Adakah yang Lebih Sombong daripada ALLAH

ALLAH Ta’ala berfirman (dalam hadits Qudsi):
“Kebesaran (kesombongan atau kecongkakan) adalah pakaian-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barangsiapa merampas salah satu (dari keduanya) Aku lempar dia ke neraka (jahanam).” (HR. Abu Dawud)

“…Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 31)

“…Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir [81]: 27-29)

“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah perkataan dari padaKu: ‘Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.'” (QS. As-Sajdah [32]: 13)

“…Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ibrahim [14]: 4)

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas [112])

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya…” (QS. Faathir [35]: 10)

“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (QS. Faathir [35]: 15-17)

One comment

  1. SkyFighter Brothers · August 19, 2012

    Perbandingan-perbandingan (dinding):

    FFI Idol: Mengapa menyembah kepada yang jelas-jelas menyesatkan dan memasukkan manusia ke neraka.
    Muslim: Justru karena berkuasa untuk menyesatkan, kami takut dan berharap.

    Jawaban di atas adalah ciri kepasrahan seorang Muslim. Ingin jawaban yang lebih logis dan sangat berkaitan dengan inti pertanyaan Anda?

    “…Katakanlah: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?’ Katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku.'” (QS. Az-Zumar [39]: 38)

    Jika ALLAH menyesatkanku, apakah yang kalian anggap tuhan selain ALLAH bisa memberi petunjuk?
    Jika ALLAH menunjukkanku, apakah yang kalian anggap tuhan selain ALLAH bisa menyesatkan?

    Masing-masing jawabannya (bukan keduanya) adalah tidak. Karena Allah menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya. Hingga kini kalian bersusah payah mengkafirkan (‘kafir’ adalah kata populer di website FFI, lihat bagaimana kalian telah dikalahkan dalam bahasa karena menggunakan kata ‘kafir’) orang ‘tersesat’.

    Mengapa kalian tak akan pernah memahami pasrah/berserah diri? Jawabannya kalian lengah karena telah keterlaluan menetapkan ‘tuhan harus begini, tidak boleh begitu’ dan ‘tuhan tidak mampu terjamah pikiran manusia yang terbatas’. Dan ketika ALLAH berkehendak sesuka-Nya (catat, SESUKA-NYA, yang tentu kalian tidak mengerti), kalian menentangnya (ucapan kalian sendiri).

    Lagipula pertanyaan kalian janggal (kurang tepat). Kalian berkata: “Mengapa menyembah yang menyesatkan”, yang kalian tujukan kepada yang “ALLAH menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya”, sebagai respon dari firman ALLAH: “ALLAH menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya”. Jelas, firman-Nya terbukti dalam respon kalian: “sesat” (cukup dengan satu kata ini ketika kalian mengatakannya). Karena secara tak langsung kalian mengakui bahwa ALLAH berkuasa atas diri kalian.

    “…Katakanlah: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?’ Katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku.'” (QS. Az-Zumar [39]: 38)

    Lagi, mengapa? Karena ada sesuatu di dalam hati kalian yang bahkan bukan hak seorang mukmin ikut campur.

    FFI Idol: Kami berkuasa atas diri kami sendiri. Dan kami memilih kafir.
    Muslim: Jika kalian berkuasa, mengapa kalian tidak mampu memilih iman.

    Keadaan ini jelas berjalan masing-masing. Dinding yang jelas dalam kalimat. Seandainya saya boleh menuliskan ulang kondisi kalimat, maka:
    FFI Idol: “Kami membawa diri kami hingga mampu kafir.” (Pernyataan Lokal)
    Muslim: “Mengapa kalian tidak mampu membawa menuju iman?” (Pertanyaan Global)

    “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu…” (QS. An-Nisaa [4]: 115)

    FFI Idol: (Sebenarnya atau sesungguhnya) kalian ditipu oleh setan.
    Muslim: Pertama-tama, istilah ‘kafir’ bukan kalian yang pertama kali menetapkannya. Kalian justru menggunakannya karena pengingkaran atas apa yang ada.
    Berdasarkan analisa pun, kami kira usia kalian belumlah mencapai umur nabi Adam jika dia masih hidup, atau bahkan belum mencapai 1400 tahun (seperti umur agama Islam). Lalu kalian mengambil kalimat “ditipu oleh setan” (yang kalian tidak mengetahui kata ini ketika kalian lahir). “Setan” yang jelas-jelas tidak dalam pengetahuan kalian.

    Sedangkan jika kalian (anak Adam) hari ini hidup di zaman Nabi (kami tak yakin dengan kalian karena tentu saja kalian telah menelaah Agnotisisme, Atheisme, Hindu, Buddha, Yahudi, Kristen, dsb) dan kalian mengatakan: “(Sebenarnya atau sesungguhnya) kalian ditipu oleh setan.” Dengan begitu kalian menetapkan diri sebagai orang beriman dan menjadi musuh setan, maka:

    “Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-‘Araaf [7]: 35)

    “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” (QS. Az-Zumar [39]: 10)

    FFI Idol: Kalian tersesat.
    Muslim: Apakah yang dikatakan para Nabi dan Rasul ketika mereka pertama kali memberi peringatan kepada kaumnya yang tersesat. “Mengapa kamu tidak bertaqwa?”, “Mengapa kamu tidak beriman?”, dan “Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?” (QS. An-Nahl [16]: 24)

    Dengan demikian, pertanyaan selanjutnya akan mengalir dengan jelas dan terarah.

    “Apa itu taqwa?”, “Apa itu iman?”, “Kepada siapa kami harus beriman dan bertaqwa?”, “Siapa Tuhan yang kau maksud?”, “Seperti apa Dia?”, “Apa yang dikatakan-Nya?”

    Kesalahan kalian inilah saat pertama kali membangun FFI, kalian mengatakan: “Kami murtad”, “Kami kafir” sebelum mengatakan: “Kami beriman”, “Kalian tersesat”. Karena “iman” kalian pasti dan harus berbasis pada sesuatu (tentu saja), daripada mengatakan “kami kafir” yang seandainya kalian manusia pertama, kalian kafir pada siapa. Berarti tidak mempunyai masa depan. Bagaimana jika kalian bertanya, “Bagaimana nilai kalimat ‘tidak ada tuhan selain ALLAH’, di ‘waktu’ pertama (ketika tidak ada apapun) dan hari ini?

    Seandainya tidak ada orang mukmin, keyakinan kalian tidak ‘bernilai’ sama sekali padahal sangat jelas kalian tidak menyembah sesuatu apapun. Apakah lagi jika kalian hidup sendiri di hutan tanpa pernah mendengar dan melihat seorang mukmin yang diperingatkan dengan iman dan kafir setiap detik (bagi yang sadar). Kalian akan seperti monyet yang menggulung pisang bertuliskan ‘kafir’ namun kalian marah-marah dengan tulisan itu.

    Jika FFI Idol sangat meyakini sesuatu di pikirannya sebagai Tuhan semesta alam, seharusnya kalian berkata kepada kami: “Aku berlindung kepada …, sesungguhnya dia tuhanku dan tuhanmu.”

    Mempertanyakan kehendak
    FFI Idol: Mengapa harus menyesatkan?
    Muslim: Apakah pertanyaan ini sungguh sikap untuk dirinya sendiri atau sekedar berkata tentang keadaan?

    Jika sungguh-sungguh, maka dia telah melihat petunjuk namun tidak mau mengikuti. (Sedikit membahas tentang ‘melihat’.) Tidak, saya salah. Yang lebih ‘presisi’ untuk jawaban tentang ‘melihat’ adalah kalimat dalam Al-Quran: “mempunyai mata yang dengan itu mereka dapat melihat”. Saya yakin semua pasti mudah memahami kalimat tersebut, tapi tahukah bahwa kalimat tersebut lebih dalam karena berkaitan dengan momen. Tak akan dipercaya bahwa saat itu terdapat kejadian tunggal. Bagi orang yang sudah memahami dan pernah menyelaminya dan tak percaya hal itu terdapat dalam sebuah kalimat, mungkin akah berkata itu sihir; bukan, itu bukan sihir, itu nyata. (Lupakan istilah kejadian tunggal, ayat tentang ‘melihat’ menyiratkan seolah-olah ALLAH sedang mengajari kita yang buta untuk ‘melihat’ saat membaca ayat tersebut, seolah-olah kita baru diciptakan sebelum membaca ayat tersebut.)

    Baiklah, lupakan pernyataan kalian tentang ‘tuhan tidak mampu terjamah pikiran manusia yang terbatas’. Karena untuk mempertanyakan ada beberapa jenis pertanyaan:
    Sikap seorang yang mencari dalam penuh ketidakberdayaan: “Mengapa Tuhanmu menyesatkanku?” atau “Mengapa ALLAH menyesatkanku?” Salah, jika tidak ingin dianggap tidak sopan, maka: “Mengapa Tuhanmu membiarkanku sesat?” atau “Mengapa ALLAH membiarkanku sesat?”
    Sikap seorang laki-laki JANTAN (bukan seperti pejantan peiklan rokok, para peiklan rokok pernahkah kalian mendengar tentang wahyu yang ALLAH turunkan kepada Nabi Daud as tentang apa itu laki-laki jantan. Ialah menghadap kepada-Nya setelah berbuat dosa, bukan lari menjauh. Dan tahukah apa itu laki-laki jantan bagi pemuda mukmin, ialah berjihad di jalan ALLAH. Kalian keterlaluan dalam menggunakan ‘laki-laki’ dan ‘kejantanan’ untuk sesuatu yang kalian habiskan dalam beberapa menit saja, padahal Nabi Sulaiman as menghabiskan malam bersama 3000 istrinya dalam satu malam demi melahirkan seorang anak yang akan ia didik untuk berperang di jalan ALLAH) dan “menghadap” (bertanya): “Mengapa Engkau menyesatkanku, bukankah dulunya aku mendapat petunjuk?”, yang lebih sopan lagi: “Mengapa Engkau menggolongkan aku sebagai orang yang sesat?”

    Tentu saja sebenarnya kalian tak perlu bersusah payah memikirkan sesat dan petunjuk, karena keduanya adalah paket yang disebutkan dalam ajaran kami yang kalian anggap sesat, bukan?

    ALLAH telah mengatakan bahwa Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Dan setan (yang putus asa) pun bersemangat menyesatkan manusia. Tapi, tak ada satu setan pun yang memberi petunjuk dan mampu memberi petunjuk. Petunjuk itu milik ALLAH sendiri.

    Jawaban untuk setan yang mencoba menyesatkan Arnold Schwarznegger di film “End of Days”, dengan mempertanyakan Tuhan yaitu ‘ketika kau benar, Tuhan ingin disebut, namun ketika kau salah tiba-tiba Dia menghilang.':

    Akhlak/Sunnah
    Mukmin: Jika benar, maka itu dari ALLAH. Jika salah maka itu dari kami sendiri.
    ALLAH: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri…”. “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah”. “Maha benar ALLAH dengan segala firman-Nya”. “Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya…”
    PEMAIN (First Person View) sepakbola: Menutupi wajah dengan tangan mereka sendiri KETIKA GAGAL. Saling memuji rekannya KETIKA SUKSES. Kejadian di lapangan silahkan saksikan sendiri. Dialog di konferensi pers silahkan dengarkan sendiri.

    Kafir: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya.”

    SUPORTER (Third Person View) sepakbola (kepada mereka yang berlebihan: “kumpulan orang posesif”): Mengamuk pada wasit, pemain lawan, dan bahkan pemainnya sendiri, hingga stadion, mobil, dan suporter lawan, kalah judi (KETIKA GAGAL). Ngaramekeun (meramaikan), minum-minum, mabuk, pesta, sampai bikin kaos: “Ceuk MAUNG ge naon” atau “Bukan salah THE JACK jika juara”, menang judi (KETIKA SUKSES).

    Jika tidak mengikuti akhlak/sunnah, maka itu akan merusak suasana…

    Orang-orang, hari ini sangat mencintai perbedaan, dan jika ALLAH menghendaki tentu kita dijadikan satu umat saja, tapi ketika memilih menyebut iman atau kafir, untuk memperlihatkan perbedaan (sebagai unsur penting untuk menyebut ‘perbedaan’) yang dicintai, mereka terlihat bisu. (Di luar kekuasaan kami) disebut kafir tidak mau, tapi tidak mau mengatakan iman.

    Ibarat disodori pertanyaan dengan pilihan ganda, yang beruntungnya Anda sudah mengetahui jawabannya, namun memikirkan penilaian orang lain atas jawaban benar Anda. “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf [12]: 106)

    Akhirnya…
    Sekarang giliran saya bertanya pada FFI Idol, “Apakah kalian (FFI Idol) merasa teraniaya dengan kata ‘kafir’ dari agama ini?”
    Jika tidak, sebaiknya mulai sekarang kalian diam.
    Jika ya, rasanya semua orang tahu jawabannya. Pergilah mencari iman.

    “Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.” (QS. Qaf [50]: 29)

    “Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.” Perhatikan ini adalah jawaban ALLAH dalam dialog sambil kalian membacanya dan memperhatikan sikap kalian selama ini.

    Sudah seharusnya kalian berhenti mencaci kaum muslimin. Ketika kalian sibuk menyatakan ‘murtad’, ‘sesat’, ‘kafir’, mereka telah menyadari sepenuhnya bahwa suatu hari ALLAH yang mereka sembah, akan menguji mereka baik dengan kekurangan atau kelebihan. Dengan itulah kalimat kesetiaan akan terucap. Mereka terus berusaha mematuhi-Nya. Pasrah dan berserah diri (‘terkoneksi’ dalam hati, lisan, perbuatan). Tidak seperti kalian, senang hanya ketika sesuai angan-angan kalian, namun menolak ketika tidak sesuai. Bahkan jika kalian menyembah sesuatupun, kalian tidak akan pernah mendapat manfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s