Bukan Pemilik Penuduhan

(Sumber: Syaikh Muzaffer Ozak al-Jerrahi, “Allah, Nabi Adam, dan Siti Hawa” (diterjemahkan oleh Luqman Hakim), Bandung: Pustaka Hidayah, Cetakan I, Juli 2009, hal. 134-135)

Menurut hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, terdapat suatu peristiwa pada zaman Musa as. Seorang wanita digiring keluar dari kota kecil. Ketika ia mengembara di padang pasir, ia melihat seekor anjing kehausan mondar-mandir di sebuah sumur sedang menjilat-jilati tanah. Wanita ini mencelupkan tudung penutup kepalanya ke dalam sumur agar basah, lalu memerasnya dan membiarkan anjing ini minum dari perasannya.

Beberapa saat setelah ia meninggal dunia, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa as, “Pada suatu tempat dan keadaan, salah seorang sahabat Kami telah meninggal dunia. Ambillah jasadnya dan dirikan shalat jenazah untuknya.”

Musa as bertanya kepada penduduk sekitar, tetapi tampaknya tak seorang pun yang mengetahui kematian seorang sahabat Allah. “Satu-satunya kematian yang tentangnya kami mengetahui,” mereka berkata, “adalah kematian seorang yang kami usir dari kota. Dunia telah dijauhkan dari kejahatan. Kami melontarkannya ke dalam sebuah lubang.”

Lalu Allah menaburkan wahyu, “Ya Musa, makhluk tersebut adalah sahabat-Ku.” “Ampun Allah,” kata Musa, “hamba-hamba-Mu mengatakan bahwa ia seorang wanita jahat.” Tetapi Allah berfirman, “Aku adalah Tuhan Pemilik Kebenaran, bukan Tuhan Pemilik Penuduhan dan Kesalahan. Wanita yang kalian usir dari kota tempat ia tinggal memiliki sifat welas asih kepada salah satu makhluk-Ku dan memberikan air kepada seekor anjing yang kehausan. Aku memasukkannya di antara sahabat-sahabat-Ku.”

——————————————————————————————————————————————————

“Orang bodoh enggan memberi maaf dan melupakan kesalahan. Orang naif selalu siap memaafkan dan melupakan kesalahan. Sedangkan orang bijak mau memaafkan tapi tidak melupakan kesalahan.” (Thomas Szasz)

——————————————————————————————————————————————————

3 thoughts on “Bukan Pemilik Penuduhan

  1. Benar… agama kita bukan agama penuduhan
    Namun kita lihat kini banyak orang sok suci dengan menolak jasad tersangka (baru tersangka lho… bukan terdakwa) teroris dimakamkan di desanya.

    Kita kini banyak melakukan penuduhan
    …tersangka kita angkat menjadi terdakwa…
    kita sudah menunjuk pelaku sebelum pengadilan diadakan…
    kita sudah mengadili sebelum mengumpulkan bukti-bukti…
    kita sudah membuktikan sebelum mengadakan penyelidikan…

    Dan yang lebih parah kita sudah memberitakan sebelum ada pelaku, tanpa pengadilan, bukti, penyelidikan, penyidikan, verifikasi,… pernahkah semua itu dipertanyakan? Lembaga pemberantas superior itu (Sentimen Khusus Pro Telor tea) pernahkah diaudit, diselidiki, dikaji dasar hukum, anggaran, dan wewenangnya?

    Hebat nian kita…
    Oops bukan kita, bukan JOOKUT, tapi mereka–para spesialis penyebar berita bohong dan yang masih diragukan–(Anda jangan sampai terlibat, karena ini masalah dunia akhirat), yang memberitakan tanpa menunggu proses pengadilan.

    JOOKUT mah alim dicalikan tukang fitnah, diragragan tukang cenah.
    Duh lamun JOOKUT tiasa ngomong, JOOKUT kedah ngomong ka saha?
    da JOOKUT mah teu tiasa leupas tina taneuh.

    Jadi mulai ayeuna JOOKUT ngaleupaskeun diri tina panuduhan…
    Dina raraga eta, JOOKUT mulai ngusahakeun panyalidikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s