Panggilan Ruh Setelah Keluar dari Badan

Oleh: Salim H.J.
Sumber: Menyingkap 110 Misteri Alam Kubur (Hal. 72)
Penerbit LINTAS MEDIA Jombang

Aisyah ra. pernah berkata: “Ketika aku sedang duduk bersila di dalam rumah, tiba-tiba Rasulullah SAW masuk dengan memberi salam kepadaku. Tatkala aku hendak berdiri untuk menghormati beliau sebagaimana adat kebiasaanku setiap kali beliau masuk rumah, maka tanpa kuduga beliau berkata: “Tetaplah duduk di tempatmu tidak perlu engkau berdiri, wahai Ummul Mukminin.””

Aisyah melanjutkan ceritanya: “Rasulullah SAW kemudian tiduran dengan meletakkan kepalanya di atas pangkuanku, beliau tidur dengan terlentang. Di atas tengkuknya aku berbuat mencari uban janggutnya. Akhirnya aku melihat dalam janggut beliau ada 11 rambut putih. Lantas aku berfikir, dalam hati aku mengatakan bahwa beliau ini akan wafat mendahului aku, maka tinggallah umat ini tanpa ada Nabi. Tanpa terasa aku menangis sampai air mataku mengalir di pipi sehingga menetes ke wajah Rasulullah SAW, beliau langsung terbangun dari tidurnya seraya bertanya: “Apa yang menyebabkan dirimu menangis wahai Ummul Mukminin?””

“Aku lantas menceritakan kepada beliau suatu cerita. Beliau lalu bertanya kepadaku: “Saat apa yang paling pedih dialami mayit?” Aku menjawab: “Tidak ada keadaan yang paling pedih atas diri si mayit di saat mayit keluar dari rumahnya, sedangkan anak-anaknya berduka-cita di belakangnya seraya mengatakan: “Aduh… bapak… aduh …” Sedangkan ibu dan bapaknya berkata: “Aduh… anakku….”””

Rasulullah SAW bersabda: “Yang ini lebih pedih lagi.” Kemudian aku bertanya: “Apa yang lebih pedih dari itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak ada keadaan yang paling pedih bagi si mayit ketika ia diletakkan dalam liang kubur kemudian diuruk dengan tanah. Setelah itu kembalilah para kerabatnya, anak-anaknya dan para kekasihnya, mereka semua menyerahkan si mayit kepada ALLAH Ta’ala beserta perbuatan amalnya. Lalu datanglah Munkar dan Nakir dalam kuburnya.”

Kemudian Nabi SAW bertanya: “Saat apa yang paling pedih dari kejadian tersebut?” Aku menjawab: “ALLAH dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

Beliau lantas bersabda: “Wahai Aisyah, sesungguhnya yang paling pedih atas diri si mayit adalah ketika orang yang memandikan masuk kepadanya untuk memandikan dirinya, lalu orang yang memandikan mengeluarkan cincin si mayit muda dari jarinya, melepaskan baju pengantin dari badannya, melepaskan surban mayit tua atau mayit alim dari kepalanya guna dimandikan. Pada saat itu, ruhnya memanggil dengan suara yang bisa didengar oleh seluruh makhluk, kecuali jin dan manusia. Ruh itu mengatakan: “Wahai orang yang memandikan, aku meminta kalian supaya mencopot bajuku dengan pelan, sebab aku pada saat ini benar-benar ingin istirahat akibat dari sakitnya tarikan Malaikat Maut tadi.”

Ketika orang-orang sedang memandikan mayit, maka berkatalah ruh: “Wahai orang yang memandikan, kalian jangan memegang aku dengan kuat, sebab jasadku telah luka akibat dari keluarnya ruh.”

Setelah selesai dimandikan, si mayit diletakkan di dalam kain kafan, kemudian diikat pada tempat kedua telapak kakinya. Pada saat itu si mayit memanggil-manggil: “Wahai orang yang memandikan, kalian jangan mengikat kain kafan kepalaku sehingga aku bisa melihat wajah istriku, anak-anakku dan kaum kerabatku, sebab pada hari ini adalah hari yang terakhir kali aku melihat mereka. Hari ini akan berpisah dengan mereka, aku juga tidak akan melihat mereka lagi sampai hari kiamat tiba.”

Sewaktu mayit dikeluarkan dari rumah, maka mayit berseru: “Wahai golonganku, kutinggalkan istriku dalam keadaan janda, kalian jangan menyakitinya. Kutinggalkan anak-anakku dalam keadaan yatim, kalian jangan menyakitinya, sebab pada hari ini aku keluar rumah dan tidak akan kembali lagi pada mereka untuk selamanya.”

Tatkala mayit diletakkan di atas keranda, si mayit berseru: “Wahai golonganku, kalian jangan tergesa-gesa membawaku, sehingga aku bisa mendengarkan suara istriku, anak-anakku, serta kaum kerabatku, sebab pada hari ini aku akan berpisah dengan mereka sampai hari kiamat.”

Pada saat mayit dipikul di atas keranda dan orang-orang yang mengantarkan sudah melangkahkan kakinya tiga kali, tiba-tiba ada seruan dengan suara yang bisa didengar oleh segala sesuatu kecuali jin dan manusia. Ruh itu berkata: “Wahai para kekasihku, wahai para saudaraku, wahai anak-anakku, janganlah kalian terbujuk oleh tipu daya dunia, sebagaimana dunia telah menipu diriku. Janganlah kalian dipermainkan zaman, sebagaiman zaman telah mempermainkan diriku. Ambillah pelajaran apa yang aku alami ini, sesungguhnya aku telah meninggalkan semua harta yang telah aku kumpulkan, untuk ahli warisku, dan mereka tidak mau menanggung sedikitpun dari kesalahanku. Di dalam kubur, ALLAH menghisab aku, sedangkan di dunia kalian bersenang-senang dengan segala isinya. Kalian juga tidak mendo’akan aku ketika kalian menshalati jenazah.”

Pada waktu sebagian keluarganya dan teman-temannya kembali dari tempat shalat, maka si mayit berkata: “Wahai saudaraku, aku mengetahui bahwa mayit itu lupa di kala hidupnya, tetapi kalian jangan melupakan aku secepat ini sebelum kalian menanamku, sehingga aku bisa melihat pada tempatku. Wahai saudaraku, aku mengetahui bahwa wajah mayit lebih dingin daripada air yang dingin menurut perasaan hati orang yang masih hidup, tetapi kalian janganlah kembali secepat ini.”

Ketika mayit diletakkan di dekat kuburnya, si mayit berkata: “Wahai golonganku, wahai saudara-saudaraku, aku telah mendo’akan kalian tetapi kalian tidak pernah mendo’akan diriku.”

Saat mayit diletakkan di dalam kuburnya, si mayit berkata: “Wahai ahli warisku, aku tidak mengumpulkan harta benda kecuali aku tinggalkan untuk kalian, maka ingatlah kalian kepadaku dengan memperbanyak kebaikan seperti yang telah aku ajarkan kepada kalian tentang isi Al-Qur’an dan tata krama, janganlah kalian lupa untuk mendo’akan aku.”

——————————————————————————————————————————————————

“Warisan bagi ALLAH dari hamba-Nya yang beriman setelah dia meninggal dunia adalah puteranya yang beribadah.” (Al-Hadits)

——————————————————————————————————————————————————

One thought on “Panggilan Ruh Setelah Keluar dari Badan

  1. Ke arah mana pemimpin negeri ini membawa rakyatnya, kepada statistik ekonominya? Kepada ilmu pengetahuannya? Atau kepada pengalamannya? Kepada haknya?

    Dan kemanakah hak ALLAH wahai HAMers?
    Kemanakah hak Muhammad wahai umat?

    Seandainya kita mengenali jasad ini di masa hidupnya dan dia menduga bahwa hadits ini akan menjadi kisah yang dilaluinya, apa yang dikatakan oleh manusia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s