Pahala Bersedekah

Oleh: Syahrir Rizki
(Sumber: Majalah Sabili)

Di kota Array terdapat seorang qadhi yang kaya-raya. Suatu pagi di hari Asyura datanglah seorang miskin meminta sedekah. “Wahai tuan qadhi, saya seorang miskin yang mempunyai tanggungan keluarga. Demi kehormatan dan kemuliaan hari ini, saya meminta pertolongan dari tuan. Berilah saya sedekah sekadarnya berupa sepuluh keping roti, lima potong daging, dan dua dirham uang.”

Qadhi menjawab, “Datanglah selepas shalat Zuhur!”

Selepas shalat Zuhur, orang miskin itu pun datang. Sayangnya si qadhi kaya itu tidak menepati janjinya dan menyuruh si miskin datang lagi selepas shalat Ashar. Selepas waktu yang dijanjikan, untuk kedua kalinya ternyata si qadhi tidak memberikan apa-apa. Maka keluarlah si miskin dari rumah si qadhi dengan penuh kecewa.

Ketika si miskin sedang berjalan mencari-cari, ia melintas di depan seorang Nasrani yang sedang duduk-duduk di hadapan rumahnya. Kepada orang Nasrani itu si miskin minta sedekah, “Tuan, demi keagungan dan kebesaran hari ini, berilah saya sedekah untuk keluarga saya.”

Orang Nasrani itu bertanya, “Hari apakah ini?”

“Ini hari Asyura,” kata si miskin sambil menerangkan keutamaan dan kisah-kisah hari Asyura. Rupanya orang Nasrani itu sangat tertarik mendengar cerita si peminta sedekah dan hatinya berkenan untuk memberi sedekah.

“Katakan apa yang engkau inginkan?” tanyanya.

“Saya memerlukan sepuluh keing roti, lima potong daging, dan uang dua dirham saja,” jawab si miskin.

Dengans egera orang Nasrani itu memberi si peminta sedekah semua keperluan yang dimintanya. Si peminta sedekah pun kembali dengan gembira kepada keluarganya.

Adapun sang qadhi bermimpin di dalam tidurnya didatangi seseorang. “Angkat kepalamu!” kata suara dalam mimpinya. Dia pun mengangkat kepala, tiba-tiba tampak di hadapan matanya dua buah bangunan yang cantik. Sebuah bangunan dibuat dari batu bata berbalut emas dan sebuah lagi dibuat dari bahan yang berkilau-kilau warnanya.

Qadhi itu bertanya, “Ya Tuhan, untuk siapa bangunan yang sangat cantik ini?”

Terdengar jawaban, “Semua bangunan ini untukmu seandainya mau memenuhi keinginan si peminta sedekah itu. Kini bangunan itu dimiliki oleh seorang Nasrani.”

Begitu qadhi bangun dari tidurnya, ia pun pergi menemui orang Nasrani yang dimaksud dalam mimpinya. Qadhi bertanya kepada si Nasrani, “Amal apakah gerangan yang telah engkau perbuat sehingga mendapat pahala dua buah bangunan yang sangat cantik?”

Orang Nasrani itu pun menceritakan tentang amal yang diperbuatnya bahwa ia telah bersedekah kepada fakir miskin yang memerlukannya pada hari Asyura itu. Sang qadhi pun berkata, “Juallah amal itu kepadaku dengan harga seratus ribu dirham.”

“Ketahuilah wahai qadhi, sesungguhnya amal baik yang diterima oleh Allah tidak dapat diperjual-belikan sekalipun dengan harga bumi serta seisinya.”

“Mengapa Anda begitu kikir, sedangkan Anda bukan seorang Muslim?” tanya sang qadhi.

Ketika itu juga orang Nasrani itu membuang tanda salibnya dan mengucapkan dua kalimat syahadat serta mengakui kebenaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

——————————————————————————————————————————————————
“Dekatkan dirimu kepada-Ku dengan mendekatkan dirimu kepada kaum lemah dan berbuatlah ihsan kepada mereka. Sesungguhnya kamu memperoleh rezeki dan pertolongan karena dukungan dan bantuan kaum lemah di kalangan kamu.” (HR Muslim)
——————————————————————————————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s