Istana Kembar

(Sumber: Imam Ahmad Ibnu Nizar, “Nabi Sulaiman dan Burung Hudhud”, Yogyakarta: DIVA Press, Cet. I, Mei 2009, hal. 60-63)

Dahulu kala, hiduplah seorang lelaki dari kalangan Bani Israil bersama seorang istri dan anak-anaknya. Mereka hidup dalam kondisi yang serba kekurangan. Jangankan membeli barang-barang mewah, untuk makan sehari-hari saja sangat sulit. Bahkan, mereka sekeluarga lebih sering berpuasa disebabkan tidak adanya makanan. Namun, kondisi seperti ini malah menjadi cambuk bagi mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sebenarnya lelaki itu ingin sekali mengubah nasibnya. Namun, usahanya selama ini selalu menemui kebuntuan. Akhirnya, sambil tidak berhenti berusaha, ia menyerahkan segalanya kepada Allah swt. Hanya Dia-lah yang bisa mengubah keadaan itu—Dia yang memuliakan siapa saja yang dikehendaki dan menghinakan siapa pun yang dikehendaki-Nya.

Pada suatu malam, dia keluar rumah, mencari tempat yang sunyi untuk menyembah dan memohon kepada Allah, kiranya Dia sudi memberi petunjuk, pekerjaan apa yang layak dikaruniakan kepadanya. Dalam keheningan malam dan kekhusyukan ibadahnya, tiba-tiba saja terdengar suara, “Hai abid, julurkan tanganmu itu!”

Lelaku itu lalu menjulurkan tangannya. Tiba-tiba saja, di telapak tangannya sudah ada dua butir mutiara yang menakjubkan, bersinar gemerlapan menyilaukan pandangan. Dipandangnya mutiara itu dengan senyum simpul penuh kegembiraan. Selanjutnya, dengan segera, dia melangkahkan kaki untuk pulang menemui sang istri tercinta dan memperlihatkan apa yang baru diperolehnya itu.

“Sekarang, kita telah terbebas dari penderitaan hidup, kita akan segera menjadi kaya, Dinda!” katanya kepada sang istri.

Begitu istrinya melihat mutiara tersebut, dia langsung berjingkrak kegirangan. Di benaknya sudah terbayang rumah yang begitu mewah dengan segala perabotnya yang bagus. Namun, pada malam berikutnya, lelaki itu bermimpi memasuki taman surga yang begitu indah. Dan, di sebelah taman itu bertengger dua istana kembar yang begitu megah saling berhadapan. Temboknya saja dari emas memerah, sedangkan atapnya tampak gemerlapan. Setelah didekati, ternyata atap tersebut berupa susunan mutiara yang menakjubkan. Dia lalu bertanya kepada seseorang yang menjaga taman itu.

“Milik siapa gerangan istana kembar seindah ini?” tanyanya penuh ketakjuban.

“Oh, itu milik Tuan beserta istri Tuan sendiri. Allah telah mempersiapkan rumah masa depan seindah ini khusus untuk Tuan dan istri, sebagai balasan amal-amal Tuan selama ini,” begitu si tukang taman itu mengatakan.

Lelaki itu masuk ke dalamnya, dan mengamati seluruh sisi bangunan itu dengan ketakjuban yang tiada habis-habisnya. Namun, setelah dia mendongakkan pandangannya, dia melihat atapnya berlubang di dua tempat.

“Mengapa istana seindah ini masih ada cacatnya, ada lubang di dua tempat tepat di atas kepala, hai tukang taman?” tanya lelaki itu.

“Itu sebab ulah Tuan sendiri. Tuan mengambil dua butir mutiara kemarin malam. Dan, sekali-kali, bukan kesalahan arsiteknya, apalagi menyalahi bestek yang ada,” jawab si tukang taman.

Dengan terkejut sekali, lelaki itu terbangun dari tidurnya dan segera mengabarkan mimpinya itu kepada sang istri. Setelah berpikir panjang, akhirnya keduanya sepakat untuk mengembalikan saja kedua mutiara itu ke tempat semula.

Setelah malam tiba, lelaki itu segera menyepi lagi seraya berdoa agar kedua butir mutiara itu dikembalikan pada tempatnya di surga. Beberapa saat kemudian, Allah memperkenankan doanya dan mutiara itu pun menghilang dari hadapannya. Lalu, kembalilah rumah tangga lelaki itu pada kondisinya semula, namun penghuninya begitu tenteram dan selalu bersyukur atas pemberian Allah kendati hanya sedikit.

——————————————————————————————————————————————————
Rasulullah saw mengatakan bahwa nanti ketika hari kiamat telah tiba, seorang lelaki yang miskin akan dihadapkan kepada Allah, kemudian Allah (dengan berendah hati) meminta maaf kepada lelaki itu sebagaimana seseorang meminta maaf kepada saudaranya ketika hidup di dunia. Allah lantas berkata, “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, tidaklah Aku menjauhkan duniawi darimu itu sebab engkau begitu hina dalam pandangan-Ku. Namun karena Aku telah menyediakan berbagai kemuliaan dan keutamaan untukmu sekarang ini. Wahai hamba-Ku, sekarang keluarlah menerobos barisan manusia itu, dan lihatlah siapa yang telah memberi makan atau memberi pakaian kepadamu dengan ikhlas karena Aku ketika di dunia. Gandenglah tangannya, dia telah Aku pasrahkan kepadamu.”—Padahal, manusia ketika itu masih terbelenggu oleh keringat mereka. Maka, hamba itu segera menerobos barisan manusia seraya menebarkan pandangannya, siapa dari mereka yang pernah memberi makan dan pakaian. Setelah ditemukannya, hamba itu pun menarik tangannya untuk diajaknya bersama memasuki surga. (HR Abus Syekh Ibnu Hibban dari Anas bin Malik)
——————————————————————————————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s