Debat Abu Hanifah dengan Ilmuwan Kafir

(Sumber: Mohamad Zaka Al Farisi, “Like Father Like Son, Untaian Kisah-kisah Penuh Hikmah”, Bandung: MQ Gress, Cet. II, Maret 2008, hal. 2-10)

Kisah berikut ini adalah penuturan dari Imam Abu Hanifah. Pada zaman itu, ada seorang ilmuwan besar yang sangat terkenal. Sayangnya, ilmuwan berkebangsaan Romawi ini seorang ateis dan menolak mentah-mentah keberadaan Tuhan.

Ketika itu, para ulama diam saja dan tidak berusaha untuk menyadarkan si ilmuwan. Tentu saja tidak semua ulama diam, masih ada yang peduli dengan keadaan tersebut. Hal ini bisa berbahaya jika membiarkan si ilmuwan mempengaruhi akidah umat. Ulama yang dimaksud adalah guru Abu Hanifah yang bernama Hammad.

Pada suatu hari, orang-orang sudah berkumpul di sebuah masjid. Si ilmuwan naik ke mimbar dan menantang siapa saja yang mau berdebat dengannya. Ada maksud tersembunyi di balik tantangan itu. Sesungguhnya, dia bermaksud menjatuhkan para ulama dengan argumen-argumen yang rasional.

Si ilmuwan semakin congkak, apalagi setelah tantangannya tak bersambut. Dia menyangka semua ulama itu pengecut sehingga tidak ada seorang pun yang berani menyambut tantangannya. Hal ini semakin diperkuat dengan suasana di dalam masjid yang tiba-tiba hening. Beberapa orang saling pandang, ada pula yang mengarahkan pandangan ke deretan paling depan tempat beberapa ulama duduk.

Dari sekian banyak hadirin, ada seorang pemuda yang merasa sebal melihat kecongkakan si ilmuwan. Namun, dia berusaha menahan diri, barangkali ada seorang ulama senior yang berani tampil menghadapi tantangan itu.

Sang pemuda menunggu lama. Setelah yakin tak ada yang mau maju, barulah dia berdiri dan melangkah menuju mimbar.

“Saya Abu Hanifah, siap berdebat dengan Anda,” kata sang pemuda sambil memperkenalkan diri.

Semua mata hadirin tertuju ke arah Abu Hanifah. Mereka merasa heran melihat keberanian sang pemuda. Beberapa orang mengatakan salut kepada Abu Hanifah, si ilmuwan sendiri merasa heran melihat keberanian Abu Hanifah. Akan tetapi, kebanyakan hadirin bersikap sinis terhadap Abu Hanifah dan menyepelekan kemampuannya. Ada pula yang mempertanyakan motif Abu Hanifah tampil ke depan. Apakah sekadar asal tampil, membuat sensasi, atau mencari popularitas?

Wajah Abu Hanifah tetap tenang. Beliau tidak terpengaruh oleh berbagai bisikan yang ada, termasuk yang bernada miring sekalipun. Sikap Abu Hanifah sangat rendah hati. Dia menahan diri untuk berbicara karena merasa masih terlalu muda, sementara di dalam masjid masih ada beberapa ulama senior. Dia sendiri berharap ada seorang ulama senior yang mau meladeni tantangan si ilmuwan. Sayang, tidak ada seorang pun dari mereka yang mau naik ke mimbar.

“Silakan Anda yang memulai,” ujar Abu Hanifah mempersilakan dengan sopan.

“Tahun berapa Tuhan kamu dilahirkan?” tanya ilmuwan kafir.

“Allah tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan,” jawab Abu Hanifah.

“Hmm, masuk akal jika dikatakan Allah tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan. Lalu, pada tahun berapa Dia ada?”

“Dia ada sebelum segala sesuatu ada,” tegas Abu Hanifah.

“Bisa berikan contoh konkret mengenai hal ini?”

“Anda tahu tentang perhitungan?” Abu Hanifah balik bertanya.

“Iya, saya tahu.”

“Angka berapa sebelum angka satu?”

“Tidak ada,” jawab ilmuwan kafir.

“Tidak ada angka lain yang mendahului angka satu. Lalu, mengapa Anda bingung bahwa sebelum Allah itu tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Nya?”

“Baiklah. Sekarang, di manakah Allah berada? Seuatu yang berwujud pasti membutuhkan tempat, bukan?” lanjut si ilmuwan.

“Anda tahu bentuk susu?” tanya Abu Hanifah.

“Iya, saya tahu,” jawab si ilmuwan.

“Apakah di dalam susu itu terdapat keju?”

“Ya, tentu.”

“Kalau begitu, coba perlihatkan di mana tempat keju itu sekarang!”

“Jelas tidak ada tempat khusus. Keju itu bercampur dengan susu di seluruh bagiannya,” jawab si ilmuwan dengan semangat.

“Nah, keju saja tidak mempunyai tempat khusus di dalam susu. Tidak sepatutnya Anda meminta saya untuk menunjukkan tempat Allah berada.”

“Tolong jelaskan Dzat Allah. Apakah wujud Allah itu benda padat seperti batu, benda cair seperti susu, ataukah seperti gas?”

“Anda pernah mendampingi orang sakit yang akan meninggal dunia?”

“Pernah.”

“Awalnya, orang sakit itu bisa berbicara dan bisa menggerakkan anggota badannya, bukan?”

“Ya, memang demikian halnya.”

“Tetapi, kenapa tiba-tiba orang sakit itu diam tidak bergerak? Apa yang menyebabkan hal itu?

“Jelas itu karena ruh orang tersebut telah berpisah dari tubuhnya.”

“Sewaktu ruh itu keluar, apakah Anda masih berada di sana?”

“Saya masih di sana.”

“Coba jelaskan, apakah ruh orang tersebut benda padat, cair, atau gas?”

“Wah, kalau itu saya tidak tahu.”

“Anda sendiri tidak dapat menerangkan bentuk ruh, apalagi saya harus menerangkan Dzat Allah yang menciptakan ruh.”

“Lazimnya, sesuatu itu mempunyai arah. Ke manakah Allah menghadapkan wajah-Nya sekarang?” tanya si ilmuwan lagi.

“Apabila Anda menyalakan lampu, ke arah manakah cahaya lampu itu menghadap?”

“Cahayanya menghadap ke semua arah.”

“Lampu yang buatan manusia saja seperti itu, apalagi dengan Allah Sang Pencipta alam semesta. Allah adalah cahaya langit dan bumi.”

“Ada awal dan ada akhir. Seseorang masuk surga itu ada awalnya, tetapi kenapa tidak akhirnya? Mengapa surga dan para penghuninya itu kekal abadi?” kata si ilmuwan melanjutkan pertanyaannya.

“Untuk hal itu, Anda bisa membandingkannya dengan perhitungan angka. Angka itu ada awalnya, tetapi tidak ada akhirnya.”

“Terus, bagaimana pula para penghuni surga itu makan dan minum tanpa buang hajat?”

“Ini pernah Anda alami sewaktu di dalam rahim ibu. Selama sembilan bulan Anda makan dan minum tanpa pernah buang hajat. Anda baru buang air besar dan buang air kecil beberapa saat setelah terlahir ke dunia.”

“Tolong jelaskan, bagaimana kenikmatan surga itu bisa terus bertambah tanpa ada habisnya!”

“Ada banyak hal yang semacam itu di dunia. Misalnya, ilmu. Ilmu tidak habis atau berkurang ketika dimanfaatkan, malah semakin bertambah.”

“Jika segala sesuatu sudah ditakdirkan sebelum diciptakan, lalu apa pekerjaan Allah sekarang?”

“Sejak tadi Anda menjawab pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya hanya menjawab dari atas lantai masjid ini. Kali ini untuk menjawab pertanyaan Anda, saya mohon Anda turun dari mimbar. Saya akan menjawab pertanyaan Anda tadi di mimbar.”

Kemudian, si ilmuwan turun dari mimbar sementara itu Abu Hanifah naik ke mimbar.

“Saudara-saudara, dari atas mimbar ini saya akan menjawab pertanyaan tadi. Bisa Anda ulangi pertanyaannya?” tutur Abu Hanifah setelah berada di atas mimbar masjid.

“Apa pekerjaan Allah sekarang?” kata si ilmuwan menyebutkan inti pertanyaannya.

“Pekerjaan Allah tentu saja berbeda dari pekerjaan makhluk. Ada pekerjaan-Nya yang bisa dijelaskan, dan ada pula yang tidak bisa dijelaskan. Pekerjaan Allah sekarang adalah menurunkan orang kafir seperti Anda dari atas mimbar, kemudian menaikkan seorang Mukmin ke atasnya. Seperti itulah gambaran pekerjaan Allah setiap waktu.”

Akhirnya, hadirin yang ada di dalam masjid merasa puas dengan jawaban-jawaban Abu Hanifah. Jelas, lugas, tegas, dan mudah dipahami, bahkan oleh orang awam sekalipun.

——————————————————————————————————————————————————
“Ilmuwan yang tanggung lebih berbahaya bagi masyarakat daripada orang yang buta huruf.” (Arif bijak)
——————————————————————————————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s