Rahasia Pemberian Rezeki

(Sumber: Imam Ahmad Ibnu Nizar, “Nabi Sulaiman dan Burung Hudhud”, Yogyakarta: DIVA Press, Cet. I, Mei 2009, hal. 80-82)

Pada suatu hari, Syekh Imam az-Zahidi ingin sekali membuktikan bahwa rezeki setiap makhluk itu memang betul-betul telah ditanggung Allah swt. Maka, pagi-pagi buta, ia segera pergi ke arah hutan, lantas naik ke sebuah bukit dan memasuki gua, kemudian duduk manis di dalamnya seraya memperbanyak membaca tasbih sebagaimana kebiasaannya sheari-hari. Ia pun ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memberi rezeki kepadanya, ketika itu pula dia berniat tidak akan memakan apa pun kecuali jika makanan itu masuk sendiri ke dalam mulutnya tanpa dengan suatu usaha.

Setelah keberadaannya dalam gua itu dirasakan cukup lama, dan perutnya mulai merasakan lapar, tiba-tiba saja dia melihat serombongan kafilah yang tersesat. Pada saat itu, tiba-tiba hujan pun turun dengan lebatnya, sehingga memaksa rombongan itu mencari tempat berteduh. Anehnya, yang ditemukan mereka justru gua yang dimasuki oleh az-Zahidi itu. Setelah mereka memasuki gua, sejenak kemudian mereka terkejut melihat sudah ada orang yang duduk dengan tenang. Maka, segeralah mereka memanggil, “Hai penghuni gua!”

Mendapat panggilan ini, az-Zahidi hanya diam, berpura-pura tidak mendengar dan malah berlagak seperti orang kedinginan.

“Mungkin saja orang ini kedinginan, sehingga tidak mampu untuk berbicara,” ucap salah seorang di antara anggota kafilah itu.

Mereka segera mengumpuljan sampah-sampah gua, kemudian dibakar di dekat az-Zahidi dengan maksud agar badannya menjadi hangat. Setelah itu, mereka mengajak berbicara lagi, namun az-Zahidi tak berbicara sepatah kata pun.

Maka, seseorang di antara mereka berkata lagi, “Mungkin saja dia telah lama kelaparan.”

Sejenak kemudian, yang lain mengambil makanan yang diwadahi pada sebuah piring, kemudian disodorkan di muka az-Zahidi. Lagi-lagi, dia tidak berekasi. Maka, seseorang berkata lagi, “Kita buatkan saja susu panas dari bekal kita, dan kita bubuhi gula agar lebih terasa nikmat dan mudah ditelan.”

Beberapa saat kemudian, susu itu telah tersaji. Ternyata, az-Zahidi tetap saja diam tak bergerak. Mengetahui kondisi ini, seseorang dari mereka kembali berkata, “Wahai kawan, aku lihat mulutnya begitu rapat terkatup, mungkin saja dia kesulitan membukanya karena terlalu lama kedinginan. Untuk itu, tolong kalian mengambil pedang, kita congkel saja mulutnya agar bisa kita masuki makanan.”

Maka, segera saja dua orang maju di samping az-Zahidi dengan membawa pedang tersebut, lalu mencongkel mulutnya dan segera menjejalinya dengan makanan. Ketika itulah gelak tawa az-Zahidi tidak tertahankan lagi. Mereka pun terkejut seraya mengatakan, “Gila kau!”

“Tidak, aku tidak gila, namun aku ingin membuktikan bagaimana Allah memberi rezeki. Kesemuanya telah terbukti bahwa Allah yang telah membagi rezeki hamba-hamba-Nya di mana pun berada, hatiku kini betul-betul begitu mantap,” begitu az-Zahidi mengatakan pada mereka.

——————————————————————————————————————————————————
“Ketahuilah, apa yang luput dari kamu adalah sesuatu yang pasti tidak mengenaimu dan apa yang akan mengenaimu pasti tidak akan meleset dari kamu.” (HR At-Tirmidzi)
——————————————————————————————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s