut diserang tentara muslim, kaisarnya datang ke lokasi, di sana dia bertanya kepada pasukannya, “Apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa kalah? Apa kalian kalah jumlah?”, lalu seorang prajurit senior menjawab, “Tidak wahai kaisar, kami tidak kalah jumlah malah kami selalu unggul dalam hal jumlah,” “Lalu kenapa kalian bisa kalah? Apa mereka bukan manusia,” “Sesungguhnya mereka manusia biasa seperti halnya kami, wahai baginda, tetapi saat malam hari mereka beribadah kepada Tuhannya sampai air mata membasahi janggut mereka, dan mereka tidak pernah berlaku buruk kepada para tawanan, tawanan yang mempunyai kemampuan baca tulis hanya diminta mengajar orang-orang yang buta aksara,” jawab sang prajurit.

“Kota Konstantinopel (Istanbul) akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335)

——————————————————————————————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s