Permusyawaratan Iblis

Oleh: Muhammad Iqbal
(Sumber: Abu’l-Hasan Ali Al-Nadli, “Islam Membangun Peradaban Dunia” (diterjemahkan oleh Drs. M. Ruslan Shiddieq), Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya dan PT Djambatan, Cet. I, 1988, hal 362)

Diceritakan, para setan dan komplotan-komplotan iblis dan para pendukungnya berkumpul dalam suatu majelis permusyawaratan dan berdiskusi tentang perjalanan dunia serta berbagai krisis dan bencana yang mengancam masa depan mereka serta tentang kekhawatiran mereka pada ancaman terhadap pola kehidupan iblis dan kepentingan setan.

Mereka memperbincangkan berbagai kemungkinan bahaya yang mengepung mereka. Salah satu dari setan-setan itu memperingatkan bahaya republik dan memperhitungkannya benar-benar. Setan kedua menjawab, “Tak usah khawatir dengan republik; ia hanyalah monarki terselubung; dan justru kitalah yang menciptakan selubung republik itu untuk monarki. Ketika kita tahu bahwa manusia mulai menyadari harga dirinya dan mengkhawatirkan pemberontakan mereka terhadap pola hidup kita yang seringkali berakibat fatal, maka kita ciptakan paham republik itu untuk menipu mereka. Tak ada bedanya presiden atau raja. Monarki tidak terbatas pada kekuasaan sewenang-wenang dari seorang raja. Yang dinamakan monarki ialah jika manusia hidup bergantung pada orang lain, selalu mengincar harta milik orang lain, baik dalam bentuk bangsa atau individu. Tidakkah Anda melihat sistem republik di Barat yang di luarnya kelihatan berseri-seri, namun sebenarnya jiwanya lebih gelap daripada jiwa Jengis Khan.”

Iblis yang lain menjawab, “Kalau begitu sistem republik itu tidak berbahaya, asalkan jiwa monarkinya tetap ada. Tetapi apa yang akan dikatakan oleh anggota dewan yang terhormat terhadap bencana besar yang disebarkan oleh si Yahudi yang menamakan dirinya Karl Marx – yang bukan nabi tapi meninggalkan kitab suci untuk para pengikutnya itu? Apakah anda meramalkan bahwa ia akan bisa membangkitkan kaum proletar melawan kaum borjuis birokrat dan menciptakan tata aturan dunia baru sehingga mengguncangkan sendi-sendi kekuasaan dan pemerintahan yang ada?”

Setan yang lain pun berpidato ditujukan kepada pimpinan sidang, “Saudara Ketua yang mulia, para tukang sihir Eropa itu, walaupun mereka adalah murid-murid Anda yang setia, namun saya belum yakin akan semangat mereka itu. Lihatlah si Samiri Yahudi itu yang merupakan duplikat Mazdak (tokoh sosialisme Persia) yang hampir membinasakan dunia dengan prinsip-prinsipnya yang membuat kaum proletar berani berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan para raja. Semula kita memandang ringan pada propaganda gerakan sosialisme ini, tapi sekarang itu benar-benar telah membahayakan masa depan dunia kita. Saudara, dunia yang Saudara pimpin ini akan ambruk menimpa Anda, dan situasi dunia pun akan terbalik.”

Maka Iblis, pimpinan majelis itu, berbicara, “Aku punya kuasa atas dunia ini; aku bisa menentukan hitam putihnya sekehendak hatiku. Dan dunia pun akan kagum ketika aku berhasil mengadu domba bangsa-bangsa Eropa sehingga saling menggigit bagaikan anjing, saling menerkam seperti serigala. Manakala aku berbisik di telinga para pemimpin politik dan pemimpin rohani, mereka pun kehilangan akal sehat dan menjadi gila. Adapun yang kalian sebut-sebut sebagai sosialisme itu, yakinlah bahwa naluri manusia tidak bisa dibelokkan begitu saja oleh logika Mazdakisme (filsafat sosialisme). Orang-orang sosialis terkutuk dan para proletar tolol itu tak akan membuatku takut.

Jika aku harus merasa takut, maka yang kutakuti ialah suatu umat yang senantiasa memendam semangat hidup dalam hati nuraninya, yang memiliki orang-orang yang senantiasa khusyuk beribadah siang dan malam dan air matanya mengalir lantaran takut kepada Allah. Tak salah lagi, bagi orang yang cerdik dan punya firasat, Islamlah yang merupakan bencana dan ancaman masa depan, bukan sosialisme.

Aku tidak menutup mata bahwa umat ini memang telah berpaling dari ajaran Al-Qur’an, dan telah terpukau oleh harta dunia, sibuk mengumpulkan dan menyimpannya, tak ubahnya seperti bangsa-bangsa lain. Aku maklum bahwa dunia Timur sedang gelap gulita, dan bahwa para ulama Islam dan tokoh-tokohnya tidak memiliki cahaya penerang bagi kegelapan dunia itu; tetapi aku khawatir kalau-kalau segala bencana dan ujian umat Islam sekarang ini justru akan membangkitkan mereka dari tidurnya dan membawanya kembali kepada hukum syariat yang telah kuperingatkan kalian akan bahayanya, yakni syariat yang bersumber dari agama Muhammad — agama yang melindungi kehormatan dan menjaga harga diri manusia, agama kemuliaan dan keagungan, agama keterpercayaan dan kesucian jiwa, agama keagungan, agama kepribadian luhur dan heroisme, agama pertahanan dan perjuangan yang menghapuskan segala bentuk perbudakan dan melenyapkan segala manifestasi penindasan manusia atas manusia (exploitation de ‘l homme par ‘l homme) yang tidak membeda-bedakan antara sang raja dan si budak, yang tidak mengistimewakan penguasa dan merendahkan kaum nestapa, yang membersihkan harta benda dari kekotorannya hingga bersih jernih sehingga kaum hartawan menjadi orang-orang yang terpercaya yang mendapat kepercayaan Allah sebagai khalifah (pengelola) harta mereka; lalu adakah suatu gerakan revolusioner yang lebih besar dan lebih berbahaya daripada gerakan yang dibangkitkan oleh agama Islam ini ke dalam alam pikiran dan perbuatan ketika agama itu berseru bahwa bumi dan segala isinya ini milik Allah, bukan milik para raja dan penguasa.

Karena itu kerahkanlah segenap upaya kalian untuk menjauhkan agama itu dari perhatian manusia. Yakinlah bahwa orang Muslim itu sendiri lemah kepercayaannya kepada Tuhannya, tipis imannya kepada agamanya. Maka tak ada alternatif lain bagi kita selain membiarkan si Muslim sibuk dengan ilmu-ilmu filsafat teologi dan interpretasi ayat-ayat kitab suci. Tutuplah telinga Muslim, karena ia bisa mematahkan mantra-mantra dunia dan menggagalkan sihir kita dengan azan dan takbirnya. Usahakan benar-benar agar si Muslim lebih lama tertidur nyenyak. Wahai Saudara-saudaraku kaum setan, usahakanlah agar si Muslim lalai dari bekerja keras sehingga ia tertinggal dalam persaingan dunia. Akan tetapi lebih baik bagi kita jika Muslim tetap menjadi budak sesamanya dan menjauhi kehidupan dunia ini dan menyerahkannya kepada orang lain karena tidak menyukainya dan menganggap kecil peranannya. Alangkah celakanya kita seandainya umat Islam sadar dan bangkit memimpin dan menyelamatkan dunia dari kehancurannya, sebagaimana diserukan oleh agamanya.”

——————————————————————————————————————————————————

“Komunisme adalah upaya untuk mendistribusikan kemiskinan dan kemelaratan. Kapitalisme adalah persekongkolan dari sejumlah kecil manusia untuk mencuri hak orang banyak. Sosialisme adalah kosmetik untuk memperindah wajah komunisme dan kapitalisme.” (Kutipan)

——————————————————————————————————————————————————

0 Responses to “Permusyawaratan Iblis”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply




Palestine Blogs - The Gazette

Authors

 

October 2009
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Stats

  • 9,999 hits