Nabi Isa as dan Si Rakus

(Sumber: Mohamad Zaka Al Farisi, “Like Father Like Son, Untaian Kisah-kisah Penuh Hikmah”, Bandung: MQ Gress, Cet. II, Maret 2008, hal. 83-89)

Dari tempat yang cukup jauh, seorang laki-laki paruh baya berjalan menuju rumah Nabi Isa untuk menjalin persahabatan dengan beliau.

“Kalau boleh, saya ingin sekali bersahabat dengan Tuan.”

“Boleh, tak masalah.”

“Jika demikian, izinkan saya menemani Tuan ke mana pun pergi.”

“Silakan, kalau itu memang kemauanmu.”

Singkat cerita, pada suatu hari mereka sedang berjalan di sepanjang pinggir sungai. Dari dalam tas, Nabi Isa mengeluarkan bekal tiga potong roti kering. Satu potong diserahkan kepada orang itu, satu potong untuk diri sendiri, dan sisa satu potong lagi disimpannya.

Selesai makan, Nabi Isa pergi ke sungai yang airnya jernih. Setelah puas, beliau kembali lagi ke tempat semula dan merasa heran, sepotong roti yang tadi ditinggalkan sudah tidak ada.

“Siapa yang telah mengambil roti yang sepotong lagi?”

“Saya tidak tahu.”

Nabi Isa tidak memperpanjang persoalan. Kemudian, beliau mengajak temannya untuk melanjutkan perjalanan.

Belum juga terlalu jauh berjalan, tiba-tiba mata mereka melihat tiga ekor rusa. Satu induk rusa dan dua lagi anaknya. Nabi Isa menangkap seekor anak rusa. Setelah disembelih dan dibersihkan, beliau memanggang daging rusa itu.

Daging rusa panggang itu dimakan berdua. Setelah kenyang, Nabi Isa menyuruh anak rusa yang telah dimakan itu supaya hidup kembali. Dengan izin Allah, anak rusa itu pun hidup kembali.

“Demi Allah yang menunjukkan bukti kekuasaannya kepadamu, siapakah yang telah mengambil sepotong roti itu?”

Teman Nabi Isa tetap bersikukuh dan mengaku tidak tahu apa-apa. Perjalanan dilanjutkan hingga mereka sampai di sebuah tebing curam dan harus menyeberangi sungai yang arusnya sangat deras. Sekali salah melangkah, akibatnya bisa fatal. Nabi Isa memegang tangannya seraya menuntunnya. Setelah bersusah payah, mereka sampai di seberang sungai.

Kemudian, beliau bertanya lagi, “Demi Allah, Allah-lah yang telah menyelamatkan kita dari arus sungai yang sangat deras itu. Siapa yang telah mengambil sepotong roti itu?”

“Saya tidak tahu,” jawaban yang sama selalu diberikan.

Langkah Nabi Isa dan temannya dilanjutkan kembali. Sampailah mereka di sebuah hutan yang belum pernah didatangi manusia. Sejenak mereka beristirahat melepas penat di bawah sebuah pohon rindang. Ketika sedang duduk-duduk itulah, Nabi Isa mengambil sebongkah tanah. Sesaat, tanah itu dikepal-kepal.

“Jadilah emas dnegan izin Allah,” kata Nabi Isa.

Tiba-tiba, tanah itu berubah menjadi emas. Teman Nabi Isa begitu terpana. Keuda matanya memandangi emas itu tanpa berkedip. Tatapannya menyiratkan hasrat kuat untuk memiliki.

“Nah, emas ini akan kubagi menjadi tiga bagian.”

“Untuk siapa saja?”

“Sepertiga untukku, sepertiga untukmu, dan sepertiga lagi untuk orang yang mengambil roti.”

Mendengar hal itu, spontan senang dan berkata dengan penuh kegirangan, “Sebenarnya, saya yang mengambil roti itu.”

Nabi Isa hanya menggeleng-geleng, kasihan melihat temannya yang sangat tamak.

“Ya sudah, kamu ambil saja semua emas ini. Tetapi, perjalanan kita berakhir di sini saja. Kita berpisah.”

Aku tak peduli. AKu sudah mendapatkan sebongkah emas. Selamat tinggal kemiskinan, kata orang itu dalam hati.

“Begini saja, aku ke arah timur dan kamu ke arah barat.”

Si teman hanya mengangguk tanda setuju. Jauh di lubuk hatinya, dia bersorak dengan perpisahan ini karena sudah mendapatkan emas yang tak ternilai harganya. Lagi pula, ke barat adalah adalah jalan pulang. Dengan begitu, dia tidak perlu berlama-lama mengadakan perjalanan bersama Nabi Isa.

Menjadi kaya raya sudah terbayang-bayang dalam benak teman Nabi Isa itu. Berbagai rencana sudah dibuat. Rasanya sudah tidak sabar lagi ingin segera sampai di rumah guna mewujudkan impiannya. Langkah pun dipercepat. ak disangka, dari semak-semak yang rimbun, muncullah dua orang berpakaian hitam-hitam. Tubuh mereka tegap dengan kumis tebal dan cambang yang tak terurus dan menyeramkan. Yang lebih menyeramkan lagi, sebuah golok besar terselip di pinggang masing-masing.

Teman Nabi Isa berpikir bahwa mereka adalah perampok dan dia harus segera menyelamatkan enas itu. Akhirnya, dia berpikir bahwa emas itu harus dibagi tiga. Dua perampok itu sudah menghadang di depan. Sorot mata mereka sangat tajam dan cukup membuat ciut nyali orang yang melihatnya.

Khawatir kedua perampok itu merebut emas dari tangannya, teman Nabi Isa itu buru-buru memberikan penawaran.

“Tuan-tuan, saya punya barang berharga.”

“Barang apa?” tanya perampok yang satu seraya menyarungkan kembali goloknya.

“Akan saya beritahu kalau Tuan-tuan mau menerima sebuah syarat.”

“Syarat apa? Katakan saja, tidak usah berbelit-belit!”

“Begini, saya punya sebongkah emas.”

“Wow, sebongkah emas!” seru dua perampok serempak. “Lalu, apa syarat yang kau minta?”

“Saya mau emas ini dibagi tiga.”

“Ya, kami setuju saja. Bukan begitu, Adik?”

Yang dipanggil adik hanya mengangguk. Beberapa saat, mereka berbincang-bincang. Seseorang mengusulkan agar di antara mereka ada yang pergi berbelanja makanan. Cukup lama tidak menyantap makanan, perut mereka pun keroncongan.

Awalnya, teman Nabi Isa yang ditunjuk untuk membeli makanan. Namun, dia menolak karena kalau pergi, siapa yang menjamin kedua perampok itu tidak kabur. Akhirnya, disepakati bersama bahwa salah seorang dari perampok itu pergi berbelanja.

Pergilah si perampok yang tadi dipanggil adik. Timbullah sifat tamak dalam diri si perampok. Sepanjang perjalanan, dia berpikir bagaimana menyingkirkan kedua saingannya supaya bisa mendapatkan emas itu seorang diri.

“Akan lebih baik kalau emas itu manjadi milik saya sendiri. Dibagi tiga terlalu sedikit, tetapi bagaimana caranya menyingkirkan mereka?”

Orang ini berpikir cukup lama, namun tiba-tiba dia melinjak senang. “Aku akan membubuhi makanan dengan racun. Kedua orang itu pasti mati dan emas itu hanya menjadi milikku.”

Di tempat lain, teman Nabi Isa dan perampok yang satunya lagi mengobrol. Ternyata, mereka juga sedang membicarakan bagaimana cara menyingkirkan perampok yang sedang membeli makanan.”

“Sebaiknya, emas ini kita bagi dua saja,” ujar teman Nabi Isa.

“Saya setuju. Terus, bagaimana dengan teman saya?”

“Gampang. Begitu datang, kita bunuh dia.”

Saat orang yang ditugaskan berbelanja itu datang, langsung saja mereka membunuhnya. Sesuai dengan kesepakatan, emas itu kemudian mereka bagi dua.

“Ayo, kita makan dulu!” ajak teman Nabi Isa.

“Ayo, saya juga sudah lapar sekali.”

Namun, apa yang terjadi? Setelah menyantap makanan itu dengan lahap, mereka pun mual-mual. Dari mulut keluar busa. Kemudian, mereka pun mati dan hanya satu yang tersisa, yaitu sebongkah emas.

Sekembali dari perjalanan, Nabi Isa melewati hutan itu. Beliau melihat sebongkah emas dikelilingi tiga mayat yang telah membujur kaku. “Itulah dunia! Waspadalah, jangan sampai terperdaya.”

——————————————————————————————————————————————————

“Apa yang mesti aku katakan pada kalian? Dunia adalah sebuah negeri yang awalnya penuh dengan kesusahpayahan dan akhirnya adalah kebinasaan. Barang yang halalnya akan diminta pertanggungjawaban dan yang haramnya akan mendapatkan hukuman. Orang yang tidak membutuhkan dunia akan mendapatkan fitnah, dan orang yang membutuhkannya akan sedih.” (Ali ra)

——————————————————————————————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s