Kemuliaan Anak Yatim

(Sumber: Imam Ahmad Ibnu Nizar, “Nabi Sulaiman dan Burung Hudhud”, Yogyakarta: DIVA Press, Cet. I, Mei 2009, hal. 55-59)

Alkisah, tersebutlah seorang lelaki yang emar sekali melakukan kefasikan, Lu’man namanya. Seluruh penduduk desa telah mengenal dia sebagai orang yang durjana, sehingga jika dia melintas di suatu kawasan, masyarakat di sana segera mengambil tindakan preventif, agar tidak ada barang-barang yang hilang atau terjadi kegaduhan. Dia merupakan penduduk tetap Kota Basrah.

Namun, tampaknya, ajal telah ditentukan, tiba-tiba saja dia sakit keras dan tidak sembuh lagi, hingga kemudian dia meninggal dunia. Seluruh penduduk desa seakan mendapat durian runtuh. Duri yang selama ini menancap dalam daging seluruh penduduk desa telah tercerabut. Sudah barang tentu, desa itu akan dapat ditata dengan sebaik-baiknya karena biang kerok keonaran telah sirna, begitu anggapan mereka.

Syahdan, ketika telah sampai urusan jenazah, seluruh penduduk desa enggan mendekat, tidak ada yang sudi bertakziah, apalagi menguburkannya. Tinggallah istrinya di rumah seorang diri meratapi nasib sang suami yang betul-betul terbuang. Dengan terpaksa, akhirnya dia mencari orang-orang yang mau disewa untuk menggali kubur dan mengusung jenazahnya.

Setelah lama mencari, akhirnya dia mendapatkan dua orang yang mau disewa dengan ongkos yang cukup mahal. Lalu, diusunglah kjenazah lelaki malang itu ke mushala terdekat untuk dishalatkan. Namun, tidak ada satu pun orang yang mau melakukan shalat untuknya. Maka, dengan terpaksa, dua orang itu melakukan shalat sebisa-bisanya, lalu mengusung sendiri jenazah tersebut ke arah padang tandus untuk menguburkannya di dekat sebuah bukit. Kebetulan di sana bermukim seorang yang terkenal ahli zuhud (zahid).

Dengan tanpa diduga, si zahid itu menuruni bukit menuju jenazah lelaki itu, lalu ikut mengusung jenazahnya dan melakukan shalat sekali lagi. Perbuatan ini segera menjadi berita hangat penduduk di kawasan itu, sehingga banyak pula mereka yang ikut-ikutan melakukan shalat untuknya. Mulai saat itu, jenazah itu mulai tampak kemuliaannya seakan melebihi orang biasa. Betapa heran penduduk di sekitar itu, mengapa si zahid besar itu berkenan memperhatikan jenazah ini.

Untuk menepis kebimbangan mereka itu, si zahid segera berdiri, kemudian dia berkata, “Kiranya, hati kecil kalian bertanya-tanya mengapa aku berkenan melakukan shalat dan ikut menguburkan jenazah ini, padahal kalian telah menyaksikan kefasikan jenazah ini, begini saudara-saudara, tadi malam aku bermimpi disuruh turun ke tempat ini seraya dikatakan bahwa di sana terdapat jenazah si Lu’man yang tidak diiringi seorang pun terkecuali istrinya, maka lakukanlah shalat untuknya, dia telah mendapat ampunan Allah,” demikian kata si zahid.

Seluruh penduduk desa bertambah heran, mengapa Lu’man bisa mendapat ampunan dari Allah, padahal keburukannya sangat banyak. Si zahid sendiri juga tidak mengerti, mengapa Allah memberi ilham kepadanya berkenaan dengan kematian orang yang fasik itu. Untuk menguak semuanya, si zahid berusaha mencari keterangan dari istrinya, mungkin saja jenazah itu melakukan suatu kebajikan yang begitu mulia namun tidak diketahui oleh masyarakat sekitar. Maka, dipanggillah istri Lu’man itu, kemudiansi zahid bertanya, “Apakah amal kebajikan suamimu ketika masih hidup, Ibu?”

“Wahai zahid, seluruh penduduk desa ini telah mengetahui bahwa suamiku ini siang dan malam selalu berada di tempat maksiat, paling tidak dia mesti menenggak minuman keras,” begitu jawab sang istri.

“Sebaiknya Ibu jangan terburu memvonis buruk, cobalah diingat-ingat, apa saja kebajikan yang sering dia lakukan?” desak si zahid.

“Selama ini, terus-terang saja,” kata sang istri, “aku tidak pernah melihat dia melakukan kebajikan, namun setiap dia bangun pagi dan telah siuman dari mabuknya, dia selalu berwudhu dan kemudian berganti pakaian sebaik-baiknya dan menjalankan shalat subuh. Lalu, dia langsung kembali lagi ke tempat maksiat itu, berasyik-masyuk dengan minuman keras dan segala kemungkaran di sana,” begitu istrinya ini menjelaskan.

“Satu lagi, wahai zahid, rumah kami sangat disukai anak-anak yatim, sehingga setiap saat tidak sepi dari canda dan tawa mereka. Suamiku sendiri sangat menyayangi mereka, bahkan mereka bagaikan anak-anaknya sendiri. Acapkali, aku cemburu dan jengkel atas tindakannya itu. Bagaimana tidak, anak sendiri dilepaskan, sedangkan anak orang lain dimuliakan begitu rupa,” sambung sang istri kembali.

“Masih ada kebajikan yang lain?” tanya si zahid lagi.

“Ya, ada. Pada suatu pagi, ketika dia siuman dari mabuknya itu, aku mendengar dia berkata, ‘Wahai Tuhan, kiranya tempat Jahanam mana yang akan Engkau janjikan kepadaku selaku orang yang sangat hina ini,’” jelas sang istri pula.

“Benar, itulah kebajikan suami ibu yang menyebabkan dia mendapat rahmat,” sahut si zahid.

Kemudian si zahid mengemukakan suatu hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah:

“Barang siapa menanggung kehidupan tiga anak yatim, maka laksana orang yang selalu berpuasa di siang hari dan menjalankan shalat sunah sebanyak-banyaknya di malam hari, bahkan sebagaimana mereka yang selalu menghunus pedang berjihad membela agama Allah. Dan, aku (Rasulullah) akan menjadi saudaranya di surga nanti sebagaimana telunjuk dan jari tengah ini.”

——————————————————————————————————————————————————
“Jika orang beriman bangkit dari tidur lalu mendirikan shalat dan berkata, ‘Allah Akbar’, Allah memerintahkan kepada para malaikat: ‘Singkirkan dosa-dosa hamba-Ku ini, agar dia menyembah-Ku dalam kesucian.’ Para malaikat megambil dosa-dosanya dan ketika sang hamba menyelesaikan shalatnya, mereka mengajukan pertanyaan: ‘Ya Allah, apakah kami mesti membebankan ulang dosa-dosa ini padanya?’ Tetapi, Allah di atas sana berfirman: ‘Hai malaikat-malaikat-Ku, hal itu tidak sesuai dengan Rahman-Ku bahwa Aku mesti mendaftar ulang dosa yang telah Aku hapuskan. Aku telah mengampuni seluruh kesalahannya.’” (Hadits)
——————————————————————————————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s