Raja yang Ingin Berjumpa dengan Khidhir as

(Sumber: Syaikh Muzaffer Ozak al-Jerrahi, “Allah, Nabi Adam, dan Siti Hawa” (diterjemahkan oleh Luqman Hakim), Bandung: Pustaka Hidayah, Cetakan I, Juli 2009, hal. 75-96)

Seorang raja, pada suatu waktu, mengeluarkan pengumuman ke seluruh negeri, “Barangsiapa yang bertemu dengan Khidhir dan menghadapkannya padaku, akan kuberi hadiah yang sangat besar. Hadiah apa pun yang diinginkannya.”

Melalui pengumuman tersebut, tugas dari raja sebenarnya merupakan pekerjaan yang sangat sukar dan serius untuk rakyat kebanyakan. Tetapi tentu saja, tugas itu tidak sukar bagi para wali dan sufi. Hanya saja, apakah para wali atau sufi bersedia melakukannya untuk sebuah keutamaan dunia dan hadiah dari seorang raja?

Dikisahkan, ada seorang ulama miskin yang pengetahuannya cukup dalam. Mendengar pengumuman itu, dia merasa tertarik untuk melakukannya. Ulama ini, meskipun mempunyai pengetahuan dan kebijaksanaan hasil bertahun-tahun pembelajarannya, tidak berharta dan sangat miskin. Harapannya, jika berhasil melaksanakan tugas tersebut dia akan meminta harta sehingga sisa hidupnya akan berbahagia; jika gagal dalam tugas itu, setidaknya dia merasa terhormat karena mendapat kepercayaan raja untuk menjadi pelaksananya. Berarti persoalannya di sini tergantung kepada kejujuran raja nanti.

Dengan pertimbangan demikian, ulama itu pun menghadap raja, mengatakan bahwa dia sanggup melaksanakan tugas. Mendengar hal itu, lalu raja berkata, “Pekerjaan ini luar biasa pentingnya untuk kerajaan. Rakyatku sedang dalam keadaan sulit; kita masih menghadapi masalah kemakmuran dan kedamaian. Jika nanti bertemu Khidhir, aku akan meminta nasehat dari dia, lalu akan kulaksanakan nasehatnya yang bijaksana untuk membenahi seluruh kekacauan ini. Kerajaan ini bisa bertahan hanya jika rakyatku bahagia, makmur, tenang, dan damai.”

Lalu si ulama berkata, “Hamba hanya minta dua ekor kuda untuk ditunggali oleh hamba dan Khidhir, serta sedikit uang.”

Raja setuju. Diberinya ulama itu dua ekor kuda dan sebuah tas pelana berisi emas selain surat tugas langsung dari raja untuk penugasan selama tiga bulan. Maka, ulama itu pun berangkat meninggalkan istana. Tetapi bukan ke mana-mana, dia membawa semua itu ke rumahnya. Pulang. Uang emas dia gunakan untuk merenovasi gubuknya dan membuat kandang untuk dua ekor kuda yang diperolehnya, untuk dia pelihara sendiri. Selanjutnya, ulama itu pun menjalani kehidupan yang nyaman.

Pada suatu malam, si ulama berdoa kepada Allah Yang Maha Kasih. Dia berdoa sampai mengucurkan air mata, menarik nafas panjang, lalu dalam doanya dia berujar, “Ya Allah, sesungguhnya aku tahu bahwa adalah pekerjaan yang sia-sia untuk mencari dan menemukan hamba-Mu Khidhir. Aku berjanji melaksanakan pekerjaan ini. Tetapi aku sangat miskin sehingga keluargaku tak berbahagia hidup di dunia ini. Jika kutemukan Khidhir, tentunya sejumlah besar berkahnya bukanlah jatahku, tetapi aku ridha karena Engkau sudah anugerahkan aku pengetahuan yang dalam. Sayangnya, anak-anakku dan orang-orang yang menjadi tanggunganku tidak menganggap pengetahuanku ini sebagai harta yang bernilai. Bagi mereka, kebahagiaan dunia tak lain hanyalah uang, makanan, dan pakaian. Itulah sebabnya aku mengajukan diri untuk pekerjaan ini. Ya Allah, janganlah Engkau kecewakan hamba-Mu yang malang ini. Kirimkan Khidhir padaku agar aku tidak menjadi objek hinaan.” Demikian doa ulama itu.

Ada pepatah mengatakan bahwa “hari-hari yang indah dan damai lebih terasa cepat berlalu”. Waktu penugasan tiga bulan untuk ulama itu pun habis. Alangkah panjangnya malam hari bagi orang yang sedang sakit, dalam kekacauan, dan penderitaan. Sebaliknya, alangkah pendeknya malam hari bagi perjumpaan para pecinta. Semoga mulai sekarang kita mampu memahami hal ini dengan lebih baik…

Waktu penugasan tiga bulan pun berlalu, membuat si ulama kehilangan harapan untuk bertemu dengan Khidhir. Dia pun pergi ke istana menunggangi salah satu kuda sembari menuntun kuda lainnya. Pada saat yang sama, di istana persiapan yang meriah telah diadakan untuk menyambut kadatangan Khidhir. Pengawas istana datang dan memberitakan kepada raja bahwa ulama yang berjanji menemukan Khidhir sedang mengarah menuju istana, sendirian. Raja marah besar, hingga dia terduduk. Diperintahkannya dewan istananya untuk bermusyawarah, dan mengeluarkan titah agar ulama itu diadili dan dihukum mati, segera.

Sesuai dengan titah raja, majelis pun berkumpul, dan di ruangan itu raja tengah melampiaskan amarah kepada si ulama, “Di mana Khidhir? Alangkah beraninya kau menipuku. Apa kau tahu hukuman untuk orang yang membohongi raja?”

Tetapi dengan tenang si ulama menjawab, “Wahai Paduka, hamba mengajukan diri untuk suatu pekerjaan, dan sebagaimana Paduka saksikan, hamba telah gagal. Hamba berharap berjumpa dengan Khidhir, tetapi bagaimana hamba mampu melakukannya? Ampun Paduka! Hamba terima hukuman apa pun yang hamba patut terima. Hamba ridha.”

Ketika si ulama mengutarakan segala kepasrahannya yang mendalam tersebut, ada seorang anak lelaki menghampiri. Para pejabat istana dan semua yang ada di situ menganggap anak lelaki itu adalah anak si ulama, tentu saja, sedangkan si ulama mengira anak itu adalah salah satu anggota keluarga kerajaan. Tidak ada yang terlihat ganjil, karena dalam penglihatan para pejabat istana anak itu berpakaian lusuh dan compang-camping, padahal di mata si ulama anak itu terlihat berbusana indah layaknya seorang pangeran. Pada masa itu, kompleks istana masih mudah dimasuki oleh rakyat kebanyakan, apalagi jika masuk dengan busana yang indah memukau.

Raja menoleh kepada menteri pertama, dan bertanya, “Hukuman apa yang patut untuk lelaki penipu ini? Katakan saja dengan terbuka dan jangan ragu-ragu, agar hukuman itu menjadi teladan bagi orang-orang lainnya bahwa jangan berani-berani menipu penguasa.”

Menteri pertama pun menjawab, “Paduka yang mulia, hukuman untuk lelaki ini adalah digiling pada penggilingan gandum. Geruslah badannya sampai daging dan tulangnya bercampur. Kemudian izinkan kami mengirimkan sampel dari campuran gilingan itu ke semua provinsi untuk dipajang di taman umum, dan siapa saja yang membacanya harus emngumumkan kepada seluruh rakyat, bahwa mereka akan mendapatkan hukuman serupa jika berani-berani menipu penguasa. Saya yakin cara ini akan membuat semua orang tak berani bahkan untuk memikirkannya sekalipun.”

Menanggapi gagasan menteri pertama ini, anak lelaki di situ yang sedari tadi diam, berkata, “Segala sesuatu akan kembali kepada asal-usulnya!”

Sesungguhnyalah segala sesuatu pasti akan berpulang menuju asal-usulnya. Setiap kalimat yang dilontarkan menunjukkan karakter orang yang mengucapkannya. Siapa menteri-menteri itu, siapa pula anak lelaki itu.

Kemudian, raja berpaling kepada menteri kedua, dan mengajukan pertanyaan yang sama. Menteri kedua bangkit dari keursinya, “Ya Maharaja dunia, hukuman yang digariskan oleh Perdana Menteri adalah pantas. Namun, jika kita mempertimbangkan sifat kelembutan Paduka, menurut keyakinan hamba yang sederhana, lelaki ini sebaiknya dilemparkan hidup-hidup ke dalam perapian untuk dipanggang, lalu tubuhnya dihancurkan hingga berkeping-keping. Kirimkan setiap kepingan ke seluruh provinsi negeri dan pamerkan di depan umum. Mudah-mudahan cara itu akan menyadarkan semua orang ihwal apa konsekuensinya jika menipu penguasa.”

Menanggapi saran ini, anak lelaki tadi mengulangi perkataannya, “Segala sesuatu akan pulang menuju asal-usulnya.” Selanjutnya, raja minta pandangan dari menteri ketiga. “Paduka,” kata sang menteri, “serahkan saja lelaki ini kepada algojo, perintahkan agar kulitnya disayat sampai lepas dari badannya, kemudian cincanglah. Kirimkan semua bagian cincangan tadi ke seluruh provinsi dan pamerkan sebagai peringatan untuk seluruh rakyat. Seandainya cara ini sudah diterapkan pada kasus-kasus serupa sebelum ini, ulama ini pun tentu tak akan berani menipu raja.” Usulan ketiga menteri selesai diucapkan, tiba-tiba terdengar sebuah suara lantang menyahut, “Segala sesuatu berpulang kepada asal-ususlnya,” anak lelaki itu yang berbicara. Sewaktu ketiga menteri tadi menjawab pertanyaan raja dengan gagasan-gagasan mereka, si ulama yang berilmu hanya duduk di kursinya, kadang-kadang wajahnya pucat pasi, kadang-kadang memerah, dan tubuhnya berkeringat dingin. Dari tiga orang menteri, tak seorang pun yang menunjukkan belas kasihan padanya walaupun sedikit. Tak sedikit pun yang membuka peluang ke arah pengampunan baginya. Dia sadar tindakannya salah, tetapi apakah hukuman yang ganas dan haus darah seperti itu memang sudah pantas? Bagaimanapun dia merasa bukan penjahat. Semua menteri itu, bukankah manusia juga seperti dia? Harusnya mereka sadar bahwa semua orang tak akan lepas dari kesalahan. Keadilan nyaris tidak mungkin dilaksanakan dengan hukuman-hukuman yang ganas seperti itu untuk sebuah kesalahan sepele. Alternatif tadi adalah hukuman yang tidak kondusif bagi kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat, dan kata hati semua orang pastinya serupa dengan si ulama itu. Hukuman-hukuman yang ganas semacam ini bakal memperkukuh tirani yang kejam. Di dalam negeri yang dijalankan dengan tirani, tak akan mungkin dijumpai jejak keadilan, apalagi kebahagiaan dan kemakmuran.

Pikiran si ulama terdakwa masih disibukkan dengan pikiran tersebut, namun pada saat yang sama dia mengasihani tiga menteri raja yang menyarankan hukuman-hukuman ekstrim seperti itu. Ketiganya tidak tahu, bahwa saran mereka sebenarnya menunjukkan kutukan terhadap diri mereka sendiri. Sayangnya yang baru mampu mereka lihat adalah berharap simpati dari paduka raja.

Akhirnya, sang raja berpaling kepada para ulama, raja pun menanyakan hal yang sama kepada syaikhul Islam pemimpin ulama kerajaan. Dan syaikhul Islam pun berbicara, “Paduka raja adalah pemimpin yang kami tahu teguh kepada ajaran dasar bahwa keselamatan ada di dalam musyawarah. Karena Paduka menanyakan pandangan hamba, hamba ingin mengatakan bahwa persoalan ini harus dirujukkan, tidak lain, kepada cinta kasih Paduka sendiri. Terdakwa, dalam hal ini sudah secara terbuka mengakui kesalahannya karena gagal dalam melaksanakan tugas, sebuah tugas yang sangat berat, yang sejak awal tentunya dia berharap untuk berhasil. Hendaknya Paduka tidak menzalimi orang yang sudah mengakui kesalahannya. Sepatutnya Paduka memberi ampunan padanya, karena akan tiba suatu hari di mana Paduka dihadapkan ke muka Pengadilan Allah. Pada saat itu Paduka akan merasakan hal yang sama dengan perasaan terdakwa sekarang ini. Hanya Allah sajalah Yang Maha Kuasa pada hari itu. Dia Maha Lembut dan Maha Melindungi. Jika sekarang Paduka mengampuni terdakwa, maka Paduka akan memperoleh ampunan Allah, dan Dia akan memperlakukan Paduka dengan kelembutan. Terdakwa telah gagal dalam upaya mencari Khidhir dalam waktu tiga bulan yang Paduka berikan. Oleh sebab itu, berilah dia ampunan, dan sanksi yang harus dia tanggung adalah mengembalikan berapa pun uang emas yang tersisa setelah dikurangi biaya dia selama melakukan pencarian Khidhir. Seandainya, karena kemiskinannya uang itu ternyata sudah habis, sebaiknya catatlah jumlah uang yang terpakai itu sebagai simpanan pribadi Paduka pada perbendaharaan rakyat, dan kasus ini ditutup. Sudah sepatutnya, seorang raja menunjukkan kualitas kedermawanan dan kemurahan hatinya, seperti seorang bapak yang memaafkan kesalahan anak-anaknya. Jika rakyat berbuat licik, hal itu menunjukkan kelemahan sang raja. Rakyat yang sama juga menunjukkan kehinaannya karena mengangkat menteri-menteri yang salah.

Negara ibaratnya seorang bapak, dan rakyat adalah anak-anaknya. Jika si bapak memiliki keutamaan dan membimbing anak-anak yang menjadi tanggungannya secara layak, maka anak-anaknya itu akan menjadi sahabat-sahabatnya yang menunjukkan sikap tunduk. Adalah jelas dan alamiah pula jika si bapak berkarakter jahat, maka anak-anaknya akan menjadi orang-orang jahat. Setiap bapak akan mendapatkan anak-anak yang pantas untuknya. Karena itu kelemahan ulama terdakwa ini, sejatinya disebabkan oleh kekuarangan Paduka raja. Maka ampuni dia, agar nanti Paduka pun diampuni Allah.”

Hati raja sangat tersentuh oleh putusan yang adil dan menunjukkan kebenaran ini, sehingga membuat raja itu menangis. Saat itu pula, anak lelaki kecil tadi berseru lantang, “Setiap orang kembali pulang menuju asal-usulnua. Setiap orang akan menunjukkan sifat aslinya melalui perkataan dan penilaian yang diucapkannya.” Sang raja, yang sejak awal persidangan mengamati anak lelaki kecil itu, juga sadar bahwa anak itu selalu mengulangi dan berkomentar dengan kalimat-kalimat yang sama. Hal yang membuat sang raja penasaran, dan bertanya, “Apa maksudmu dengan komentar-komentar itu?” Anak lelaki kecil itu pun dengan berani dan fasih memberikan pandangan, “Wahai Paduka Raja yang murah hati, tujuan Padukan mencari dan berjumpa Khidhir ialah untuk meminta nasehat dan berharap dapat mengubah tatanan kerajaan ini sehingga lebih rapi menuju kedamaian dan kemakmuran. Tetapi menurut hamba, hukuman yang diusulkan oleh menteri pertama menunjukkan bahwa menteri itu benar-benar tidak pantas memegang jabatannya. Menteri itu lebih pantas diberi pekerjaan sebagai kepala penggilingan di dapur istana. Dengan demikian, Paduka akan selalu menikmati kue buatannya yang lezat. Ketika tadi dia mengutarakan pendapatnya, sebenarnya dia sedang menunjukkan kecakapan dan profesi sejatinya, dan sedang memberitahukan kepada semua orang di sini bahwa dia adalah anak seorang penggiling gandum.

Akan halnya menteri kedua, pendapatnya menunjukkan kalau dia lebih pantas diberi jabatan sebagai penanggung jawab oven istana. Sudilah kiranya Paduka memberi dia pekerjaan itu shingga Paduka akan menikmati makanan-makanan yang dipanggangnya. Jawaban menteri kedua mengungkapkan karakter sejati dirinya dan memberitahukan kepada kita bahwa dia adalah anak seorang pemanggang.

Menteri ketiga yang mengusulkan agar terdakwa dikuliti menunjukkan bahwa dia sebenarnya seorang pemotong daging yang piawai. Sebab, gagasan membunuh lalu menguliti seorang manusia dan mencincangnya, secara alamiah, hanya dipahami oleh pikiran seorang pemotong daging. Jadi, sepatutnya dia diberi pekerjaan sebagai kepala lembaga pemotongan hewan. Memang hanya menjadi tukang jagal saja bakat orang itu.

Maka, ketiga menteri yang Paduka angkat sebenarnya adalah seorang penggiling gandum, seorang pemanggang, dan satu lagi adalah tukang jagal. Masing-masing menteri itu telah membuka jti diri mereka sendiri dengan gagasan dan pernyataan-pernyataannya. Mungkin saja mereka mengatakannya tanpa disengaja. Tetapi faktanya, tak seorang pun di antara mereka mampu melepaskan diri dari pengaruh profesi dan kecakapan sejatinya. Tidak ada yang salah dengan pekerjaan penggiling, pemanggang, dan jagal. Semua itu bermanfaat dan penting bagi rakyat. Tetapi pemerintahan sebuah kerajaan bukan persoalan mencincang daging, memanggang roti, menyembelih, atau menguliti hewan maupun manusia. Yang diperlukan oleh pemerintahan adalah pengabdian dari orang-orang yang karakternya pas, terlatih, dan dewasa. Para pemotong daging, pemanggang roti, dan penggiling gandum, sangat lihai dengan urusan tersebut, tetapi pasti tak akan sukses ketika mereka disuruh menjalankan administrasi pemerintahan. Demikian pula, seorang negarwan tentu tak akan mampu jika disuruh melakukan ketiga pekerjaan tersebut.”

Semua orang yang ada di situ, termasuk raja, sangat terpukau dan menyimak dengan serius, dan anak lelaki itu menambahkan, “Hamba tidak bermaksud mengecilkan atau menyalahkan menteri-menteri Paduka dengan menyebut mereka pemotong daging, pemanggang, atau penggiling. Tujuan saya adalah memberitahukan agar setiap orang diberi jabatan sesuai dengan keahliannya. Rasulullah saw bersabda, ‘Jika sebuah pekerjaan tidak diserahkan kepada ahlinya, maka hendaknya kalian bersiap-siap menyambut datangnya kehancuran (Hari Kiamat).’

Setelah hamba memberi pandangan berkenaan para menteri, izinkan hamba sekarang untuk berbicara tentang syaikhul Islam yang dijunjung tinggi. Kita semua sudah mendengar ucapan beliau, dan tentu saja, perkataan beliau menyingkapkan bagaimana asal-usulnya. Sesungguhnya beliau adalah pangeran dari kerajaan India. Beliau meninggalkan kampung halaman karena terjadi perebutan kekuasaan di antara saudara-saudaranya, dan akhirnya bermukim di kerajaan ini dengan mengemban posisi sebagai syaikhul Islam. Setelah kita mendengar pandangan beliau, Paduka raja seharusnya mengamati kalau syaikh adalah anak muda di istana ini yang berwawasan luas.

Hendaknya Paduka berkenan menunjuk syaikh Islam sebagai Perdana Menteri. Lalu, pada jabatan menteri yang kosong saya harap paduka berkenan mempercayakannya kepada si ulama yang sekarang menjadi terdakwa, karena ilmunya yang dalam. Sebenarnya dia adalah ulama yang pandai namun sayang keutamaan dia tidak terlihat oleh kebanyakan orang yang hadir di sini. Kemiskinanlah penyebab pelanggaran yang dia lakukan sehingga harus dihadirkan di sini. Insiden dan situasi sekarang memang patut dia terima. Jika menteri-menteri yang sekarang Paduka mutasi ke jabatan-jabatan yang saya sarankan tadi, maka setiap orang telah mendapatkan tempatnya masing-masing yang pas.

Paduka raja, jika seandainya Khidhir sekarang hadir pun beliau tidak mungkin membantu Paduka dengan memberi nasehat yang lebih bermanfaat daripada ini.” Setelah kalimat itu, anak lelaki tersebut bangkit dan berjalan pergi meninggalkan istana.

Ketika semua orang masih menggumam terkagum-kagum terhadap solusi yang dilontarkan anak kecil itu, si ulama terdakwa yang masih berada di dok terdakwa tiba-tiba melompat dan bersimpuh sambil berseru, “Itu Khidhir! Itu pasti Khidhir! Hamba berhasil membawa dia, hamba membawa dia ke hadapan Paduka raja.” Namun belum selesai terdakwa berkata-kata, Khidhir yang menyamar menjadi anak kecil itu tiba-tiba sirna dari pandangan.

Tanpa pikir panjang, raja pun melaksanakan semua nasehat Khidhir. Raja pun mendapat informasi bahwa ternyata menteri pertama adalah benar cucu dari kepala penggilingan gandum; demikian pula pekerjaan dari kakek menteri kedua dan ketiga, semuanya benar. Syaikhul Islam adalah benar seorang pangeran, dan ulama si terdakwa sesungguhnya memang ulama besar.

Tidak berhenti hanya puas dengan laporan dan pembuktian itu, raja melaksanakan semua nasehat dari Khidhir. Alhasil, beberapa waktu kemudian kerajaan berhasil mewujudkan kedamaian, kebahagiaan, dan kemakmuran bagi seluruh rakyatnya. Untuk waktu yang panjang, rakyat tetap menikmati kemakmuran itu dan dapat membangun negeri mereka dalam atmosfer sikap saling cinta-mencintai dan saling menghargai.

———————————————————————————————————————————

“Janganlah kamu meminta jabatan dalam pemerintahan. Karena jika kamu diberi jabatan karena permintaanmu, maka bebanmu sungguh berat. Tetapi jika kamu diberi jabatan tanpa kamu minta, maka kamu akan dibantu oleh orang banyak.” (HR Muslim)

———————————————————————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s