Teroris

Oleh: Enton Supriyatna Sind
(Sumber: Kolom Pikiran Rakyat, Senin 28 Maret 2011, hal. 26)

Entah sampai kapan para petani di kawasan Rancaekek harus berteriak-teriak mengabarkan nasib ratusan hektar sawahnya yang tidak lagi produktif akibat direndam limbah industri. Sudah sekian lama mereka tidak bisa menikmati panen padi sebab tanamannya mandul atau mati membusuk.

Memang ada respon atas ratapan mereka. Sejumlah anggota dewan datang meninjau, pejabat dari pemerintahan setempat pun sempat menengok. Bahkan sudah dibentuk tim gabungan untuk menanganinya. Akan tetapi selebihnya adalah diskusi, pamer pendapat, dan janji-janji. Air sawah tetap saja hitam dan bau.
Kasus Rancaekek hanya salah satu contoh yang paling mudah dikenali. Lebih banyak lagi persoalan serupa yang tidak sempat diketahui khalayak. Banyak warga telah menjadi korban teror yang disebar perusak lingkungan. Mereka mengalami trauma berkepanjangan tanpa upaya pemulihan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “teror” berarti usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Terorisme berarti praktik tindakan teror. Tindakan kekerasan yang menggunakan amunisi hanyalah bagian dari aksi teror. Bukan satu-satunya bentuk aksi terorisme.

Dalam makna yang lebih luas, teror bisa juga berarti segala bentuk kejahatan yang menimbulkan ketakutan dan mengancam kelangsungan hidup manusia. Dalam konteks ini, kejahatan terhadap lingkungan merupakan tindakan teror yang sangat berbahaya. Pelakunya layak diganjar hukuman setimpal.

Indonesia sudah memiliki Undang-Undang (UU) No. 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme bagi setiap perusak lingkungan. Beberapa waktu lalu, Kementerian Lingkungan Hidup menegaskan, akan segera memberlakukan UU tersebut. Dalam aturan itu dikatakan, setiap orang yang dengan sengaja melakukan teror sehingga menyebabkan lingkungan menjadi rusak, dapat dipidana mati atau penjara sedikitnya empat tahun.

Namun, rasa-rasanya kita tidak mendengar gema pemberlakuan UU tersebut untuk para perusak lingkungan. Sebaliknya, malah praktik perusakan lingkungan berlangsung semakin menjadi-jadi. Meski kasus tindak pidana jenis ini demikian marak, sangat sedikit—bahkan mungkin tidak ada—pelakunya yang duduk di ruang sidang pengadilan sebagai pesakitan.

Tengoklah Leuweung Sancang di Pameungpeuk, Garut. Hutan yang dulunya Lebat, kini rusak parah. Penebangan liar telah menguras kekayaan alam dan merusak ekosistem. Dalam kasus serupa ini, kalaupun ada yang diciduk, hanya pelaku kelas teri. Si kakap bebas berkeliaran dan melakukan perusakan baru di tempat lain.

Kita semua tahu, tindakan terorisme terhadap lingkungan akibatnya bisa jauh lebih buruk ketimbang ledakan amunisi. Menimbulkan dampak lebih lama, dengan jumlah korban lebih banyak. Belum tentu kerusakan tersebut bisa pulih kembali dalam satu generasi setelah hari ini.

Di hadapan kita ada hutan yang harus dipulihkan, ada bibit yang harus ditanam, ada sungai yang harus dibersihkan, ada hukum yang harus ditegakkan. Tentu saja itu jauh lebih penting daripada mendengarkan kontes debat para politisi yang bicara seputar koalisi dan bagi-bagi kursi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s