Lihat Ucapannya, Jangan Lihat Orangnya

(Sumber: Mohamad Zaka Al Farisi, “Like Father Like Son, Untaian Kisah-kisah Penuh Hikmah”, Bandung: MQ Gress, Cet. II, Maret 2008, hal. 223-225)

Di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, umat Islam mengalami kemajuan pesat. Pada masa itu, kemakmuran bukan lagi hal yang langka. Rakyat benar-benar merasakan kesejahteraan. Di samping itu, daerah kekuasaan umat Islam juga semakin bertambah luas.

Pada suatu hari, khalifah dari kalangan Bani Umayyah ini menyampaikan sebuah instruksi. Isinya, setiap pemimpin yang ada di daerah wajib menghadiri pertemuan tingkat nasional. Mereka harus melaporkan situasi dan kondisi yang terjadi di daerah masing-masing.

Pada hari yang telah ditentukan, semua pemimpin berdatangan. Mereka berkumpul di balai pertemuan. Tak lama, Khalifah Umar bin Abdul Aziz masuk dan mempersilakan hadirin untuk menyampaikan laporan mengenai perkembangan daerahnya.

Beberapa saat kemudian, suasana hening. Masing-masing enggan menjadi orang pertama yang berbicara di depan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Keadaan ini berlangsung cukup lama, sampai kemudian suasana agak sedikit gaduh. Terdengar hadirin berbisik-bisik. Pasalnya, yang mengangkat tangan adalah seorang remaja wakil dari daerah Hijaz.

Khalifah mencoba menenangkan suasana. Setelah tenang, beliau berkata, “Tuan Kecil, sebaiknya Anda menahan diri. Berilah kesempatan kepada para pemimpin yang lebih tua untuk menyampaikan laporannya terlebih dahulu.”

“Amirul Mu’minin, dari tadi tidak ada seorang pun wakil daerah yang mau berbicara. Sepertinya mereka enggan menjadi pembicara pertama. Daripada waktu terbuang, saya mencoba tampil menjadi pembicara pertama. Lagi pula seharusnya manusia tidak dipandang dari usia, tetapi dari hati dan ucapannya.”

“Maksud Anda?” tanya khalifah penasaran.

“Allah mengaruniakan kelebihan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Ada orang yang memiliki wawasan luas, pikiran yang jernih, dan hati yang arif walaupun dari sisi usia terbilang masih muda. Orang semacam inilah sebenarnya yang lebih berhak memberikan masukan. Lihat ucapannya, jangan lihat orangnya.”

Hadirin terperangah, keadaan kembali gaduh. Mereka kagum mendengar kata-kata anak muda itu. Khalifah sendiri kagum mendengar jawabannya.

“Benar apa yang Anda katakan. Seorang pemimpin memang harus ahli, adil, dan arif. Kepemimpinan seharusnya tidak diserahkan kepada orang yang tidak bisa apa-apa. Bisa hancur negara ini.”

“Amirul Mu’minin, kami ini wakil daerah yang mengemban amanah kepemimpinan. Kami memimpin negeri bukan karena ambisi. Teruslah Tuan memimpin dengan adil dan bijaksana. Kami yang ada di daerah akan meneladani.”

Keheranan khalifah semakin bertambah. Kata-kata anak ini sangat fasih dan penuh makna. “Kalau boleh tahu, berapa usia Anda sekarang?”

“Lima belas tahun.”

——————————————————————————————————————————————————

“Anak-anak muda adalah makhluk dengan rasa lapar yang selalu mengendap di ujung kerongkongannya.” (Sophocles)

——————————————————————————————————————————————————

One thought on “Lihat Ucapannya, Jangan Lihat Orangnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s