Lebih Kejam dari ‘Teroris’

Pelaku
Sejak awal kasus-kasus ledakan bom di Indonesia bermunculan, yang menjadi masalah kita adalah siapa pelakunya. Sejak itu pula kita terus berspekulasi, “bergosip, memfitnah, menuduh”. Dan dari sekian banyak “faksi” di Indonesia (lokal) dan asing, aparat hanya memiliki satu kelompok tertuduh. Dimulai dari Bom Bali I, Bom Kuningan, Bom Marriott I, Bom Bali II, Bom Mega-Kuningan, selalu ‘pelakunya’ adalah Jamaah Islamiyah. Bahkan sebelum diadakannya penyelidikan, penyidikan, persidangan, “aparat Pancasila” langsung mengatakan pelakunya Jamaah Islamiyah, Noordin M. Top, kaki-tangan Usamah bin Ladin. Itu adalah tuduhan.

Meski 3 ‘pelaku’ Bom Bali I berhasil ditangkap dan diadili dan ‘dibuktikan’, secara hukum pun itu masih belum cukup. Sangat belum cukup. Karena dalam pengadilan dan persidangan itu tidak dilakukan satu proses yang dinamakan REKONSTRUKSI. CATAT DALAM AKAL DAN INGATAN KITA SEMUA. Semua orang hukum tahu semua penyelesaian kasus memerlukan rekonstruksi untuk memperkuat bukti persidangan. Bagi yang berpendapat Imam Samudra cs dapat membuat bom sedahsyat bom Bali, tentu harus mempunyai bukti. Dan jika salah satu proses pembuktian perkara, yaitu rekonstruksi, tidak dilaksanakan, maka produk/keputusan hukum yang dikeluarkan adalah CACAT secara hukum. Saya memang bukan orang hukum tapi saya bukan orang tolol.

Menanggapi ini mungkin aparat akan berdalih, “Mereka bertiga (Imam Samudera cs) sendiri yang mengaku bertanggung jawab. Bukti itu sudah cukup.” Menggelikan sekali. CATAT, pembuktian perkara dan keputusan hukum BUKAN berdasarkan pengakuan. Yang menentukan pelaku itu benar atau salah adalah pembuktian kesalahan melalui pengumpulan bukti-bukti dan REKONSTRUKSI. Untuk mencari tahu siapa pelakunya adalah melalui pengumpulan bukti-bukti dan REKONSTRUKSI. Karena, pengakuan bisa berisi kebohongan, klaim, tuduhan, dan lebih dari itu pengakuan tidak mampu membuktikan suatu kejahatan yang BERPOTENSI melibatkan banyak PELAKU.

Jadi jika salah satu unsur dalam proses pembuktian itu tidak dilakukan, maka 3 ‘pelaku’ tertuduh itu tidak terbukti bersalah. Inilah masalah dasar kita. Pembuktian Bom Bali I secara adil dan jujur adalah masalah dasar kita, karena Bom Bali merupakan gerbang awal masalah terorisme kita. Jika Bom Bali I tidak selesai secara jelas maka peristiwa bom lain juga tidak akan pernah jelas. Jika pelaku Bom Bali I tidak jelas maka pelaku ledakan bom lainnya juga tidak akan jelas. Samar dan penuh fitnah.

Apa pula dengan jaringan Poso dan Ambon. Aparat mengait-ngaitkan teroris dengan jaringan Poso dan Ambon. Lupakah kita siapa yang memulai kasus Poso dan Ambon. Betapa kejinya konspirasi ini. Siapa yang memulai pembantaian kepada orang tak bersalah dengan dukungan yang hebat dari pihak asing. Mengaitkan ledakan bom dengan jaringan Poso dan Ambon adalah upaya menodai jihad Ambon dan Poso.

BRAINWASHING
Bukan main kemarahan ini kepada MatreTV dan tvOeang. Mereka mulai memperlihatkan jati dirinya sebagai corong musuh Islam. Mereka mengenakan, tepatnya menuduhkan, istilah brainwashing kepada para “teroris”. Padahal mereka sendirilah yang sedang mem’brainwashing’ rakyat ‘Pancasila’ dengan cara halus, propaganda dan pengarus-utamaan berita. Padahal aparat sendiri yang menggunakan metode-metode ‘brainwashing’ dengan cara kasar, penyiksaan. Brainwashing tidak hanya bisa dilakukan dengan cara-cara halus, misalnya hipnotis dan penanaman nilai/informasi, tapi juga dengan cara-cara kasar. Download dan baca “Brainwashing, Pelajaran Psikopolitik di Rusia” dari blog saya yang lain Unseenhands.wordpress.com/catalog/. Dan Anda akan tahu bahwa televisi dan aparat itu kebanyakan berbohong dan “berfitnah-ria”.

Ambil beberapa contoh metode ‘Brainwashing’ cara kasar:
– “Pada masa kepemimpinan Nur Misuari, kekuatan militer MNLF tidak terkelola dengan baik. Bahkan untuk seragam pun, mereka tidak memiliki dana yang cukup. Maka ketika terjadi meeting dalam central comitee, semua sepakat untuk mengganti Nur Misuari. Tapi nampaknya, yang dilengserkan tak terima dan melakukan perlawanan. Bahkan melakukan rekrutmen sendiri, meski di antara orang-orang yang direkrut oleh Nur Misuari adalah non-Muslim dari kelompok Ilaga. Banyak pihak yang mempertanyakan Nur Misuari ini, tak hanya dari MNLF, dari kelompok lain seperti MILF pun juga tak habis mengerti. “Ada yang bilang, Nur Misuari disuntik sesuatu ketika di dalam penjara dan jadinya seperti ini,” ujar Aisha Fatima, koordinator informasi MNLF.” (Sumber: Herry Nurdi, “Para Pejuang Islam di Mindanao”, Sabili No. 22 TH. XVI 21 Mei 2009 / 26 Jumadil Awal 1430, hal. 108-110)

– “Mengutip sebuah sumber pemerintah di Jakarta, almarhum Amrozi disetrum 220 Volt, dicekoki secangkir Scopolamin, dan 30 menit kemudian Amrozy berani bersumpah bahwa dia adalah “George Bush”. Penyidik Australia dan Amerika langsung terlibat dalam penyiksaan ini sekaligus dengan dungunya mengatakan pada pemirsa televisi bahwa mereka “tidak perlu memeriksa kejiwaan tersangka”.” (Sumber: Konspirasi Micro Nuclear)

– “Fakta di lapangan, memang pada wajah ketiga syuhada’ itu tidak ada luka, namun sewaktu jenazah dimasukkan ke liang lahat, tukang kubur di tempat Imam Samudra mengatakan saat membuka kafan bahwa di leher juga ada luka seperti luka tembak dan hanya itu yang bisa terlihat karena kafan tidak bisa terbuka semua untuk dilihat tubuhnya. Apa ada luka lain lagi??? Lalu para pengangkat jenazah di Lamongan, khususnya jenazah Amrozy ada yang memegang daerah pinggul ke bawah dan merasakan semacam lubang atau sebuah bagian tubuh yang rusak tidak seperti tubuh utuh, padahal kalau luka tembak ada di dada depan sebelah kiri. Namun jenazah juga tidak bisa dibuka semua karena tahu sendiri, suasana begitu crowded.” (Sumber: Konspirasi Pembunuhan Amrozy, Imam Samudra, Ustad Muklas)

Setelah mendapat beberapa informasi di atas, saya berpikir bahwa besar kemungkinan pengakuan yang dilontarkan “trio mujahid”–bahwa diri mereka adalah pelaku ledakan Bom Bali I–merupakan sesuatu yang dipaksakan, ditanamkan, dan dihipnotiskan oleh aparat sendiri. MatreTV dan tvOeang terus memprovokasi bahwa para teroris melakukan brainwashing. Padahal yang melakukan brainwashing adalah agen-agen busuk penyusup terhadap orang-orang yang direkrut.

Bukan tidak mungkin, aparat dan intelijen memunculkan Noordin M. Top palsu dan asli yang telah di’brainwashing. Bukan tidak mungkin, aparat dan intelijen yang merekrut dan mem’brainwashing ‘eksekutor lapangan’. Bukan tidak mungkin mereka yang ‘memandu’ para ‘peracik’. Bukan tidak mungkin mereka yang mem-backup logistik.

Membela ‘Teroris’
Mengapa membela ‘teroris’?
– Karena, mereka dituduh melakukan sesuatu yang tidak mereka lakukan dan yang tidak/belum terbukti kebenarannya, karena mereka dihukum atas kesalahan yang tidak mereka perbuat, dan jika pun telah dibuktikan, pembuktiannya tidak sah secara hukum. Jika benar mereka tidak melakukannya.
– Karena, mereka adalah korban ‘operasi’ aparat yang tidak disadari, dan kemudian, melalui cara kasar (penyiksaan) atau cara halus (infiltrasi), digiring untuk melakukan pengeboman atas nama nilai-nilai palsu yang ditanamkan. Jika memang benar mereka melakukan pengeboman namun bukan atas kesadaran/kemauan sendiri, karena telah di’brainwash oleh APARAT.

KARENA saya tidak ingin menjadi lebih kejam dari pembunuh. Tidak ingin menjadi lebih kejam dari ‘teroris’.

Perhatikanlah bagaimana Islam berhukum:

“…Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh…” (QS Al-Baqarah [2]: 217)

“…dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan,…” (QS Al-Baqarah [2]: 191)

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia di sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar. Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS An-Nuur [24]: 11-19)

Ibnu Asakir menuturkan, suatu hari Hindun binti al-Muhallab menghadap Umar bin Abdul Aziz. Waktu itu, Umar telah memenjarakan Yazid bin al-Muhallab, saudara laki-laki Hindun. Hindun berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, atas dasar apa engkau menahan saudaraku?” Umar menjawab, “Saya khawatir ia membuat masalah di tengah-tengah kaum Muslimin.” Hindun bertanya, “Hukuman itu (diberikan) sesudah melakukan kesalahan atau sebelumnya?” Mendengar pertanyaan itu, Umar berpikir ulang.

2 thoughts on “Lebih Kejam dari ‘Teroris’

  1. berapi-api tapi cerdas…subhanallah
    argumentasinya berisi padat, tidak seperti argumen mereka yang selama ini “sok cool” yg dengan entengnya ASAL menuduh ummat Islam beserta ajarannya..padahal mereka cuma punya satu sumber data dari pihak yang nggak pantes sama sekali untuk dipercaya, POLISI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s