Nabi Idris as dan Malaikat Izrail

(Sumber: Imam Ahmad Ibnu Nizar, “Nabi Sulaiman dan Burung Hudhud”, Yogyakarta: DIVA Press, Cet. I, Mei 2009, hal. 26-31)

Malaikat Maut, Izrail, begitu takjub melihat berbagai amal yang dilakukan Nabi Idris as. Dalam sehari semalam saja, amal kebaikan Nabi Idris sudah begitu menumpuk. Jumlahnya seakan menyamai jumlah amal seluruh penduduk bumi yang harus segera diangkut ke langit. Izrail belum pernah sekali pun menyaksikan wajah hamba sekuat itu. Oleh sebab itu, dia ingin sekali berziarah kepada Nabi Idris.

Pada suatu saat, Izrail memberanikan diri memohon izin kepada Allah untuk dapat mengunjungi Nabi Idris. Dan ternyata, Allah memberi izin kepadanya. Maka, berangkatlah, malaikat maut itu untuk menemui Nabi Idris dengan menyerupai seorang manusia. Ia memasuki rumah Nabi Idris seraya mengetuk pintu, lalu Nabi Idris pun mempersilakannya masuk dan duduk di tempat yang terhormat.

Nabi Idris adalah seorang nabi yang selamanya berpuasa. Bila waktu berbuka telah tiba, maka akan ada seorang malaikat yang turun kepadanya dengan membawa berbagai makanan yang lezat cita rasanya. Ketika waktu Maghrib telah tiba, segera saja beliau mengajak Izrail untuk menikmati santapan yang telah disediakan itu. Walaupun hidangan berbuka kali ini terlihat begitu nikmat dan menggugah selera, tetapi dilihatnya tamunya itu tidak juga mau makan, ia hanya menunggui Idris sampai puas berbuka. Ketika itu, Nabi Idris belum menyadari keganjilan ini.

Malamnya, seperti biasa, Nabi Idris terus melakukan peribadatan, sementara malaikat itu selalu berada di sampingnya sampai terbit fajar. Untuk membahagiakan tamunya itu, maka Nabi Idris mengajaknya jalan pagi melihat indahnya pemandangan alam dan menghirup segarnya udara di pagi hari dengan melintasi kebun anggur milik orang lain. Ketika itulah, tamu itu berkata, “Perbolehkanlah aku memetik beberapa tangkai anggur, seleraku bangkit seketika saat melihatnya!”

“Adakah Anda ingin memakan makanan haram, sementara tadi malam Anda selalu menolak makanan halal!” begitu sergah Nabi Idris.

Tamu itu pun tidak jadi memetiknya. Kemudian ia malah mengajak Nabi Idris berjalan terus tanpa henti sampai empat hari tanpa makan, minum, kencing, ataupun buang air besar. Setelah melihat keganjilan ini, Nabi Idris bertanya, “Siapa Anda?”

“Saya Malaikat Maut,” jawabnya singkat.

“Adakah Anda sang pencabut nyawa itu?” sambung Nabi Idris.

“Allahumma, kiranya tidak salah,” jawabnya lagi.

“Anda telah bersamaku selama empat hari, bagaimana pekerjaan Anda?” tanya Nabi Idris kembali.

“Aku tetap saja bekerja, mencabut nyawa seluruh makhluk itu di hadapanku bagaikan hidangan, aku akan mengambilnya sebagaimana manusia ketika makan,” jawab Izrail.

“Anda datang ke sini hanya untuk berziarah atau ingin mengambil nyawaku?” tanya Nabi Idris lagi.

“Hanya untuk berziarah,” jawabnya.

“Kalau begitu, kali ini aku sangat membutuhkan bantuan Anda,” tukas Nabi Idris lebih lanjut.

“Apa yang Tuan perlukan?” tanya sang malaikat.

“Aku berkeinginan sekali Anda segera mencabut nyawaku, namun dengan secepatnya Anda harus mengembalikan nyawa itu lagi agar aku bisa beribadah lebih rajin setelah mengalami dan merasakan pahit getirnya kematian,” begitu alasan Nabi Idris.

“Aku tidak bisa begitu saja mencabut nyawa seseorang tanpa seizin dari Allah,” jawab Izrail.

Segera saja, Allah memberi izin malaikat maut untuk mencabut nyawa Nabi Idris, beliau pun wafat tanpa diketahui seorang pun.

Malaikat itu akhirnya sendirian menunggui jenazah Nabi Idris dan merasakan kehilangan kawan yang begitu menyenangkan. Semakin lama, dia merasa kasihan kepada Nabi Idris, dia pun berupaya memohon kepada Allah agar beliau dihidupkan lagi. Permohonan ini ternyata diperkenankan Allah.

Dengan mengembalikan ruhnya, maka hiduplah Nabi Idris dengan segar bugar. Sementara, malaikat itu tersenyum simpul di sampingnya seraya bertanya, “Bagaimana Anda merasakan maut?”

“Jika saja seekor hewan itu dikuliti hidup-hidup, maut masih lebih pahit seribu kali dibandingkan hal itu,” jawab Nabi Idris.

“Padahal, dalam mencabut nyawa Tuan itu, aku telah berusaha semaksimal mungkin untuk berhati-hati, belum pernah aku bersikap seperti ini pada seorang pun selama ini,” tukas sang malaikat.

“Aku sekarang membutuhkan bantuanmu lagi,” sela Nabi Idris.

“Apa itu?” sahut sang malaikat.

“Aku ingin sekali melihat Neraka Jahannam dan berbagai siksa yang ada di dalamnya agar ibadahku lebih mantap lagi setelah mengetahui betapa beratnya siksaan itu,” pinta Nabi Idris.

“Aku tidak bisa ke sana tanpa izin,” jawab Izrail.

Maka, segera saja Allah mengutus malaikat itu untuk membawanya ke Neraka Jahannam. Setelah sampai di sana, Nabi Idris segera menyaksikan berbagai siksa dan apa pun yang dipersiapkan untuk menyengsarakan orang-orang durhaka, baik itu berupa rantai bara, belenggu, kala, ular, duri, ataupun air yang mendidih. Setelah puas melihatnya, Nabi Idris pun mengajak pulang ke dunia lagi. Namun, belum berselang lama, beliau sudah mengajukan kehendak lagi.

“Aku ingin sekali Anda membawaku ke surga sekarang juga, dengan harapan aku bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri berbagai nikmat dan karunia yang telah dipersiapkan Allah untuk para hamba-Nya, maksudku agar setelah kembali dari sana, aku lebih memperbanyak ibadah lagi dengan adanya rangsangan tersebut,” begitu pinta Nabi Idris.

“Bagaimana hal itu bisa terlaksana tanpa seizin Allah?” sergah sang malaikat.

Dengan serta-merta, Allah pun memberi izin keduanya untuk ke surga. Maka, dalam sekejap saja, Nabi Idris telah sampai di pintu surga dan mengintip segala nikmat dan berbagai aktivitas serta fasilitas para penghuninya. Kerajaannya begitu mewah, para bidadari asyik bercengkerama dengan sesamanya, buah-buahnya begitu rimbun serta pepohonannya rindang nan sedap dipandang mata.

“Gegabah bagaimana? Sekarang sudah saatnya kita pulang,” desak sang malaikat.

Pada jawaban terakhir ini, Nabi Idris pun mengutarakan retorika yang amat logis, sehingga membuat malaikat mau terbengong-bengong karenanya. Beliau berkata, “Aku sudah pernah mati, sudah datang dan melihat sendiri Neraka Jahannam, tinggal satu, yaitu memasuki surga. Sekarang, aku telah memasukinya. Padahal, siapa pun yang telah memasuki surga—tidak pandang bulu—dia akan kekal di dalamnya selama-lamanya. Apalagi, terompahku masih tertinggal di dalam. Tunggu sebentar, aku akan mengambilnya,” begitu argumentasi Nabi Idris.

Maka, segera saja Nabi Idris masuk lagi, meninggalkan sang malaikat itu sendirian, sehingga malaikat maut pun kembali berteriak memanggilnya sampai beberapa lama. Namun, Nabi Idris tetap saja tidak mau keluar. Akhirnya, datanglah keputusan Allah:

“Wahai malaikat-Ku, biarkan saja dia di dalam surga, karena sejak zaman azali memang telah ada keputusan bahwa Idris akan memasuki surga dengan jalan yang tidak lazim.”

Malaikat itu pun terbengong-bengong dan hanya takjub menyaksikan sendiri keganjilan selama hidupnya itu.

———————————————————————————————————————————

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al-Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS Maryam [19]: 56-57)

———————————————————————————————————————————

4 thoughts on “Nabi Idris as dan Malaikat Izrail

  1. kisah tersebut merupakan kisah palsu, karena hadits yang dijadikan dasar merupakan hadits palsu.

    “Sesungguhnya Nabi Idris -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dulu berteman dengan Malaikat Maut. Lalu ia pun meminta kepadanya agar diperlihatkan surga dan neraka. Maka idris pun naik (ke langit), lalu Malaikat Maut memperlihatkan neraka kepadanya. Lalu Idris kaget sehingga hampir pinsang. Maka Malaikat Maut mengelilingkan sayapnya pada Idris seraya berkata, “Bukankah engkau telah melihatnya?” Idris berkata, “Ya, sama sekali aku belum pernah melihatnya seperti hari ini”. Kemudian, Malaikat Maut membawanya sampai ia memperlihatkan surga kepada Nabi Idris seraya masuk ke dalamnya. Malaikat Maut berkata, “Pergilah, sesungguhnya engkau telah melihatnya”. “Kemana?”, tanya Idris. “Ke tempatmu semula”, jawab Malaikat Maut. “Tidak ! Demi Allah, aku tak akan keluar setelah aku memasukinya”, tukas Idris. Lalu dikatakanlah kepada Malaikat Maut, “Bukankah engkau yang telah memasukkannya? Sesungguhnya seorang yang telah memasukinya tidak boleh keluar darinya”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Ausath (2/177/1/7406)]

    Hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu), karena dalam sanadnya terdapat rawi yang tertuduh dusta, yaitu Ibrahim bin Abdullah bin Khalid Al-Mishshishiy. Sebab itu, hadits ini dicantumkan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam kumpulan hadits-hadits palsu di dalam kitabnyaAdh-Dho’ifah (339).

  2. Betul sekali, bahwa kisah di atas adalah suatu kebohongan yang nyata. Seorang Nabi yg mulia akhlaqnya, tidak akan mungkin “mengerjai” malaikat utusan Alloh. Naudzubillah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s