Seorang Pemuda Bertemu Jodoh di Surga

(Sumber: Syaikh Muzaffer Ozak al-Jerrahi, “Allah, Nabi Adam, dan Siti Hawa” (diterjemahkan oleh Luqman Hakim), Bandung: Pustaka Hidayah, Cetakan I, Juli 2009, hal. 194-210)

Di kota Basra, pada suatu waktu hiduplah seorang keluarga kaya. Hanya Allah yang tahu berapa besar nilai kekayaan mereka, tetapi Allah belum mengaruniai mereka seorang anak, wanita ataupun laki-laki. Anak adalah sesuatu yang paling mereka dambakan di dunia. Dalam berupaya memperoleh yang mereka dambakan, mereka banyak berdoa dan bersedekah besar-besaran kepada kaum miskin dan kaum lemah.

Setelah beberapa waktu, Allah swt menganugerahi mereka seorang bayi laki-laki. Hal tersebut seolah-seolah rembulan turun dari langit dan masuk ke dalam rumah mereka. Ia serupawan Nabi Yusuf as. Ibu dan bapaknya gembira. Mereka bersyukur kepada Allah swt, dan kemudian mengeluarkan sedekah sebagai ungkapan lanjutan syukur mereka. Setelah beberapa waktu, si bapak, sebagaimana seluruh makhluk fana, meninggal dunia dalam pangkuan Allah, dan ditinggalkan sendirian dengan amal-amalnya.

Anak yang rupawan ini kini tidak memiliki seorang pun kecuali ibunya. Ia tumbuh dan berkembang menjadi pria rupawan. Siapa pun yang menyaksikan raut mukanya akan jatuh cinta kepadanya dan tidak ingin dipisahkan darinya. Para wanita hamil yang menyaksikan raut mukanya menderita miskram. Kerupawanannya telah menjadi suatu godaan. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk pergi jalan-jalan dengan menggunakan sebuah topeng. Saat telah memasuki usia yang cukup untuk menikah, seluruh istri pembesar kota Basra berlomba untuk menawarkan anak perempuannya agar kawin dengannya. Tetapi, wanita-wanita ini tidak mampu mengimbanginya dalam kerupawanan.

Ibunya memberitahu pelamar, “Saya tidak akan membiarkan anak saya kawin dengan seorang gadis kecuali ia lebih rupawan darinya.” Para pembesar kota berkumpul dan memperoleh kedekatan kepada ibu si pemuda dan berkata, “Ibu, tidak ada seorang gadis pun yang lebih rupawan dari putra Anda yang mungkin ada pada zaman sekarang. Di mana Anda akan menjumpai seorang gadis yang demikian cantik? Lihatlah, anak-anak perempuan kami cukup rupawan meski mereka tidak sebanding dengan anak Anda. Pilihlah salah seorang di antara mereka untuknya dan mari kita kawinkan mereka. Hendaknya Anda mempertimbangkan kelelakiannya, hendaknya ia memperoleh yang ia dambakan.” Tetapi, ia menjawab, “Tidak, saya akan mencarikan anak saya seorang gadis yang lebih rupawan dari dirinya meski ke negeri Cina.”

Pada suatu hari, saat wanita ini dan putranya sedang menyelesaikan suatu urusan, rakyat Basra berkumpul melaksanakan shalat di Masjid Agung. Saat itu mereka sedang mendengarkan khutbah ‘Abdullah bin Zaid rahimmahullah, seorang pewaris Nabi dan seorang cendekiawan dan sufi paling populer dan paling dihormati. Ibu dan anak rupawan tadi melaksanakan shalat dan memutuskan duduk dan mendengarkan ceramah. Mereka benar-benar memperoleh sesuatu yang mereka dambakan di dunia dan di akhirat nanti. Sebab, di sini dijumpai seorang pewaris Nabi saw yang tengah berdiskusi tentang Kitab Allah dan kehidupan Rasulullah. Cendekiawan tersebut duduk tenang di mimbar dan memberikan isyarat kepada seorang penghafal al-Qur’an yang hadir agar melantunkan sebuah surah dari al-Qur’an al-Karim. Dalam suara yang melengking, qari’ mulai membaca dari surah al-Furqan. Seluruh hadirin menahan nafas. Hal tersebut menjadi seperti suatu wujud tunggal.

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. (QS Al-Furqaan [25]: 74-76).

‘Abdullah bin Zaid ra berkata, “Allah swt telah menciptakan paviliun, istana, tenda di surga dan dipancang di bawah Singgasana-Nya. Persis sebagaimana Allah telah menciptakan dunia dan bintang-bintang tanpa penopang, demikian pula Dia telah menciptakan paviliun-paviliun dan istana-istana. Mereka berdiri di dalam ruang yang mirip dengan keadaan di ruang angkasa bagaikan awan di langit. Para penghuni surga menyaksikan istana persis sebagaimana ia melihat bintang di dunia. Paviliun-paviliun yang berdiri di dalam ruangan mempunyai 300 pintu masuk, setiap pintu terbuat dari emas, diukir dengan intan biru dan permata. Semuanya indah, dan keindahannya melebihi segala sesuatu yang pernah ditatap mata dan didengar telinga. Sungguh tidak mudah membayangkan sebuah keindahan yang belum pernah tersaksikan.

Saat pintu masuk paviliun-paviliun terbuka, mereka memperoleh nikmat pandangan bertemu Rasulullah saw dan Nabi Ibrahim—sahabat Allah. Sebuah singgasana telah ditata di setiap paviliun dilasi matras cahaya dengan aliran sungai yang mengalir di hadapannya. Aliran air ini lebih dingin dari salju, lebih manis dari madu, dan lebih wangi dari minyak kesturi. Tepat di hadapan singgasana, bidadari-bidadari duduk, dan setiap bidadari diciptakan dari empat inti yang berbeda. Ia terdiri dari kamver dari kepala hingga dada, dari cahaya kekuning-kuningan dari buah dada hingga pusar, dari pusar hingga lutut terbuat dari minyak kesturi, dan dari lutut hingga kaki terbuat dari saffron. Setiap dari mereka dibusanai dengan busana surga. Busana mereka terbuat dari busana yang terbuat dari seratus helai kain di surga. Busana yang mereka kenakan tembus pandang sehingga lekuk badan sang bidadari tampak persis oleh mata seperti tali yang tembus pandang pada biji tasbih yang terbuat dari mutiara biru.

Pada sisi di samping singgasana tersedia pelayan dan dayang surga yang cantik berdiri dengan sikap menghormat dengan memegang dupa yang menyebarkan aroma parfum. Sebagian di antara mereka tengah memegang perhiasan yang mau dikenakan oleh bidadari yang lain. Apabila sang bidadari ingin menunjukkan raut mukanya pada dunia, cahaya di dagunya akan menyebabkan rembulan dan mentari mengalami gerhana.”

Kisah yang disampaikan seorang cendekiawan tentang betapa hebatnya ciptaan Allah swt membuat sang ibu pemuda tadi berdiri dan berkata, “Tak seorang pun yang kurang cantik dibanding salah seorang bidadari ini yang akan menjadi istri anakku. Paling tidak aku telah menemukan jenis wanita yang paling sesuai untuk anakku.” Kemudian ia berpaling kepada ‘Abdullah bin Zaid dan berkata, “Imam kaum Muslim, mudah-mudahan Allah berkenan memberikan rahmat-Nya kepada Anda. Kepada siapakah Allah menganugerahkan tingkatan yang indah ini sehingga dapat bersanding dengan bidadari-bidadari yang jelita?” Cendekiawan tersebut menjawab, “Bidadari-bidadari yang cantik adalah milik kaum beriman.” Wanita tersebut bertanya apa yang patut bagi mereka. Selanjutnya cendekiawan tersebut menyatakan, “Mereka menahan diri dan tidak melakukan dosa, tunduk kepada Allah, dan menjauhi perbuatan yang dilarang Alla. Selain itu rajin sedekah, zakat dan amal saleh demi Allah. Mendirikan shalat malam. Berpuasa di siang hari. Dan berkorban di jalan Allah. Kaum beriman juga berjihad memerangi kaum kafir dengan pedang demi menjunjung tinggi kalam (dari) Allah dan memberikan pembelaan kepada keutamaan dan kesucian. Rahmat ini diberikan kepada mereka yang tulus berdoa dan beribadah di malam hari.”

Saat beliau telah selesai berbicara, wanita tersebut berkata, “Saya memberikan persyaratan yang telah Anda informasikan. Tidak mungkin terdapat maqam apa pun yang lebih indah atau gadis yang lebih rupawan untuk anak pendosa ini.” Ceramah telah usai. Dia pulang, mengambil 40.000 keping emas dan membawanya menuju masjid. Menyerahkannya kepada ‘Abdullah bin Zaid, ia berkata, “Ya Imam kaum Muslim, ambillah ini sebagai hadiah Anda, karena Anda telah memberikan nasihat yang baik tentang bidadari surga. Ambillah uang ini dan sedekahkanlah kepada kaum papa demi kebajikan.”

Kemudian di suatu kesempatan yang berbeda, terdapat seruan menuju jihad. Pengumuman ini menciptakan atmosfer yang semarak di kalangan kaum beriman. Di segala penjuru persiapan ditata. ‘Abdullah bin Zaid mengumpulkan para darwisynya dan mereka juga bersiap-siap. Massa berkumpul, dan di situ hadir juga ibu dari sang pemuda yang mendatangi Syaikh sambil menggandeng anaknya. “Imam kaum Muslim,” ia memohon, “Biarkan anak saya pergi melaknsanakan imbauan Anda.” Syaikh yang dijunjung tinggi memberikan kesepakatan dan mereka membeli seekor kuda yang bagus untuk pemuda tersebut.

Dengan tali kendali di tangannya, sebuah pedang di pinggangnya dan sebuah tameng di kepalanya dan sepatu boot di kakinya, pemuda yang rupawan tersebut tampak seperti seekor singa. Ibunya menangis saat berkata kepadanya, “Aku memasrahkanmu kepada Allah, mudah-mudahan jihadmu diberkahi; kembalilah secepat mungkin dan mudah-mudahan Allah swt mengantarkanmu kepada maqam yang bagus dan bidadari yang rupawan.”

‘Abdullah bin Zaid melanjutkan cerita, “Setelah melintasi gurun pasir dan pegunungan, lembah dan aliran sungai, kami tiba di kawasan Byzantin dan berhadapan dengan musuh. Kaum kafir dan kaum Muslim membentuk pasukan berlawanan satu dengan yang lain. Para hafizh mulai melantunkan al-Qur’an, sementara para darwisy menyatakan keesaan Allah di puncak suara mereka. Shalawat dan teriakan ‘Allahu Akbar’ terdengar deru-menderu seperti angin merobek tahta langit. Mereka memacu kuda-kuda dengan gagah, para ksatria menyerang, bertarung, dan saling menghancurkan seolah-olah tidak ada kawasan yang tersisa. Kaum beriman meneriakkan ‘Allah, Allah’ dan kaum kafir meneriakkan ‘Hurrah’ dan bercampur satu dengan yang lain.

Pahlawan muda yang tampan ini kemudian melepas tameng dari wajahnya, emmegang kendali kuda di antara telinga kudanya dan menantang barisan pertama angkatan bersenjata kaum kafir. Tidak, bahkan veteran sejumlah besar “peperangan” yang pernah melaksanakan “peperangan” demikian heroik. Ia mengarahkan pandangannya ke langit. Berkali-kali ia menantang musuh. Ia berupaya agar sampai pada derajat kesyahidan. Sang Sayyid ketakutan. Ini bukan langkah untuk “peperangan”. Cara ia berperang cenderung mengarah kepada kehancuran dirinya.

Seorang panglima perang berlari mendatanginya, dan berteriak, ‘Saudaraku yang pemberani, itu bukan cara yang tepat untuk berperang. Konflik dan pertempuran untuk menggiring musuh keluar dari medan, tetapi engkau malah mengorbankan dirimu dan maju menggebu menantang musuh. Lakukan ‘peperangan’ dengan tenang, dan pada saat yang sama jaga dirimu dari musuhmu dan aturlah penggunaan tenagamu. Lindungi diri Anda. Jangan terbutu-buru melebihi sahabatmu. Engkau belum cukup waktu untuk belajar seni perang. Saya takut malapetaka akan menimpamu.’ Tetapi ia menjawab, ‘Syaikh tercintaku, siapa pun yang menyaksikan apa yang saya saksikan akan memiliki persiapan mengorbankan seribu nyawa kalau saja ia mempunyainya.’ Saya mengajukan pertanyaan tentang apa yang ia saksikan, ia memberitahu saya dengan berbunga hati, ‘Sewaktu Anda berceramah kepada kami pada hari tersebut di masjid, kami mendengar kabar yang mempesona yang Anda berikan, tetapi kami kala itu belum mampu menyaksikannya sendiri. Kini saya menyaksikan maqam-maqam yang Anda beritahukan. Rasulullah saw telah merentangkan kedua tangannya kepada saya. Ibrahim sahabat intim Allah, mengucap salam dan memanggil saya. Tidak kurang dari tujuh puluh bidadari tersenyum dari menara surgawi, dan mengundang saya untuk datang. ‘Tidak lain, engkau yang kami tunggu,’ mereka berseru.’ Kedua mata saya menangis mendengar ucapan pahlawan muda yang gagah berani. Ia serta-merta memacu kudanya dan berseru ‘Allahu Akbar, Allah, Allah’ dan menyeruak masuk di antara musuh.

Setelah mengobrak-abrik musuh seperti seekor singa yang mengacak-acak mangsa, ia pergi menuju samping saya dan berkata, ‘Tidak lain Anda yang mengajari saya. Alangkah tinggi peringkat kesyahidan. Mungkinkah Anda takut dengan kegagalan saya menjadi seorang syuhada? Akankah Anda mengeluhkan kehormatan ini pada saya?’ Jawab saya, ‘Cahaya kedua mataku, aku tidak menangis karena kesyahidanmu. Yang menyebabkan aku menarik nafas panjang kesedihan adalah bahwa Islam musti kehilangan seorang pahlwan. Engkau akan memperoleh kehidupan yang lestari. Tetapi, engkau akan tersembunyi dari kedua mataku. Pahlwan-pahlwan yang hidup pun tiba pada maqam yang serupa. Air mata yang aku curahkan berasal dari ‘kecemburuanku kepadamu’.’ ‘Tidak, tidak syaikh tercintaku,’ ia menyatakan, ‘saya tidak boleh kehilangan kesempatan dalam memperoleh rahmat ini. Kehidupan dunia tidak mungkin memiliki pesona lagi bagi saya. Kini saya mesti memperoleh ridha yang lebih luhur. Saksikan, mereka tengah memanggil saya!’

Udara telah beralih menjadi sangat hangat. Ia melemparkan tameng kepalanya dan baju perangnya, melemparkan tali kendalinya ke sisi dan menyambar pedangnya. Dengan seruan Allahu Akbar berulang kali, ia menghantam musuh dengan cara yang tak terlukiskan. Ia memukul roboh orang-orang kafir dan mengirimnya ke neraka jiwa-jiwa musuh Allah, musuh Rasulullah, musuh al-Qur’an. Musuh tidak mengalami kegagalan mengetahui kekalahan yang ditimpakan oleh pahlwan ini pada mereka, sebab ia menangkan setiap kesempatan untuk meluncurkan dirinya ke tengah-tengah mereka. Mereka mengepungnya. Tiba-tiba ratusan pedang beringas dan tombak mencabik-cabik pahlawan muda yang gagah berani ini. Ia jatuh berlumuran darah. Saat angkatan bersenjata Muslim menyaksikan keadaan ini, mereka menyatakan Kemahakuasaan dan Keesaan Allah dengan suara serempak.

Selanjutnya, mereka berduyun-duyun menyerang musuh. Dalam pertempuran ini, yang berlangsung hingga petang hari, darah mengalir bagaikan samudera dan jasad bertumpukan bagai pegunungan. Pada akhirnya musuh terhalau. Tampaknya seolah-olah kemenangan telah menunggu kesyahidan pahlawan tersebut. Musuh tercecer. Saya mendapati pemuda yang punya keberanian tersebut di antara pahlawan-pahlawan yang mati dan terluka. Ia terkapar, kedua matanya memandang Singgasana yang di atas sana. Ia mandi darah dan dari mulutnya yang diberkahi ia mengeluarkan darah. Aroma yang diberkahi tercium dari dirinya. Dagunya yang merona belum lagi pucat pasi. Ia memancarkan cahaya hingga kedua mataku silau. Kedua bibirnya gemetar bergumam. Syaa mendengarkan dan mendengar ia mengucapkan: ‘Laa ilaaha illallaah’. Selanjutnya ia membuka kedua matanya dan memandangku. Tangannya menunjuk pada langit. Ia tampaknya sedang mengucapkan: ‘Aku telah sampai pada tujuanku.’ Saya kemudian merangkul syuhada yang diberkahi tersebut dan mengangkatnya dengan kedua lenganku dan memakamkannya di sebuah tempat yang layak, dengan mengenakan darahnya sebagai kafan.”

Malam harinya, ibu sang pemuda tersebut menyaksikan putranya dalam sebuah mimpi. Martir muda tersebut didudukkan di sebuah Singgasana yang terlalu luar biasa bagi siapa pun selain Allah untuk dilukiskan. Ibunya berkata, “Ada kabar apa buah hatiku? Bagaimana engkau telah diperlakukan oleh Allah swt?” Dan sang syuhada menjawab, “Ibuku sayang, aku telah memperoleh dua maqam yang indah dan sejumlah bidadari rupawan. Aku telah memperoleh apa yang aku damba. Tampaknya para bidadari yang telah diberikan kepadaku telah siap menyambutku saat aku gugur sebagai seorang syuhada. Mereka serta-merta merangkulku dan mengajakku menuju surga.”

——————————————————————————————————————————————————

“Sesungguhnya Allah swt benar-benar akan memanggil surga pada hari kiamat nanti, maka surga pun datang lengkap dengan perhiasan dan keindahannya, lalu Allah berfirman: ‘Di manakah hamba-hamba-Ku yang berperang di jalan-Ku dan terbunuh? Masuklah kalian ke dalam surga,’ mereka pun memasukinya tanpa dihisab terlebih dahulu. Kemudian para malaikat berdatangan dan bersujud seraya mengatakan, ‘Wahai Rabb kami, kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu sepanjang malam dan siang, kami senantiasa mensucikan Engkau, siapakah orang-orang yang Engkau lebihkan atas kami itu?’ Allah berfirman, ‘Mereka adalah hamba-hamba-Ku yang terbunuh dan disakiti di atas jalan-Ku.’” (HR Ahmad dan Al-Bazzaar)

——————————————————————————————————————————————————

One thought on “Seorang Pemuda Bertemu Jodoh di Surga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s