Khalifah Umar ra Sudah Tidak Waras?

(Sumber: Mohamad Zaka Al Farisi, “Like Father Like Son, Untaian Kisah-kisah Penuh Hikmah”, Bandung: MQ Gress, Cet. II, Maret 2008, hal. 183-187)

Benarkah Khalifah Umar bin Khatthab telah gila? Pertanyaan ini menggelitik banyak orang pada masa itu. Pasalnya, banyak orang yang melihat sendiri mertua Rasulullah saw seperti orang yang kurang waras.

Mungkinkah hal ini terjadi karena pada masa mudanya Umar sering berbuat dosa? Menyembah berhala, mabuk-mabukan, dan membunuh bukan hal yang luar biasa bagi Umar kala itu. Tidak sedikit yang menjadi korban, termasuk anaknya sendiri yang mati dikubur hidup-hidup. idak mengherankan kalau setelah memeluk Islam, sosok Umar ini sangat disegani orang-orang kafir Quraisy.

Mungkin masa lalu itulah yang menyiksa batin khalifah kedua ini. idak jarang, Umar menangis sendirian seusai menunaikan shalat. Kemudian, dia tertawa terbahak-bahak sendirian. Padahal, tidak ada hal yang lucu. Dari sekian banyak sahabat, Abdurrahman bin Auf termasuk yang paling akrab dengan Umar. Sudah pasti, Ibnu Auf merasa tersinggung mendengar tuduhan miring itu. Wajahnya terlihat murung, apalgi hampir semua orang di Madinah menganggap Umar benar-benar kurang waras. Lebih jauh lagi, ada orang yang mempertanyakan kepemimpinan Umar. Dia menilai Umar tidak normal dan kurang waras.

Banyak perilaku Umar yang nyeleneh. Suatu ketika, Umar memimpin shalat Jumat. Pada saat berkhutbah di atas mimbar, tiba-tiba saja Umar berseru lantang.

“Hai pasukan, bukit itu, bukit itu, bukit itu!”

Mendengar keganjilan itu, jamaah pun kaget. Seruan Umar sama sekali tidak relevan dengan materi khutbah yang sedang disampaikannya.

“Wah, khalifah Umar benar-benar sudah tidak waras,” celetuk beberapa orang seusai shalat Jumat.

Lain halnya dengan Abdurrahman bin Auf. Dia tidak berani gegabah menuduh Umar gila dan harus jelas apa penyebab Umar bertindak seperti itu. Dengan dipenuhi rasa penasaran, Ibnu Auf mendatangi Khalifah Umar.

“Amirul Mu’minin, sebelum bertanya, saya mohon maaf apabila Tuan tersinggung,” kata Ibnu Auf dengan hati-hati.

“Jangan sungkan. Katakan saja apa yang ingin kau katakan.”

“Begini Amirul Mu’minin, pada saat khutbah tadi, mengapa tiba-tiba saja Tuan berseru lantang seraya menatap ke tampat yang jauh?”

“Begini sahabtku, beberapa hari yang lalu saya mengirimkan pasukan. Mereka mengemban tugas untuk memberantas gerombolan pengacau. Ketika berkhutbah, saya melihat pasukan itu mendapat kesulitan. Mereka dikepung musuh dari segala penjuru. Satu-satunya lokasi yang bisa dijadikan benteng pertahanan adalah sebuah bukit yang berada di belakang mereka. Oleh karena itulah, saya berseru lantang, bukit itu! Bukit itu! Bukit itu!”

Dahi Ibnu Auf mengernyit. Pikirannya masih belum bisa menerima penjelasan Umar. Ketidakpercayaan ini tentu saja tidak ia ungkapkan kepada Umar.

“Satu lagi. Mengapa dulu Tuan suka menangis dan tertawa sendirian seusai shalat?”

“Saya menangis ketika teringat dosa-dosa sebelum memeluk Islam. Bayangkan, saya pernah mengubur hidup-hidup anak perempuan saya yang masih kecil. Saya sangat sedih bila teringat anak yang sedang lucu-lucunya itu.”

“Lalu, yang membuat Tuan tertawa?”

“Saya teringat akan kebodohan saya. Bagaimana tidak, saya membuat patung dari tepung gandum. Patung itu saya sembah layaknya kepada Tuhan. Tragisnya, kemudian saya memakannya di saat lapar,” papar Umar sambil tersenyum.

Sambil menyungging senyum, Ibnu Auf pun berpamitan kepada Umar. Namun, ada satu yang masih mengganggu pikirannya. Dia belum bisa memastikan kebenaran ucapan Umar mengenai pasukan yang dikirimnya, atau jangan-jangan Umar tidak waras. Sungguh tidak masuk akal dia bisa melihat keadaan pasukan dari tempat yang jauh.

Singkat cerita, pasukan sudah kembali ke Madinah. Panji kemenangan berkibar-kibar. Wajah pasukan berseri-seri, senyum kemenangan tersungging di bibir mereka. Mereka bersuka cita meskipun tidak sedikit yang mengalami luka.

Keesokan harinya, komandan pasukan bercerita. Di hadapan orang banyak, dia melukiskan kedahsyatan perang yang mereka alami.

“Kami dikepung tentara musuh. Rasanya, tidak ada harapan bisa keluar dari kepungan musuh dengan selamat.”

“Terus, apa yang terjadi?” tanya seseorang penasaran.

“Tentara musuh semakin beringas. Kami dihantam dari berbagai penjuru. Dalam waktu singkat, kami pun kocar-kacir. Sampai tibalah waktu shalat Jumat. Saat itulah, kami mendengar sebuah seruan, ‘Bukit itu! Bukit itu! Bukit itu!’“

Sejenak sang komandan terdiam. Orang-orang saling pandang dan teringat akan seruan Umar ketika sedang menyampaikan khutbah Jumat.

“Tiga kali kami mendengar seruan itu dan begitu jelas. Kami paham akan maksudnya. Serta-merta, kami pun mundur menuju lereng bukit. Bukit itu kami jadikan sebagai benteng pelindung di bagian belakang. Dengan begitu, kami hanya menghadapi serangan lawan dari arah depan saja. Akhirnya, kami dapat menguasai keadaan.

Kini, Abdurrahman bin Auf mengerti. Kepalanya mengangguk-angguk penuh takjub. Demikian pula masyarakat banyak, mereka yang tadinya menuduh Umar tidak waras kini balik memuji-muji beliau.

———————————————————————————————————————————

“Waspadalah terhadap firasat seorang mukmin. Sesungguhnya dia melihat dengan nur Allah.” (HR At-Tirmidzi dan Athabrani)

———————————————————————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s