Pidato Korban Propaganda Komunis

Oleh: Irfan S. Awwas
11 Januari 2017
(Sumber: wwww.arrahmah.com)

Bakar bendera palu arit

Kita tidak tahu pasti latar belakang persepsi negatif Ketua umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang mempertentangkan antara Agama dan Pancasila, antara Islam dan ke Indonesiaan. Sebagaimana kita juga tidak tahu persis, apakah teks pidato yang dibaca dalam sambutannya pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-44 PDIP di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, Selasa (10/1/2017), hasil pikirannya sendiri ataukah konsep orang lain.

Siapapun konseptor pidatonya, statemen yang disampaikan Megawati terkait ideologi tertutup, jelas bersifat rasis dan pelecehan terhadap agama yang meyakini adanya kehidupan akhirat. Disengaja ataukah diperalat, Megawati telah menjadi korban propaganda komunis.

Berikut sebagian dari pernyataan yang mengundang reaksi sekaligus kecurigaan umat beragama di Indonesia, apakah Megawati seorang nasionalis ataukah komunis.

Pertama, tentang ideologi tertutup. “Apa yang terjadi di penghujung tahun 2016 dimaknai sebagai cambuk yang mengingatkan kita terhadap pentingnya Pancasila untuk mendeteksi segala likus tameng proteksi terhadap tendensi hidupnya ideologi tertutup yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Ideologi tertutup tersebut bersifat dogmatis. Ia tidak berasal dari cita-citanya yang hidup di dalam masyarakat. Ideologi tertutup tersebut hanya muncul dari suatu kelompok tertentu yang dipaksakan diterima oleh masyarakat.

Mereka memaksakan kehendak sendiri. Tidak ada dialog apalagi demokrasi. Apa yang mereka lakukan hanyalah kepatuhan yang lahir dari watak kekuasaan totaliter dan dijalankan dengan totaliter pula. Bagi mereka teror dan propaganda adalah jalan kunci tercapainya kekuasaan.

Selain itu demokrasi dan keberagaman, dalam ideologi tertutup tidak ditolerir. Karena kepatuhan total masyarakat jadi tujuan. Tidak hanya itu, mereka benar-benar anti kebhinekaan kita. Itulah yang muncul dengan berbagai persoalan SARA akhir-akhir ini.”

Terhadap pernyataan Megawati ini, kita ingin bertanya, jika yang dimaksudkan ideologi tertutup dan bersifat dogma adalah Islam. Lalu menjadikan Pancasila sebagai alat detektornya. Pancasila yang mana? Sebab di bawah rezim Jokowi, berkembang dua macam Pancasila, yaitu Pancasila 18 Agustus 1945, dan Pancasila inkonstitusional 1 Juni yang membonceng bangkitnya ideologi komunis.

Pancasila yang dicetuskan oleh Soekarno dalam sidang BPUPKI yang ingin merumuskan dasar negara Republik Indonesia, pada tanggal 1 Juni 1945, teridiri dari lima prinsip yang ditawarkannya dalam sidang tersebut yang terdiri dari : 1. Kebangsaan Indonesia. 2. Internasionalisme atau perikemanusiaan. 3. Mufakat atau demokrasi. 4. Kesejahteraan sosial. 5. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bandingkan dengan rumusan sila-sila Pancasila yang ditetapkan oleh PPKI dalam naskah Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Rumusan sila-sila Pancasila tersebut adalah: 1. Ketuhanan Yang Maha Esa. 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab. 3. Persatuan Indonesia. 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Akan tetapi, secara konstitusional, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), bersamaan dengan disahkannya UUD 1945 sebagai undang-undang dasar negara. Pancasila yang diakui sebagai UUD adalah Pancasila 18 Agustus 1945, bukan 1 Juni.

Sementara PDIP telah mendeklarasikan kembali pada pancasila 1 Juni, dan mendapat dukungan dari PBNU pimpinan Said Aqil Siraj.

Presiden Jokowi bahkan secara sepihak, tanpa persetujuan DPR/MPR, menetapkan 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Selain itu, setiap tanggal tersebut diliburkan. Penetapan itu tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres).

“Dengan mengucap syukur ke hadirat Allah. Dengan bismillah, dengan Keppres tanggal 1 Juni ditetapkan, diliburkan dan diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila,” kata Jokowi dalam peringatan Pidato Bung Karno di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat, Rabu (1/6/2016).

Di masa orde lama, Presiden Soekarno saja menerima rumusan Pancasila keputusan PPKI, dan tidak menuntut berlakunya Pancasila 1 Juni. Apakah Jokowi lebih Pancasilais daripada Bung Karno? Apakah RI di bawah rezim Jokowi-PDIP, didesain untuk melanggar konstitusi dan mengembalikan situasi Nasakom? Jika hal ini yang terjadi, seharusnya TNI dan Polri segera bertindak untuk melengserkan Jokowi dan membubarkan PDIP.

Kedua, “para pemimpin yang menganut ideologi tertutup pun memposisikan diri mereka sebagai pembawa “Self Fulfilling Prophecies (Para Peramal Masa Depan)” mereka dengan fasih meramalkan yang akan terjadi di masa datang termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana (akhirat). Padahal notabena mereka sendiri tentu belum pernah melihatnya,” ujar Megawati.

Adanya kehidupan setelah kehidupan yang fana, yaitu akhirat adalah ajaran Islam, yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Apakah Megawati menganggap Rasulullah Saw sebagai peramal kehidupan akhirat. Mereka yang tidak mempercayai berita Al-Qur’an tentang kehidupan akhirat, tidak percaya adanya surga dan nerara, maka dia telah kafir.

Firman Allah: “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak mempercayai bukti-bukti kekuasaan Tuhan mereka, dan tidak meyakini hari per­temuan mereka dengan Tuhan mereka. Oleh karena itu, sia-sialah semua amal mereka, dan pada hari kiamat kelak Kami tidak akan menyelamatkan mereka dari adzab. Neraka Jahanamlah balasan bagi orang-orang kafir karena kekafiran mereka. Mereka telah menjadikan Kitab-kitab suci-Ku dan para rasul-Ku sebagai sasaran ejekan.” (QS. Al-Kahfi [18]:105-106)

Sejarah Indonesia mencatat, pendiri Boedi Oetomo, Dr. Soetomo pernah menghina ibadah haji. Dalam tulisan-tulisannya di surat kabar, Soetomo mempertanyakan manfaat naik haji, dan menganggap orang-orang yang dibuang ke Digul karena membela bangsa, lebih mulia dari orang-orang yang naik haji ke Mekah. Menurutnya, naik haji hanya “menyembah berhala Arab”, lalu dia menganjurkan orang Islam untuk pergi ke Demak saja daripada ke Mekah.

Maka gegerlah umat Islam. Menyaksikan reaksi dahsyat umat Islam, Soetomo ketakutan lalu berkilah bahwa ia dan ayahnya juga seorang muslim dan sering menyumbang kepada Muhammadiyah dan Nahdlatul ‘Ulama. Pernyataan itu disindir oleh Tokoh Persis, M. Natsir, dalam Majalah Pembela Islam disebut sebagai ‘syahadat model baru’.

Ketiga, dalam sambutannya pada peringatan HUT PDIP ke-44 Megawati juga mengatakan, dengan mengutip ucapan Bung Karno, ‘Kalau kamu mau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau kamu mau menjadi orang Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau kamu mau jadi orang Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini.”

Ucapan ini jelas rasis dan sikap anti agama. Megawati memang tidak mengerti agama Islam, tapi akan lebih baik baginya bila dia belajar dan memahami Islam daripada mengingkarinya. Islam sama sekali tidak identik dengan Arabisme.

Buktinya, sebelum Islam datang, miras, judi, mengundi nasib, riba, telah menjadi budaya Arab. Kemudian Islam mengharamkannya. Terdapat banyak kebiasaan dan adat istiadat Arab jahiliyah yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Maka jika menggunakan logika sesat Megawati, menanggalkan Islam jika ingin menjadi orang Indonesia. Sama saja dengan mengatakan: Jika ingin menganut komunisme jangan menjadi orang Indonesia. Karena Indonesia berdasarkan Ketuhanan YME, yang bertentangan dengan atheisme.

Maka aneh, ketika FPI kerjasama latihan bela negara dengan TNI banyak orang ribut. Tapi PDIP kerjasama dengan pemerintah komunis Cina, diam saja.

Jika ingin menjadi orang Indonesia, jangan menjadi orang Belanda. Tapi mengapa, setelah 72 tahun Indonesia merdeka, hukum yang berlaku masih mengadopsi hukum kolonial Belanda?

Kisah Mengharukan Antara Buya Hamka dan Presiden Soekarno

Oleh: Ahmad
17 Januari 2017
(Sumber: islamedia.id)

Buya Hamka dan Soekarno

“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”

Di sepetak ruang. Di sudut lorong-lorong gelap, berkelok, tak tahu di mana ujungnya. Ruangan itu tak kalah gelap. Hanya cahaya dari balik jendela kecil di atas sana yang lariknya menembus, membelai debu-debu beterbangan, menyapa lembaran kertas yang menumpuk. Lembaran yang begitu rapi. Lembaran yang ia tulis, selama dua tahun 4 bulan. Di balik jeruji, di pinggiran Sukabumi. Atas tuduhan makar, kezaliman rezim tiran tak berdasar.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah, karib disapa Buya Hamka. Kalam suci Ilahi, dengan tekun, ia ulang hafalannya. Mengeja ayat demi ayat. Merenungkan satu per satu maknanya, hingga khatam, seluruhnya tergenapi. Ada haru membiru. Ada tangis berlapis senyum bahagia, di sana. Allah terasa begitu dekat.

Seperti Ibnu Taimiyyah dulu kala. Berteman secarik kertas, berikut tinta dan pena. Tempat menorehkan tulisan hasil perenunangan. Berjilid-jilid karya keluar dari balik jeruji. Orang-orang berdatangan, meminta fatwa. Dari balik jeruji besi itu, dalam gelap ia menjawab. Jadilah berjilid-jilid Majmu Fatawa di sana. Tak ada rasa takut sama sekali. Bahwa penjara baginya, adalah surga.

Malam harinya diisi dengan berdiri, rukuk, sujud. Sungguh, tak ada yang terpenjara di sana. Jiwanya merdeka. Tak ada yang terkekang di sana. Tangannya lincah menulis pesan penuh makna. Alam pikirnya mengembara, merenungi KemahaanNya.

Atau seperti laiknya sahabat seperjuangan di belahan bumi lain, Mesir, Sayyid Quthb. Rezim tiran tak mampu membungkam alam pikirnya, meski jasad terpenjara. Bertemankan lembaran kertas, juga pena. Lahirlah karya monumental Tafsir Fii Dzilal Al Quran.

Buya Hamka, nyaris serupa. Tafsir Al Quran 30 Juz yang kelak dinamakan Tafsir Al Azhar ia rampungkan, ditemani dinginnya jeruji besi, di masa kepemimpinan Soekarno. Rezim berganti, orde lama berganti rezim yang dinamai orde baru. Tak disangka, Buya Hamka bisa menghirup udara bebas.

Hamka dan Soekarno

Setelah bebas dari penjara, Hamka tak tahu kabar Soekarno, penguasa yang memenjarakannya kala itu. Ingatannya melompat ke masa ke belakang. Saat ia tanpa tedeng aling-aling mengritik pemerintahan yang akan memaksakan penerapan sistem demokrasi terpimpin.

“..Trias Politica sudah kabur di Indonesia….Demokrasi terpimpin adalah totaliterisme…Front Nasional adalah partai Negara…” teriak Hamka menggema di Gedung Konstituante tahun 1959, ketika memajukan Islam sebagai dasar Negara Indonesia dalam sidang perumusan dasar Negara. Tak lama, Konstituante dibubarkan oleh Soekarno. Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), partai temapat bernaung Buya Hamka pun dibubarkan paksa. Para pimpinannya ditangkap, dijebloskan ke balik jeruji.

Perbedaan pandangan politik Hamka yang dikenal Islamis, dengan Soekarno yang seorang sekularis, kian menajam dengan penangkapan dan pemenjaraan rival-rival politiknya. Meski begitu, tak ada sumpah serapah yang keluar dari seorang Buya Hamka kepada sang pemimpin kala itu. Saat dijemput paksa untuk langsung dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan, Hamka hanya pasrah, bertawakkal kepada Allah Azza wa Jalla.

Pun setelah bebas, tak ada dendam di sana. Tak ada rasa ingin membalas, menuntut, atau melakukan tindakan membela diri. Padahal, ketika itu, buku-buku karangan Buya dilarang beredar oleh pemerintah. Tak ada rasa kesal di sana. Tak ada mengeluh, atau umpatan. Semua ia serahkan kepada Allah, sebaik-baik penolong.

Justru, demikian besar keinginan Hamka untuk bersua Soekarno. Mengucap syukur, karenanya, ia bisa menyelesaikan Tafsir Al Azhar dari balik penjara. Karenanya, ia bisa begitu dekat dengan Allah. Karenanya, jalan hidupnya begitu indah, walau penuh ragam ujian.

Soekarno, dimanakah sekarang ia berada? Tak tahu..Begitu rindu, Hamka ingin bertemu dengannya. Tak ada marah dari seorang Buya. Telah lama..telah lama sekali, kalaupun Soekarno mengucap maaf, telah lama hatinya membuka pintu maaf selebar-lebarnya. Bahkan, ada syukur di sana.

Tapi dimana? Di mana Soekarno sekarang? Ingin sekali Buya bertemu dengannya. Pertanyaannya terjawab, namun bukan jawaban biasa. 16 Juni 1970, Ajudan Soeharto, Mayjen Soeryo datang menemui Hamka di Kebayoran, membawa secarik kertas. Sebuah pesan — bisa dibilang pesan terakhir — dari Soekarno. Dipandangnya lamat-lamat kertas itu, lalu dibaca pelan-pelan.

“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”

Mata begitu bening, seperti halnya kaca membaca tulisan ini. Sebuah pesan, dari seorang mantan pucuk pimpinan negeri. Dimana? Dimana Soekarno sekarang? Begitu rindu ingin bertemu dengannya. Mayjen Soeryo berkata, “Ia..Bapak Soekarno telah wafat di RSPAD. Sekarang jenazahnya telah di bawa ke Wisma Yoso.”

Mata ini semkin berkaca-kaca. Tak sempat..rindu ini berbalas. Hamka hanya dapat bertemu dengan sosok yang jasadnya sudah terbujur kaku. Ingin rasanya, air mata itu mengalir, namun dirinya harus tegar. Ia kecup sang Proklamator, dengan doa, ia mohonkan ampun atas dosa-dosa sang mantan penguasa, dosa orang yang memasukkannya ke penjara.

Kini, di hadapannya, terbujur jasad Soekarno. Sungguh, kematian itu begitu dekat. Dengan takbir, ia mulai memimpin shalat jenazah. Untuk memenuhi keinginan terakhir Soekarno. Mungkin, ini isyarat permohonan maaf Soekarno pada Hamka. Isak tangis haru, terdengar di sekeliling.

Usai Shalat, selesai berdoa, ada yang bertanya pada sang Buya, “Apa Buya tidak dendam kepada Soekarno yang telah menahan Buya sekian lama di penjara?”

Dengan lembut, sang Buya menjawab, “Hanya Allah yang mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Yang jelas, sampai ajalnya, dia tetap seorang muslim. Kita wajib menyelenggarakan jenazahnya dengan baik. Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu anugerah dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al Quran 30 Juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”

Sungguh, air mata menetes mendengar penjelasan Buya. Begitu luas jiwanya, hingga permasalahan, baginya ialah setitik tinta, yang diteteskan ke luasnya samudera. Tak ada bekas di sana. Tak pernah ada rasa dendam sama sekali. Dengan senyum dan tenang, ia jalani semua lika-liku kehidupan.

Ditulis oleh: Rizki Lesus
Kisah ini ada dalam buku ‘Ayah’ karya Irfan Hamka. Tulisan ini Dimuat di Tabloid Alhikmah edisi 86 dan dimuat kembali dalam website jejakislam.net