Permata Itu Membuat Khalifah Terharu

(Sumber: Mohamad Zaka Al Farisi, “Like Father Like Son, Untaian Kisah-kisah Penuh Hikmah”, Bandung: MQ Gress, Cet. II, Maret 2008, hal. 201-216)

Ada seorang lelaki yang cukup lama tinggal di Baghdad. Pada suatu hari, rumah lelaki ini tertimpa pohon besar yang tumbang diterpa angin kencang. Kondisi sebagian rumahnya porak-poranda. Kerusakan terlihat cukup parah dan perlu perbaikan secepatnya. Kemudian, lelaki ini berangkat ke suatu tempat yang biasa dijadikan tempat mangkal oleh para buruh bangunan yang sedang menunggu pekerjaan.

Tak lama kemudian, lelaki ini sampai di tempat yang dituju. Rupanya, lelaki ini tidak tidak mau salah pilih orang. Dia hanya ingin mempekerjakan buruh yang rajin, hasil pekerjaannya rapi dan bagus. Agak lama lelaki ini memutar mata melihat-lihat para buruh satu per satu. Akhirnya, mata lelaki ini tertuju kepada seorang anak remaja yang masih berumur belasan tahun.

Sebenarnya, si remaja terlalu tampan untuk menjadi buruh bangunan dan pekerja kasar. Cukup lama lelaki ini menatap si remaja. Merasa ada yang memperhatikan, si remaja pun merasa penasaran.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya si remaja.

Lelaki ini tidak berkata-kata. Matanya masih tetap mengamati si remaja. Meskipun begitu, dia menjawab pertanyaan tadi dengan anggukan tanda mengiyakan.

“Apakah Tuan memerlukan saya untuk bekerja?”

“Benar, saya memerlukan orang yang bisa bekerja dengan rajin dan rapi. Apakah kau bersedia bekerja untuk saya, Nak?”

Kali ini, giliran si remaja yang mengangguk. “Ya, saya bersedia,” ujarnya singkat.

“Baiklah kalau begitu, kita berangkat sekarang!”

“Tunggu dulu, Tuan! Saya mau bekerja untuk Tuan, tetapi dengan beberapa syarat.”

“Beberapa syarat?” tanya lelaki ini dengan heran.

“Upah saya per hari adalah satu dirham.”

“Ya, memang biasanya sejumlah itu. Tidak ada masalah.”

“Kedua, bila terdengar kumandang adzan, mohon Tuan mengizinkan saya untuk menjalankan shalat berjamaah.”

“Itu baik. Masih ada syarat lain?”

“Tidak, hanya itu.”

“Baiklah, saya setuju.”

Mulailah si remaja bekerja. Hasilnya seperti yang sudah diduga, pekerjaan si remaja sangat memuaskan. Tidak hanya giat bekerja, tetapi juga hasil pekerjaannya rapi dan bagus. Di samping itu, akhlak si remaja membuat lelaki ini salut dengan kejujurannya.

Lebih salut lagi, setiap hari Senin dan Kamis si remaja selalu menjalankan shaum sunah. Ini diketahui pada saat dia disuguhi makanan, baik untuk sarapan maupun makan siang. Si remaja selalu menolak dengan alasan sedang shaum.

Saat matahari tepat berada di atas kepala, si remaja mengambil air wudhu lalu berangkat ke masjid. Dia tidak pernah tertinggal shalat berjamaah. Selesai shalat, dia kembali meneruskan pekerjaannya sampai menjelang ashar. Kumandang adzan membuat dia berhenti lagi bekerja, kemudian berangkat ke masjid untuk ikut shalat berjamaah. Sepulang dari shalat berjamaah, dia bekerja lagi sampai menjelang shalat Maghrib.

Tanpa sepengetahuan si remaja, sudah beberapa hari lelaki ini memperhatikan gerak-geriknya. Lelaki ini merasa kagum akan sikap si remaja bahkan kemudian timbul rasa kasihan melihatnya bekerja terlalu keras. Si remaja baru berhenti bekerja ketika adzan maghrib berkumandang.

“Nak, sebaiknya kau jangan bekerja terlalu keras. Istirahatlah yang cukup. Juga tidak perlu sampai terlalu sore, sampai ashar saja sudah cukup,” kata lelaki ini pada suatu hari.

Si remaja hanya tersenyum. “Saya sanggup bekerja sampai menjelang waktu maghrib,” jawab si remaja perlahan.

“Saya sangat senang, tetapi kau juga harus memperhatikan keadaan dirimu. Jagalah kesehatanmu.”

“Terima kasih atas perhatian Tuan.”

Hari itu, usai si remaja menjalankan shalat Maghrib, lelaki ini menemuinya. Kemudian, lelaki ini menyerahkan upah kepadanya. Bukan satu dirham sebagaimana yang telah disepakati, tetapi dua dirham.

“Kenapa menjadi dua dirham?” tanya si remaja sambil mengernyitkan kening.

“Saya ikhlas karena kau bekerja dari pagi sampai menjelang malam. Pekerjaanmu juga sangat memuaskan, rapi, dan bagus. Oleh karena itu, saya membayar upah dua kali lipat.”

“Tidak bisa begitu, Tuan. Pembayaran upah harus sesuai dengan syarat yang telah disepakati.”

Lelaki ini heran bercampur kagum mendengar jawaban si remaja.

“Kau tidak boleh menolak dan harus menerima pembayaran yang lebih sesuai dengan kerja kerasmu!” kata lelaki ini, yang entah sadar atau tidak, membentak dengan suara keras.

Si remaja kaget mendengar bentakan lelaki ini. “Bu… bukan saya tak mau, Tuan. Hanya, saya tidak boleh menerimanya karena kelebihan pembayaran ini menyalahi syarat yang telah disepakati.”

Tanpa menunggu jawaban, si remaja lantas pergi meninggalkan lelaki ini sendirian. Lelaki ini hanya diam, pandangannya mengantar setiap langkah si remaja. Sepertinya, dia menyesal atas perlakuannya terhadap si remaja.

Pagi harinya, lelaki ini keluar rumah. Dia heran melihat si remaja belum juga muncul, padahal matahari sudah mulai naik. Hal ini jelas tidak lazim. Apakah dia skit? Atau jangan-jangan dia sakit hati karena kemarin dibentak? Tanya lelaki ini dalam hati.

Rasa penasaran mendorong lelaki ini pergi mencari si remaja. Tempat pertama yang dituju tentu saja tempat mangkal para buruh bangunan. Dugaannya ternyata keliru, dia tidak menemukan si remaja di sana. Bahkan, orang-orang di sana pun tidak tahu ke mana perginya si remaja. Namun, ada sedikit harapan. Seorang buruh memberitahu bahwa si remaja suka datang ke tempat mangkal tersebut pada hari Sabtu.

Tidak salah, pada hari Sabtu si remaja sudah berada di tempat tersebut. Kemudian, lelaki ini berjalan ke arahnya. Dengan berhati-hati, lelaki ini mengajaknya untuk kembali bekerja dengan syarat yang sama seperti sebelumnya. Rupanya, si remaja juga tidak keberatan asalkan syarat yang telah disepakati dijalankan secara konsisten.

Keesokan harinya, si remaja sudah datang pagi-pagi sekali. Seperti yang sudah-sudah, dia bekerja dengan penuh kesungguhan, bahkan saat sedang menjalankan shaum pun, kesungguhannya tidak berkurang.

Pernah suatu ketika, lelaki ini menanyakan keberadaan si remaja pada hari-hari selain Sabtu. Tetapi, tampaknya dia tidak mau memberitahukan hal itu. Lelaki ini juga tidak mau memaksa, mungkin khawatir si remaja akan tersinggung dan pergi tak kembali lagi.

Tiga hari kemudian, si remaja tidak datang lagi. Entah ada apa lagi kali ini, yang jelas lelaki ini merasa tidak pernah memarahi ataupun menyinggung perasaan si remaja. Kemudian, lelaki ini mencarinya ke tempat mangkal yang biasa. Tetapi, di sana remaja itu tidak ditemukan.

Setelah mencari kabar ke sana kemari, akhirnya diketahui bahwa si remaja sedang sakit. Kemudian, lelaki ini datang ke tempat tinggalnya. Di sebuah gubuk reyot, si remaja tergolek lemah. Jangankan bantal, tikar saja tidak ada. Rasa iba dan kasihan mulai menyesaki dada lelaki ini. Namun, bila diperhatikan dengan seksama, wajah si remaja terlihat berseri-seri dan bercahaya, terlihat tidak sedang mengalami kesulitan yang berarti.

“Apa kabar, Nak?” sapa lelaki ini.

“Alhamdulillah. Hanya sedikit sakit,” jawab si remaja yang sebenarnya sedang sakit parah.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya lelaki ini.

“Saya memang membutuhkan bantuan Tuan. Besok pagi menjelang matahari naik, sudikah Tuan datang ke gubuk reyot ini? Bila mendapati saya terbujur kaku di sini, tolong sudilah Tuan memandikan saya. Kafani jasad saya dengan gamis ini. Jangan lupa juga shalatkanlah saya dan kuburkan jasad saya di tempat ini.”

“Itu saja?”

“Itu saja, tetapi saya mohon hanya Tuan sendiri yang mengerjakannya. Apabila sudah selesai mengerjakan semuanya, robeklah saku baju saya ini dan ambillah isinya. Sesudah itu, Tuan pergi ke istana Khalifah Harun ar-Rasyid. Perlihatkan saja barang itu kepada beliau. Itu saja permintaan saya kepada Tuan.”

Lelaki ini menghela nafas panjang dan agak heran mendengar permintaan si remaja.

“Satu lagi, jangan lupa sampaikan salam saya kepada khalifah. Mudah-mudahan Allah membalas kebaikan Tuan.”

Lelaki ini merasa semakin aneh mendengar penjelasan si remaja, apalagi menyangkut khalifah.

“Nak, sebenarnya kamu siapa?”

“Saya hanya hamba Allah.”

Setelah beberapa lama mengobrol, lelaki ini lantas mohon diri. Untuk memenuhi janji, keesokan paginya lelaki ini sudah bergegas menuju tempat si remaja. Betapa terperangahnya lelaki ini. Ternyata benar, si remaja telah meninggal dunia. Tapi, dari mana dia tahu kalau ajalnya tidak lama lagi? Mengherankan lagi, wajah si remaja tidak terkesan pucat dan kaku, malah semakin bercahaya. Di bibirnya tersungging senyum kebahagiaan.

Kemudian, lelaki ini menunaikan semua perminataan yang dikemukakan si remaja kemarin. Memandikan, mengafani, menyalatkan. Seorang diri dia menggotong jenazah si remaja ke tanah yang sudah digalinya. Baru juga akan dikebumikan, lelaki ini teringat akan satu hal lagi. Buru-buru dia merobek saku baju si remaja. “Sebuah permata besar! Ini sudah pasti sangat mahal!” seru lelaki ini.

Beberapa lama lelaki ini termangu. Tinggal satu lagi amanat yang belum ditunaikan. Lelaki ini bingung kalau harus mengantarkan permata ini. Dia bingung harus mengatakan apa kepada khalifah dan khawatir menjadi bahan tertawaan semua penhuni istana. Dia juga takut disangka orang gila, jauh-jauh datang hanya untuk memberikan sebuah permata. Seorang khalifah sudah pasti kaya dan tidak membutuhkan permata seperti ini.

Terbersit di dalam benak lelaki ini sebuah jalan keluar. Dia teringat kalau Khalifah Harun ar-Rasyid suka meninjau keadaan rakyatnya secara langsung. Salah satu tempat yang rutin dikunjunginya adalah pasar. Sebab, kondisi pasar merupakan salah satu indikator kesejahteraan rakyat. Khawatir kehilangan kesempatan, lelaki ini menunggu di sebuah jalan yang biasa dilewati rombongan khalifah saat menginspeksi keadaan pasar. Beberapa hari, lelaki ini menunggu di sana. Sampai akhirnya suatu ketika, terlihat iring-iringan rombongan khalifah sedang menuju pasar.

“Paduka Khalifah! Paduka Khalifah! teriak lelaki ini setelah dirasa cukup dekat dengan rombongan khalifah.

Semua pengawal khalifah kaget, mengira ada orang yang mau menyabotase. Dengan sigap, mereka menghadang lelaki yang sedang berlari-lari kecil mendekati khalifah. Namun, khalifah memberikan isyarat dengan tangannya agar membiarkan lelaki ini mendekat kepadanya.

“Paduka Khalifah, saya dititipi amanat oleh seseorang,” ungkap lelaki ini dengan nafas agak tersengal-sengal selepas berlari-lari.

“Amanat apa?”

Kemudian, lelaki ini memperlihatkan sebuah permata. Demi melihat permata tersebut, sang khalifah menjerit histeris. Kemudian, khalifah terkulai pingsan.

Tentu saja keadaan ini membuat para pengawal kaget setengah mati, apalagi setelah melihat khalifah pingsan. Dengan siaga penuh, mereka mengamankan keadaan, khawatir kalau-kalau ada orang jahat yang mau memanfaatkan situasi.

Tiga orang pengawal bertubuh kekar menangkap lelaki ini. Bahkan, salah seorang dari mereka mencoba menginterogasinya. Tentu saja lelaki ini kelabakan. Niat baiknya ternyata malah berakibat buruk, apalagi setelah mendengar seorang pengawal mengusulkan agar dia dijebloskan ke dalam tahanan.

Beruntung khalifah tidak lama mengalami pingsan. Setelah sadar, khalifah meminta para pengawal untuk melepaskan lelaki ini. Kemudian, khalifah mengajak lelaki ini ke istana.

Mungkinkah permata tersebut memiliki arti sangat penting bagi khalifah? Lelaki ini mencoba menerka-nerka di dalam hati.

“Bisa dijelaskan, dari mana kau mendapatkan permata ini?” tanya khalifah sambil mempersilakan lelaki ini duduk.

“Seorang anak remaja yang memberikan permata ini kepada hamba.”

“Lalu, kapan dan di mana kau bertemu dengan anak itu?”

“Paduka, kebetulan anak itu sempat bekerja memperbaiki rumah hamba beberapa hari.”

“Baiklah, sekarang antar saya ke tempat tinggal anak itu!”

“Anak itu sudah meninggal dunia.”

“Apa?! Sudah meninggal dunia?” Khalifah begitu kaget mendengar kabar tersebut. Kesedihan tampak jelas dari roman mukanya.

“Benar, Paduka. Hamba sendiri yang mengurusi jenazahnya.”

“Innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.” Setelah itu, khalifah langsung menangis. Air mata pun membasahi pipinya.

Lelaki ini terlihat seperti salah tingkah. Ada perasaan takut, bingung, dan heran berbaur dalam dirinya. Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam benaknya. Ada apa ini? Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apa pula hubungan si anak remaja dengan khalifah?

“Tolong ceritakan tentang pemilik permata ini!” kata khalifah sambil menunjuk permata yang ada di tangannya.

Kemudian, lelaki ini menceritakan segala hal yang berhubungan dengan si anak remaja. Dengan seksama, Khalifah Harun ar-Rasyid menyimak kata demi kata yang keluar dari mulut lelaki ini. Kadang tersenyum bangga, kadang mengerutkan kening, dan kadang menitikkan air mata.

“Berbahagialah Ananda! Ketahuilah, Ayah sangat sayang kepada Ananda!” Lelaki ini terkejut mendengar hal itu. Pantas saja khalifah sangat terpengaruh begitu mendengar cerita yang berhubungan dengan anak itu. Ternyata, dia adalah anak kandung khalifah.

Tak lama kemudian, khalifah memanggil istrinya. Kemudian, khalifah memperlihatkan permata tadi. Wanita itu menjerit histeris dan terkulai pingsan. Setelah tersadar, wanita itu bertanya, “Suamiku, dari mana permata ini?”

Khalifah tidak langsung menjawab. Beliau menoleh ke arah lelaki ini. “Coba ceritakan lagi apa yang tadi kau ceritakan kepadaku!”

Sekali lagi, lelaki ini menceritakan segala yang terjadi antara dia dan si anak remaja. Kedua mata wanita itu seakan tak berkedip. Kesedihan terlihat jelas dari wajahnya. Wajahnya terlihat sendu, dan tatapannya nanar. Usai mendengarkan cerita lelaki ini, si wanita tak kuasa lagi menahan tangis. Dia pun menangis sesenggukan.

“Anakku, Ibu sangat rindu. Rasanya, rindu ini begitu menggunung sehingga membuat nafas Ibu tersesak. Ibu ingin berada di sampingmu, Nak. Ibu ingin menjaga dan merawatmu.”

“Terima kasih, kau telah menunaikan amanat dengan sebaik-baiknya. Tidak hanya itu, kau juga telah mengabari kami tentang anak kami yang hilang.” Terdengar khalifah berujar perlahan tapi jelas kepada lelaki ini.

“Be… benarkan dia itu anak Paduka?” tanya lelaki ini ingin lebih meyakinkan.

“Benar, dia adalah anakku yang sangat kami sayangi. Hari-hari yang dilalui anak itu sangat mengesankan.”

“Beribu maaf, Paduka. Kalau boleh tahu, kenapa putra Paduka bisa hilang? Sekali lagi, hamba mohon maaf bila dianggap lancang.”

“Anakku itu sering mengunjungi para ulama dan para wali. Saat aku dilantik menjadi khalifah, tampaknya anakku tidak begitu suka. Lalu, anakku meninggalkan kami. Sejak saat itulah, kami kehilangan dia.”

“Dan permata itu?”

“Itu adalah permata pemberianku. Aku memberikan permata itu kepadanya melalui ibunya. Tadinya agar digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Misalnya saat terdesak, dia bisa menjual permata itu. Rupanya, permata itu dia simpan baik-baik. Kini, permata itu dia kembalikan kepada kami.”

“Bertahun-tahun kami menunggu, namun anakku tak kunjung kembali. Padahal, kami sangat merindukannya. Kami sangat berharap kalau sesekali dia mau datang menjenguk kami, walaupun hanya sebentar. Namun, sekarang hanya tinggal beritanya. Kini, dia telah meninggalkan kami untuk selama-lamanya,” kata istri khalifah sangat sedih.

Khalifah dan istrinya berusaha mengendalikan diri agar tidak larut dalam tangis yang berlebihan.

“Kami tidak tahu di mana dia berada. Sedih rasanya membayangkan bila anak itu hidup terlunta-lunta,” lanjut istri khalifah.

“Paduka, putra Paduka itu seorang wali,” kata lelaki ini coba menghibur.

“Ya, sepertinya kehidupan dia memang mengarah ke sana,” jawab khalifah. “Tolong tunjukkan kuburan anakku itu.”

“Dengan senang hati, hamba akan mengantar Paduka ke sana.”

Semalaman, lelaki ini menginap di istana. Dia diperlakukan bak tamu kehormatan. Sikap para pengawal yang sebelumnya penuh curiga, kini berubah total. Mereka menghormatinya sebagai tamu khalifah.

Keesokan harinya, lelaki ini mengantarkan Khalifah Harun ar-Rasyid. Pagi-pagi sekali rombongan berangkat. Tiba di tempat yang dituju, khalifah langsung menghambur, kemudian berdiri di samping pusara anaknya. Air matanya bercucuran.

——————————————————————————————————————————————————

Tuanku, aku melihat waktu memiliki keanehan
Orang yang memiliki keunggulan tidak bertahan hidup
untuk bertahun-tahun.
Orang pintar menjauh, sementara orang tolol
atau perusak kebaikan mendekati pelana dan tali kekang.
Menurut tabiatnya, ia senantiasa memusuhi orang pintar,
seolah-olah dia mempunyai kewajiban membenci kepintaran.

(Syair Arab)

——————————————————————————————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s