Nabi Sulaiman as dan Burung Hudhud

(Sumber: Imam Ahmad Ibnu Nizar, “Nabi Sulaiman dan Burung Hudhud”, Yogyakarta: DIVA Press, Cet. I, Mei 2009, hal. 19-25)

Ketika Nabi Sulaiman menyadari bahwa karunia Allah yang diberikan kepada beliau sangat besar, kini beliau tampak ingin mencoba seberapa besar kekuatan kerajaannya dalam memberi makan makhluk di seluruh persada ini. Di samping itu, beliau ingin bershadaqah kepada mereka.

Pada kesempatan yang dirasakan amat memungkinkan, beliau bermunajat kepada Allah, “Ya Allah, hendaklah Engkau memberi kesempatan kepada hamba-Mu yang lemah ini untuk memberi makan para makhluk-Mu barang sebulan saja!”

Hal ini langsung dijawab Allah, “Wahai Sulaiman, engkau tidak akan mampu menanggung rezeki mereka dalam jangka itu.” Begitu jawaban yang diterima beliau.

“Kalau begitu, hendaklah Engkau izinkan memberi rezeki mereka barang seminggu saja,” begitu pinta beliau masih belum puas.

“Engkau juga tidak akan mampu, wahai Sulaiman,” sahut Allah lebih lanjut.

Tetapi, Nabi Sulaiman tetap mendesak, “Kalau begitu, izinkan untuk memberi makan mereka dalam satu hari saja!”

“Engkau tetap tidak akan mampu, Sulaiman,” jawab Allah swt.

Mendapat jawaban ini, Nabi Sulaiman hanya garuk-garuk kepala, kemudian memaksakan diri bermunajat pada kali yang terakhir, “Ya Allah, berilah izin hamba-Mu untuk memberi makan mereka, kendati barang sehari.”

Menyadari atas kenekatan Nabi Sulaiman, Allah pun memberi izin kepada beliau untuk mencobanya agar ia tahu seberapa kekuatan kerajaannya itu.

Mendapat izin ini, hati Nabi Sulaiman amatlah lega. Segera saja beliau mengumpulkan para prajurit yang terdiri dari bangsa jin dan manusia agar mereka segera mendatangkan berbagai bahan makanan, baik yang akan dikonsumsi bangsa jin, manusia, ataupun binatang. Didatangkan pula berbagai lauk dari seluruh penjuru dunia, baik berupa sapi, kerbau, ataupun domba-domba yang siap untuk disembelih.

Setelah bahan makanan beserta lauk-pauknya dirasakan siap, mereka segera diperintahkan untuk memasang periuk-periuk besar yang mampu untuk menanak nasi dalam jumlah besar. Periuk itu tidak cukup diletakkan di atas tanah, namun harus diletakkan sedemikian rupa, sehingga untuk menuangkan bahan makanan saja diperlukan tangga yang cukup tinggi. Lauk-pauk pun segera dimasak dengan rempah yang mengundang selera.

Setelah dirasakan siap, seluruh makanan itu dihamparkan di atas alas di tanah lapang yang luasnya sepanjang mata memandang, sehingga diperkirakan jaraknya adalah sama dengan jarak dua bulan perjalanan. Beliau memilih tempat yang amat strategis, sehingga akan mudah dijangkau oleh seluruh makhluk, baik yang berada di lautan ataupun di daratan. Dalam hal ini, diperintahkannya pula angin shiba agar bertiup sedang untuk menjaga agar makanan itu tidak basi.

Setelah semuanya dirasakan siap, Allah pun bertanya kepada Nabi Sulaiman, “Wahai Sulaiman, siapa yang lebih dahulu engkau kehendaki untuk menyantap hidanganmu, apakah dari bangsa jin, manusia, atau binatang?”

“Ya Allah, aku menginginkan, hendaklah, binatang samudera yang lebih dahulu menyantap hidanganku ini,” jawab Nabi Sulaiman dengan sopannya.

Ketika itu, Allah segera memberitahu kepada seluruh binatang laut bahwa rezeki mereka pada hari itu bukan lagi Allah yang memberi, namun ditanggung oleh hamba-Nya yang bernama Sulaiman.

Pagi-pagi sekali, seekor ikan samudera yang sangat besar bergerak menuju kerajaan Nabi Sulaiman untuk mendapatkan rezekinya. Ia diperintahkan Allah untuk menyantap hidangan itu terlebih dahulu sebelum ikan-ikan yang lebih kecil. Setelah ikan besar itu bertemu Nabi Sulaiman, ia berkata, “Wahai Nabi Sulaiman, aku mendengar bahwa rezekiku hari ini tidak ditanggung Allah lagi, namun engkau yang menanggung. Adakah berita itu benar?”

Menyadari datangnya binatang sebesar itu, hati Nabi Sulaiman mulai ragu, adakah rezeki yang dipersiapkan itu bisa mencukupi? Bagaimana jika jumlah binatang seperti itu mencapai puluhan, bahkan ratusan? Dengan tubuh yang mulai lesu, Nabi Sulaiman mempersilakan binatang itu untuk mulai menyantap hidangannya. Segera saja, binatang itu bergerak mendekati hidangan yang diperkirakan beliau cukup untuk seluruh makhluk. Namun apa yang terjadi? Binatang itu segera saja melahap hidangan tersebut mulai dari permulaan sampai habis seluruhnya dalam sekejap mata. Bahkan, setelah itu, ia masih berteriak-teriak, “Wahai Nabi Sulaiman, aku belum kenyang, makanan itu hanya menempati sebagian ruangan di perutku. Untuk itu, hendaklah engkau menambah lagi!”

Mendapatkan permintaan seperti ini, Nabi Sulaiman marah besar sembari mengatakan, “Wahai binatang yang tidak mengerti aturan, betapa banyak makanan yang kamu habiskan, betapa rakus dan tamaknya dirimu, sehingga makhluk lain tak mendapatkan bagian.”

Mendapat jawaban seperti ini, sang binatang segera menyergah, “Betapa tidak pantas ucapan sang tuan rumah. Hendaklah engkau ketahui, wahai Nabi Sulaiman, bahwa porsi makananku setiap hari adalah tiga kali lipat dari apa yang engkau sediakan, sehingga engkaulah penyebab utama hari ini aku kelaparan. Engkau ceroboh, wahai Nabi Sulaiman.”

Mendapat jawaban seperti itu, Nabi Sulaiman pun langsung bersujud kepada Allah atas ketidakmampuan beliau memberi rezeki para Makhluk-Nya. Setelah itu, beliau segera bermunajat kepada Allah:

“Ya Allah, mulai detik ini, tanggung jawabku memberi makan para makhluk-Mu aku kembalikan kepada-Mu, maafkanlah kecerobohanku, dan segera teimalah permohonanku ini sebelum para makhluk-Mu ramai-ramai menuntut rezeki mereka kepadaku, Engkau Maha Suci, ya Allah.”

Tepat ketika Nabi Sulaiman bermunajat seperti itu, burung Hudhud sedang berada di dekatnya. Ia tidak kasihan melihat nabinya merintih dan berdoa mengembalikan mandat memberi rezeki kepada Sang Pencipta, bahkan ia tampak riang gembira, sebagai tanda mendapatkan akal untuk bercengkerama dengan Nabi Sulaiman agar dukanya segera terobati. Tiba-tiba saja Hudhud berkata, “Wahai Nabiyullah, aku sangat ingin membahagiakan hati Baginda hari ini!”

Mendapat tawaran ini, Nabi Sulaiman segera berkata, “Apa yang akan engkau lakukan, wahai Hudhud, untuk mengobati hatiku yang sedang duka ini?”

“Aku ingin menjamu Baginda barang sehari saja,” jawab Hudhud lagi.

“Adakah hidanganmu itu engkau khususkan untuk diriku, atau beserta para prajuritku?” sambung Nabi Sulaiman lebih lanjut.

Dengan bangganya Hudhud mengatakan, “Bahkan Baginda beserta seluruh prajurit dan rakyat Baginda, baik yang terdiri dari bangsa jin, manusia, ataupun binatang lain selain diriku.”

Maka, antara Nabi Sulaiman dan Hudhud pun segera membuat kesepakatan dan menentukan hari untuk menyantap jamuan yang disediakan Hudhud itu.

Setelah dirasakan siap, prajurit Nabi Sulaiman beserta rakyatnya pun bergerak menuju arah yang ditunjukkan Hudhud yang tampaknya menuju ke tepi lautan. Setelah rombongan ini berada di dekat laut, segera saja Hudhud menyambar seekor belalang dengan paruhnya, kemudian ia mencekiknya hingga mata belalang tersebut melotot dan kemudian mati. Lalu dilemparkannya belalang tersebut ke laut. Setelah itu Hudhud berkata, “Wahai Nabi Allah, hendaklah Baginda segera menyantap hidangan yang telah aku sediakan berupa daging. Dan, barangsiapa tidak kebagian, ia bisa menyantap kuahnya.”

Mendapat akal-akalan Hudhud ini, Nabi Sulaiman hanya tertawa lebar, menyadari bahwa ulah beliau bermunajat kepada Allah untuk memberi rezeki para makhluk-Nya kini ditirukan oleh Hudhud dengan kelicikannya.

——————————————————————————————————————————————————

“Makin bertambah ilmuku maka aku mengenal (mengetahui) kebodohanku.” (Pepatah)

——————————————————————————————————————————————————

One thought on “Nabi Sulaiman as dan Burung Hudhud

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s